Bulan Maria 2018 di Katedral St. Yosef Pontianak: 1.000 Mawar dan Perarakan Patung Maria dengan Lilin Menyala

Doa Rosario bersama di Plaza Pieta samping Wisma Keuskupan Pontianak.

MENDEDIKASIKAN bulan Mei sebagai Bulan Maria merupakan tradisi populer di Gereja Katolik. Ketika masuk bulan Mei, seluruh Gereja Semesta mengelar berbagai kegiatan khusus untuk menghormati Bunda Maria. Misalnya, berdoa Rosario dari rumah ke rumah, ziarah ke gua Maria, mengadakan baksos amal ke panti-panti, dan sebagainya.

Aksi serupa juga dilakukan oleh umat Katolik Paroki St. Yosef Katedral Pontianak.  Namun, umat paroki katedral St. Yosef Pontianak ini memiliki cara khas tersendiri dalam menyambut bulan Maria. Mereka mengelar aksi seribu kuntum mawar, lilin menyala,  dan prosesi perarakan patung Bunda Maria.

Ada hal yang menarik.  Dari ketiga seremonial di atas ada aksi seribu mawar didekor di depan patung ‘Bunda Maria Ratu Semesta Alam’ yang menyerupai bentuk hati dengan kombinasi dua warna yaitu merah dan putih.

Nilai rohani yang terungkap dari dekorasi seribu mawar ini melambangkan persatuan seluruh umat Katolikdi seluruh jagat raya. Bentuk hati itu melambangkan hati seluruh umat yang senantiasa terarah kepada Tuhan, utuh bersatu tak terpisahkan dan selalu berada dalam lindungan cinta kasih keibuan Bunda Maria sebagai Bunda Gereja.

“Dekorasi 1.000 mawar bentuk hati dengan kombinasi warna merah dan putih itu Indonesia banget. Ini melambangkan persatuan seluruh umat Katolik di Indonesia yang beraneka ragam dan saling mendoakan,” ungkap Supia yangterharu dengan kegiatan prosesi pembukaan Bulan Maria kali ini.

Prosesi perarakan patung Maria.

Kegiatan yang diprakarsai oleh komunitas doa Legio Mariae KAP ini diawali dengan doa Rosario bersama di depan Plaza Pieta samping Wisma Keuskupan Agung Pontianak  pukul 17.15 WIB,1 Mei 2018.  Meskipun hujan deras tengah menguyur Kota Pontianak disertai dentuman halilintar yang memekakkan telinga, namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme umat mengikuti prosesi perarakan yang dimulai dari Plaza Pieta menuju ke Gereja Katedral.

Sekitar ribuan umat hadir mengikuti prosesi perarakan tersebut dengan memegang lilin bernyala dan sambil mendaraskan doa Salam Maria. Kegiatan pembukaan Bulan Maria ini memberi kesan manis di kalangan umat Katedral. Syering iman terlontar dari ungkapan Marselia. Ia mengaku terharu dengan prosesi perarakan patung Bunda Maria saat memasuki Katedral.

Remaja putri yang mengaku masih  mahasiswi ini kagum dengan cara umat Katolik dalam mengungkapkan iman dan penghormatannya kepada Bunda Maria. “Bunda Maria itu merupakan tempat saya selalu berbagi kisah hidup baik suka maupun duka. Ia bagaikan seorang ibu yang selalu ada kapan pun saya membutuhkan,”ungkapnya penuh iman.

Gemerlap ribuan cahaya lilin memenuhi gedung Gereja Katedral disertai dengan lantunan lagu-lagu bertema Maria yang merdu semakin menambah semaraknya seremonial misa pembukaan Bulan Maria yang dipimpin oleh Romo Astrono Aji OFMCap, pembimbing rohani persekutuan doa Legio Mariae KAP dan Romo Alexius Alek Pr, pastor Paroki St. Yosef. Katedral Pontianak.

Perarakan dengan prosesi lilin menyala.

Berbicara dalam pengantarnya, Romo Aji memperkenalkankan secara singkat sejarah Bulan Maria. Sejatinya,  tradisi Gereja Katolik mendedikasikan bulan Mei sebagai Bulan Maria sudah ada sejak tahun 1883. Menurut sejarahnya, praktik dipopulerkan oleh ensiklik rosario yang dikeluarkan oleh Paus Leo XII di awal 1883 dan kemudian diulangi lagi di akhir tahun 1889 di mana Paus menulis 12 ensiklik tentang Rosario dan 5 Surat Apostolik tentang Rosario.

“Teladan Bunda Maria dalam melaksanakan kehendak Allah, dalam kesetiaan serta imannya yang kokoh, hendaknya menjadi contoh bagi seluruh umat. Mari mengawali perziarahan iman kita pada pembukaan Bulan Maria ini dengan tekun mendaraskan wujud doa-doa kita yang terus-menerus melalui perantaraan Bunda Maria,”ungkap imam Ordo Kapusin ini sembari mengajak umat untuk mendoakan juga para gembala gereja yakni Paus, Uskup, Imam dan Diakon.

Sedangkan Romo Alexius Alek Pr dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat yang hadir, secara khusus kepada kelompok persekutuan doa Legio Mariae KAP yang telah berpartisipasi mempersiapkan kegiatan pembukaan Bulan Maria di Paroki St. Yosef Katedral.

“Tradisi menyambut Bulan Maria tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Maka dari itu apa yang menurut kita baik perlu dilanjutkan. Ini agar  ke depannya semakin lebih baik lagi perayaannya. Partisipasi dari Legio Mariae sangat kami butuhkan guna membantu para pastor untuk menyelenggarakannya perayaan pembukaan Bulan Maria seterusnya,” ungkapnya.

Setelah berkat penutup, seluruh umat diundang berarak menuju ke Plaza Maria, samping Katedral untuk menyampaikan doa dan puji-pujian khusus menghormati Bunda Maria.

Kredit foto: Dimas  dan Adiwardi

Sr. Maria Seba SFIC Suster biarawati SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) kelahiran Lubuk Sabuk, Sanggau; sekarang ditugaskan belajar di Politeknik Tonggak Equator Jurusan Business English and Management di Pontianak, Kalbar.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: