Friday, 31 October 2014

Buli-Buli Minyak dan Mukjizat Tuhan

Ayat bacaan: 2 Raja Raja 4:1
======================
“Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

buli-buli minyakDalam perjalanan pulang pergi dari rumah saya harus selalu berhadapan dengan kondisi jalan yang beragam. Tidak selamanya jalan yang saya lalui itu baik. Ada bagian yang mulus, ada yang berbatu-batu, malah ada yang berlubang. Ada jalan yang datar, ada yang terjal dan ada juga yang menurun. Perjalanan hidup kitapun seperti itu. Ada kalanya situasi baik dengan peningkatan, ada kalanya stabil, tapi ada waktu-waktu dimana kita harus mengalami situasi yang tidak menyenangkan atau bahkan penuh penderitaan. Ketika mengalami situasi menderita seperti itu, apa yang kita lakukan? Ini sebuah pertanyaan yang penting untuk kita renungkan, karena ada banyak orang termasuk orang percaya sekalipun yang menyikapinya dengan bersungut-sungut, kecewa kepada Tuhan, meragukanNya dan sebagainya. Tidak jarang pula yang akhirnya mengambil jalan yang salah, mengira jalan yang mungkin terlihat pintas dan menjanjikan itu sepertinya baik. Padahal mereka tengah menjerumuskan diri mereka lebih dalam lagi ke dalam kehancuran. Ketika menghadapi pergumulan berat, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Hari ini marilah kita melihat sekelumit kisah mengenai seorang janda dengan dua anak dalam kitab 2 Raja Raja. “Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.” (2 Raja Raja 4:1). Apa yang dihadapi janda ini sungguh berat. Sudah tidak ada suami, ia kemudian terlilit hutang dan harus terancam kehilangan kedua anaknya untuk melunasi hutang. Penagih hutang sudah datang, dan ia harus siap-siap untuk segera kehilangan anaknya yang sebentar lagi akan dijadikan budak. Bagaimana mungkin ini semua terjadi ketika suaminya dengan jelas dikatakan sebagai hamba Tuhan yang taat? Tapi itulah yang dialami oleh ibu janda ini. Untunglah ia tidak terjebak untuk mengambil keputusan yang salah dan mengambil sikap benar. Ia memilih untuk membawa persoalannya kepada Elisa dan tidak memilih untuk berputus asa, mencari kambing hitam dan lain-lain. Elisa pun kemudian bertanya apa yang bisa ia perbuat bagi ibu itu. Menariknya, Elisa menanggapi seperti ini. “Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.” (ay 2). Perhatikan, Elisa bukannya segera memberi uang atau bereaksi secara langsung, tetapi ia menanggapi dengan menanyakan apa yang dipunyai si ibu. Sebagian orang mungkin akan marah dan segera pergi meninggalkan Elisa. Tapi si ibu menjawab bahwa ia tidak punya apa-apa lagi selain sebuah buli-buli berisi minyak. Perhatikan pula penekanan ibu janda ini berada pada ketiadaan, bukan kepada apa yang masih ia miliki. Tapi setidaknya ia masih mengingat sebuah botol berisi minyak miliknya yang tersisa. Elisa kemudian berkata “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” (ay 3-4). Masuk akalkah itu untuk dilakukan? Secara logika kita tentu saja tidak. Tapi si ibu memilih untuk patuh dan melakukan persis seperti apa yang diminta Elisa. Ajaib! Si ibu ternyata bisa terus menuang minyak memenuhi bejana demi bejana sepenuhnya. Minyaknya tidak berhenti mengalir sampai seluruh bejana yang ada terpenuhi. (ay 5-6). Dan si ibu pun dengan sukacita kembali datang memberitahukan mukjizat Tuhan itu kepada Elisa. Dan Elisa pun berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.” (ay 7).

Tuhan sanggup mengucurkan mukjizatNya secara instan, itu pasti. Namun seringkali jalan yang dipakai Tuhan adalah melimpahkan berkatNya melalui apa yang kita punya. Itu jauh lebih mendidik ketimbang menjadikan kita pribadi-pribadi yang manja yang mau memiliki segalanya tapi tidak mau berusaha. Seperti yang pernah beberapa kali saya katakan, Tuhan lebih suka memberi kail atau pancing dan menyediakan ikan di laut ketimbang menurunkan hujan ikan tepat di atas kepala kita. Tuhan menyukai sebuah proses, dan Tuhan senang ketika kita mengetahui apa yang kita miliki lalu mempergunakannya. Tuhan tidak suka orang yang hanya mengeluh dan mencari kambing hitam tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang ia miliki dan apa yang bisa dilakukan dengan itu. Ibu janda ini diberkati melimpah lewat harta satu-satunya yang masih ia miliki secara ajaib. Tidak hanya sanggup melunasi hutangnya tetapi juga mendapatkan lebih dari itu yang bisa ia pergunakan untuk menghidupi keluarganya. Ia memang masih harus menjual terlebih dahulu, tetapi bukankah itu sudah sangat luar biasa dibandingkan harus kehilangan kedua anaknya? Hanya lewat minyak sebotol mukjizat Tuhan bisa mengubah keadaan dalam seketika. Dan Tuhan lebih dari sanggup untuk itu. 

Dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan ribuan orang pun kita bisa mendapati hal yang sama. Yesus tidak membuat mukjizat secara langsung dengan menurunkan hujan makanan dari langit, tetapi Dia menanyakan apa yang masih ada pada mereka. “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” (Markus 6:38). “Periksalah dahulu apa yang masih kamu miliki.” Kira-kira seperti itu yang dikatakan Yesus. Dan dari lima roti dan dua ikan itu ternyata sanggup mengenyangkan ribuan orang, malah masih bersisa banyak. Sekali lagi dalam kisah ini kita bisa melihat cara apa yang disukai Tuhan untuk menolong dan memberkati anak-anakNya.

Kita harus sadar bahwa tidak ada satupun hal yang mustahil bagi Tuhan. KuasaNya jelas berada di atas segalanya. Firman Tuhan berkata “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yeremia 32:27). Dan kuasa tak terbatas Tuhan ini dengan senang hati Dia berikan kepada anak-anakNya yang mau percaya sepenuhnya kepadaNya. Yesus mengatakan “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Dalam hidup ini kita akan senantiasa berhadapan dengan berbagai tantangan yang kadang ringan tetapi bisa pula berat dan bertubi-tubi. Bersabarlah menghadapinya dan tetap hidup dengan pengharapan sepenuhnya kepada Tuhan yang punya kuasa di atas segalanya. Dan jangan lupa pula untuk memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita. Talenta kita, kemampuan kita, atau hal-hal lain yang masih kita miliki. Seberapapun tidak berartinya itu bagi kita, Tuhan sanggup mempergunakan bahkan melipatgandakan itu untuk menurunkan mukjizatNya hingga berkelimpahan. Masalah berat boleh saja hadir, tetapi jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan dan jangan abaikan kemampuan atau apapun yang ada pada kita. Apa yang anda miliki, meski kecil sekalipun, itu juga merupakan berkat Tuhan bagi anda. Pakailah itu dan lihatlah bagaimana Tuhan bisa mempergunakan hal yang “kecil” itu untuk membuat hal-hal besar, bahkan hingga berkelimpahan. Tuhan sanggup mempergunakan apa yang dianggap tidak berarti bagi manusia untuk melakukan perkara besar.

Apa yang ada pada anda? Periksalah!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Other articles you might like;

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Buli-Buli Minyak dan Mukjizat Tuhan"

Response on "Buli-Buli Minyak dan Mukjizat Tuhan"