Bukan Kebetulan

Pengemis di jalanan Kamboja  by Mathias Hariyadi

BERMULA dari suatu peristiwa saat berangkat kerja yakni melihat orang gila tanpa baju berjalan di jalan raya, saya tiba-tiba terpikir untuk selalu membawa pakaian pantas pakai di mobil. Lalu saya kumpulkan beberapa pakaian yang masih bagus dan saya simpan di dalam bagasi mobil. Saya akan memberikan pakaian-pakaian ini jika saya bertemu orang gila, terlebih yang tidak memakai baju, begitu batin saya.

Saya usir jauh-jauh pikiran buruk yang bisa menimpa saya apabila si orang gila yang hendak saya beri baju malah bersikap agresif atau menyerang saya.

Teman yang mendengar cerita saya langsung komentar, “Iiih ngeri bingiits…. nanti you malah ditampar, lho?

Lalu ia mewanti-wanti, “Ngapain sih mikirin orang gila? Mikir deh diri loe sendiri biar happy!”, ujarnya dengan mimik gemas.

Saya cuma tersenyum. Sebenarnya saya juga takut dan ragu apalagi saya pernah mengalami beberapa kejadian tidak menyenangkan dengan orang gila dan terakhir saya nyaris dikejar orang gila di stasiun kereta api Hangzhou, kota indah sedikit di luar Shanghai, Tiongkok, persis setahun lalu.

Masuk akal juga sih omongan teman saya ini tetapi entah mengapa suara hati saya mengatakan bahwa niat baik ini bukanlah mustahil dilakukan. Mereka juga manusia kok yang butuh makan, pakaian, rumah dan terlebih butuh perhatian dari orang lain. Saya yakin meski mereka hilang ingatan, mereka tetaplah manusia yang punya perasaan, yang butuh dicintai dan diperhatikan. Jadi berbekal keyakinan itu, saya simpan pakaian-pakaian itu di bagasi sambil berharap bisa ketemu dengan orang gila yang kemarin saya lihat di tepi jalan raya.

Beberapa minggu berlalu dan saya tidak menemukan orang gila yang saya maksud. Saya juga sudah hampir lupa dengan baju-baju itu. Sampai pada suatu pagi, saat memarkir mobil, tiba-tiba mata saya menangkap sesosok perempuan setengah tua, bertampang lusuh, kumal dan liar, rambutnya gimbal sedang memunguti sampah di dekat mobil saya. Meski lusuh namun ia berpakaian lengkap dan bertubuh agak gemuk. Ia mengais-ngais sampah lalu berjalan di area parkiran dan kemudian ia duduk di semen. Ia mengumpulkan sampah-sampah itu di situ.

Teman yang bersama saya sudah kelihatan ketakutan sewaktu orang gila itu tadi mendekati mobil. Dia bilang, “Tuh, bahayanya orang gila….ngeri, tau!”, katanya gusar.

Tak saya pedulikan kata-katanya. Saya segera turun dan membawa bungkusan baju yang sudah saya persiapkan.

“Mau ini?” tanya saya sambil mengulurkan bungkusan baju. Sejenak tidak ada respon, tetapi lalu ia mengambil bungkusan itu dengan kasar. Dibukanya sedikit bungkusan itu (dari caranya mengintip isi bungkusan saya menyimpulkan mungkin dia sudah sering dipermainkan sehingga ia perlu mengecek terlebih dahulu isi bungkusan itu).

“Ini untuk makan”, ujar saya lagi sambil memberi selembar uang sepuluh ribu. Tangannya mengambil uang itu dan dengan wajah cuek segera sibuk lagi dengan sampah-sampah yang ia pulung.

Saya segera berlalu dengan perasaan lega lantaran ia mau menerima pemberian saya dan tidak menyerang saya. Semoga baju tadi berguna dan ia bisa sarapan pagi, batin saya. Pandangan teman sayapun tak kalah leganya ketika melihat saya kembali masuk mobil dengan selamat. Rupanya ia memilih menunggu saya di dalam mobil. “Hadoh, kirain loe dicakar ,Ciin!”, serunya.

Saya tertawa dan langsung menstater mobil menuju kantor. Teman saya tidak tahu bahwa saya gembira bukan karena tidak dicakar/dipukul melainkan karena saya berhasil menyisihkan ego saya yang selalu memikirkan diri sendiri, kurang mensyukuri hidup dan kurang memberi untuk orang lain. Thanks God, saya mendapat pelajaran berharga ini.

Tentu bukan hal kebetulan kalau pagi itu saya bertemu orang yang hidupnya kurang beruntung dan justru orang malang itulah yang memberi saya kesempatan berbuat baik. Saya yakin ia dan saya hanyalah bagian dari alam semesta yang saling terkait satu sama lain, yang diciptakan untuk saling menolong dalam perjalanan hidup masing-masing.

Saya jadi teringat best quote karya Harun Yahya yang bernama asli Adnan Oktar (lahir pada tahun 1956 di Ankara, Turki), seorang penulis dan peneliti Islam.

“Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal sekecil apa pun yang terjadi karena kebetulan”.

Kredit foto: Seorang pengemis di jalanan Kamboja (Ilustrasi/Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: