Bukan Kemampuan, tetapi Kemauan

Ayat bacaan: Yesaya 6:8
================
“Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

bukan kemampuan tapi kemauan

Bulan Desember 2007. Itulah kali pertama saya mulai menulis renungan harian. Tidak terasa sudah sekarang sudah memasuki tahun ke empat. Itu artinya saya sudah rutin menulis setiap hari selama itu. Semua berawal dari panggilan Tuhan kepada saya pada suatu kali sepulang dari gereja untuk mulai melayaniNya untuk komunitas dunia maya. Saya sempat ragu, karena jujur saja, bagaimana saya bisa menulis setiap hari tanpa punya dasar apa-apa? Saya bukan siswa sekolah pendeta. Jangankan itu, membaca alkitab saja sangat jarang. Saya tidak tahu mengapa saya diminta untuk melakukan itu. Apa yang saya pikirkan adalah batasan kemampuan saya, yang mungkin hanya sanggup menulis beberapa hari dengan apa yang saya ketahui. Maka saya pun berkata, “saya ini bisa apa?” Jelas, menurut saya ada milyaran orang yang akan jauh lebih baik dan punya dasar untuk melakukannya. Tapi dengan jelas saya mendengar apa kata Tuhan dalam hati saya setelahnya, “bukan bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak.” Saya memilih untuk menerima tugas yang sangat berat ini, yang menurut saya seperti mission impossible. Dan tanpa sadar sekarang saya sudah memasuki tahun keempat. Ada begitu banyak pengalaman yang saya alami dalam empat tahun belakangan ini. Keajaiban kuasa Tuhan, penyertaanNya, kebaikanNya, hal-hal yang tidak masuk logika manusia semua nyata saya saksikan sendiri. Dan sayapun tidak pernah tertarik untuk menulis siapa saya yang ada dibelakang renungan-renungan ini, karena saya menyadari betul saya cuma perantara saja yang tidak ada apa-apanya. Semua kredit mutlak merupakan hak Tuhan.

Keraguan, itu akan selalu hadir ketika kita dihadapkan kepada sebuah tugas, panggilan atau katakanlah tantangan. Logika kita akan segera mengukur batas kemampuan kita, dan di saat ukuran kita tidak sebanding dengan besarnya tanggungjawab yang dibebankan, maka keraguan pun segera muncul. Hal seperti itu pula yang dirasakan Musa ketika ia dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan untuk menuju tanah yang dijanjikan Tuhan. Musa langsung mengarahkan pandangan kepada keterbatasannya sebagai pribadi dan kelemahan yang dimilikinya. “Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Keluaran 3:11). Dan di pasal berikutnya kita bisa melihat bagaimana Musa memandang kecil dirinya sendiri. “Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (4:10). Berat mulut dan berat lidah, slow of speech and have a heavy and awkward tounge dalam bahasa Inggrisnya. Gagap? Entahlah. Tapi yang pasti Musa segera mengarah kepada kelemahannya dan lupa bahwa Tuhanlah sebenarnya yang menjadi aktor utamanya, bukan dia. Itulah yang kemudian diingatkan Tuhan. “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (3:14). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan “I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE.” Tuhan secara jelas menyatakan bahwa siapa Tuhan itu jauh lebih penting daripada siapa Musa. “Akulah Aku”, itu jauh lebih penting dari siapa aku. Tuhan tidak melihat kemampuan, kepandaian dan sebagainya dari diri kita, tetapi apa yang Dia minta adalah kemauan atau kesediaan kita. That’s it. Selebihnya, Dialah yang akan melakukan semuanya lewat diri kita.

Sebuah jawaban kontras bisa kita dapati ketika Yesaya berada dalam situasi mirip dengan mendapat panggilan Tuhan. Berbeda dengan Musa, Yesaya langsung menyatakan kesiapannya tanpa memandang kemampuannya. “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8). Singkat dan tegas reaksinya. “Here am I, send me.” Apakah Yesaya termasuk orang yang percaya diri berlebihan? Saya kira tidak. Saya yakin Yesaya pun tahu batas-batas kemampuannya sebagai manusia. Tetapi ia menyadari betul bahwa ia hanyalah seorang utusan, seorang hamba. Ia tidak perlu takut. Bukankah ia memiliki “Tuan” dengan kuasa yang tidak terbatas? Ini sebuah sikap yang seharusnya segera muncul dalam diri kita ketika Tuhan memberi sebuah tugas atau panggilan. Bukan segera melihat kekurangan atau keterbatasan kemampuan kita, tetapi segera mengarahkan pandangan kepada Sang Pemberi tugas. Bukan mengeluh, tetapi sudah sepantasnya kita bersyukur karena kita dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Bukan kemampuan kita yang penting, tetapi kemauan kita. Selebihnya biarkan Tuhan yang berkreasi diatas segalanya lewat diri kita.

Ada begitu banyak rahasia dibalik firman-firmanNya yang disingkapkan Roh Kudus selama saya aktif menulis. Selama empat tahun ini pula saya tidak pernah melewatkan seharipun tanpa firman Tuhan. Semakin dalam saya menelusuri Alkitab, semakin banyak pula rahasia-rahasia yang disingkapkan Tuhan untuk saya bagikan, dan semakin terbuka pula mata saya akan kuasa tak terbatas dibalik firman Tuhan. Hari ini saya bersyukur karena saya menerima penugasan ini di tahun 2007 yang lalu. Satu renungan artinya saya harus meluangkan waktu sekitar satu atau dua jam, tapi mengapa tidak? Saya melakukannya dengan penuh sukacita, dan masih tetap rindu untuk mendapatkan penyingkapan-penyingkapan lainnya dari hari ke hari. Saya senang dan bersyukur apabila selama 4 tahun ini saya bisa membagi berkat Tuhan kepada teman-teman dimanapun anda berada. Kemampuan saya sangat terbatas, tetapi “Tuan” yang meminta saya sungguh tidak terbatas. Itulah yang terpenting untuk kita sadari. Adakah panggilan Tuhan kepada anda yang hingga hari ini masih anda tunda karena ragu? Jangan tunda lagi, terimalah segera dan beranilah berkata seperti Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!”

Bukan kemampuan kita, tetapi kemauan kita, itulah yang diminta Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan kristen tentang kemauan
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: