Buku “Nada untuk Asa”, Ketika Positif Jadi Negatif

nada untuk asa 2KEMATIAN punya berbagai wajah; Kematian fisik ketika nafas terhenti dan segala tanda vital tubuh melemah kemudian terdiam. Kematian juga bisa terjadi pada raga yang masih berfungsi tetapi jiwa yang tak berdenyut lagi. Mana yang lebih baik? Menurut Ita Sembiring, penulis novel Nada untuk Asa, “Hidup mesti berasa dalam kematian lebih baik daripada mati dalam sebuah kehidupan yang berjalan” (halaman 103). Inilah inti dari novel ini dan film Nada untuk Asa yang akan serentak diputar di jaringan bioskop 21/XXI/Blitz pada 5 Februari 2015. Ide novel ini memang bersumber pada skenario film yang ditulis dan sekaligus disutradarai oleh Charles Gozali tersebut. Meminjam kata Charles pada saat road show film di Unika Atma Jaya, “Ini film tentang berani hidup, bukan berani mati.” (Baca juga: Film Gres “Nada untuk Asa’, Kisah Ibu Berani Hidup) Buku novel setebal 195 halaman ini diterbitkan oleh Komunitas Sahabat Positif, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), sebagai salah satu rangkaian kegiatan berkaitan dengan Nada untuk Asa. (Baca juga: “Nada untuk Asa”, Harapan Jadi Energi Positif di KAJ) Meski tergolong tipis, novel ini menawarkan cerita panjang pergulatan sebuah keluarga terutama perjuangan dua wanita beda generasi yang terkena kata bertuah ‘positif’. Positif yang biasanya membawa kegembiraan, rasa syukur dan mengundang ucapan selamat disertai senyum bahagia dari kiri kanan, kali ini maknanya laksana beda malam dan siang atau pun langit dan bumi – positif yang tak terperih negatifnya. Awal membaca novel ini pembaca akan disuguhi judul tiap bab yang singkat tapi sarat makna. Kemudian puisi-puisi pendek yang terangkai dalam bahasa artistik di awal setiap bab dari total delapan bab tersebut. Ini menjadi pembeda menarik karya tulis ini dibanding novel-novel sejenis yang berdesakan di pajangan toko buku. Buku telah dicetak, teater telah dipentaskan, tinggal kita menanti layar lebar bioskop menghidupkan film bermakna ini. Mengutip pengantar dari Mgr. Ignatius Suharyo dalam kapasitasnya sebagai Uskup Agung KAJ, semoga usaha-usaha ini menjadi salah satu cara untuk semakin mendalami iman dan membangun kepedulian, serta mengangkat kesadaran kita untuk selalui menghargai kehidupan dan menjunjung tinggi martabat manusia dengan mencintai sesama manusia dalam keadaan apa pun sebagai citra Allah. Selamat menonton.

nada untuk asa 2

KEMATIAN punya berbagai wajah; Kematian fisik ketika nafas terhenti dan segala tanda vital tubuh melemah kemudian terdiam. Kematian juga bisa terjadi pada raga yang masih berfungsi tetapi jiwa yang tak berdenyut lagi. Mana yang lebih baik?

Menurut Ita Sembiring, penulis novel Nada untuk Asa, “Hidup mesti berasa dalam kematian lebih baik daripada mati dalam sebuah kehidupan yang berjalan” (halaman 103). Inilah inti dari novel ini dan film Nada untuk Asa yang akan serentak diputar di jaringan bioskop 21/XXI/Blitz pada 5 Februari 2015.

Ide novel ini memang bersumber pada skenario film yang ditulis dan sekaligus disutradarai oleh Charles Gozali tersebut. Meminjam kata Charles pada saat road show film di Unika Atma Jaya, “Ini film tentang berani hidup, bukan berani mati.” (Baca juga: Film Gres “Nada untuk Asa’, Kisah Ibu Berani Hidup)

Buku novel setebal 195 halaman ini diterbitkan oleh Komunitas Sahabat Positif, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), sebagai salah satu rangkaian kegiatan berkaitan dengan Nada untuk Asa. (Baca juga: “Nada untuk Asa”, Harapan Jadi Energi Positif di KAJ)

Meski tergolong tipis, novel ini menawarkan cerita panjang pergulatan sebuah keluarga terutama perjuangan dua wanita beda generasi yang terkena kata bertuah ‘positif’. Positif yang biasanya membawa kegembiraan, rasa syukur dan mengundang ucapan selamat disertai senyum bahagia dari kiri kanan, kali ini maknanya laksana beda malam dan siang atau pun langit dan bumi – positif yang tak terperih negatifnya.

Awal membaca novel ini pembaca akan disuguhi judul tiap bab yang singkat tapi sarat makna. Kemudian puisi-puisi pendek yang terangkai dalam bahasa artistik di awal setiap bab dari total delapan bab tersebut. Ini menjadi pembeda menarik karya tulis ini dibanding novel-novel sejenis yang berdesakan di pajangan toko buku.

Buku telah dicetak, teater telah dipentaskan, tinggal kita menanti layar lebar bioskop menghidupkan film bermakna ini. Mengutip pengantar dari Mgr. Ignatius Suharyo dalam kapasitasnya sebagai Uskup Agung KAJ, semoga usaha-usaha ini menjadi salah satu cara untuk semakin mendalami iman dan membangun kepedulian, serta mengangkat kesadaran kita untuk selalui menghargai kehidupan dan menjunjung tinggi martabat manusia dengan mencintai sesama manusia dalam keadaan apa pun sebagai citra Allah.

Selamat menonton.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply