Bukan Cita-cita Saya Menjadi Single Mother (5)

< ![endif]-->

SUNGGUH, menjadi single mother bukanlah cita-cita saya,” tutur seorang perempuan single mother (SM) pada sesi tanya jawab.

Ia sangat bersyukur mendapat pendampingan dan peneguhan dari saudara-saudaranya saat mengalami KDRT. Saat itu ia bingung ke mana mau mencari bantuan, tak ubahnya mencari-cari dalam kegelapan. Karena ketika menghadap romo paroki pun ia hanya mendapat secuil nasehat, “Doakan dan ampunilah suamimu.”

Namun kini ia merasakan keputusannya saat itu menjadi SM merupakan berkat bagi hidupnya. Hal serupa juga dirasakan oleh pasutri yang sekian tahun lalu dihadapkan pada kenyataan getir bahwa putrinya harus mengandung dan melahirkan tanpa suami. Kendati harus menghadapi pertanyaan bertubi-tubi tentang “ketidaklaziman” tersebut, pasutri ini bersyukur atas keteguhan sikap mereka untuk tetap mendampingi putri tercinta yang tidak memilih menggugurkan kandungannya.    

perempuan berjalan sendirian

Menjawab pertanyaan salah seorang SM yang sampai saat ini masih malu untuk mengungkap jati dirinya sebagai SM unwed dengan 1 anak usia 1 tahun lebih, Kristi menegaskan, “Silakan bohong, tapi jangan kelewatan.” Artinya, baik pada keluarga maupun pimpinan dan rekan-rekan kerjanya, jawablah keingintahuan mereka secara diplomatis namun terkesan elegan.

Contohnya, bila ada orang yang menanyakan, “Kamu sudah punya anak?” Daripada berbohong mentah-mentah, lebih baik katakan, “Maaf saya belum bisa katakan pada Bapak/Ibu.” Sebaliknya, keterbukaan pada anak sangat perlu mengingat anak akan selalu mencari figur ayahnya. Akan tetapi tak perlu tergesa-gesa. Jadi, carilah momen yang tepat supaya situasinya dirasa lebih nyaman bagi anak.

Menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana kita harus bersikap kalau ada yang melecehkan terkait dengan status sebagai SM, Kristi yang baru-baru ini memperoleh penghargaan dari International Council of Psychologist menjawabnya dengan lugas, ia mengingatkan para SM untuk jeli melihat bahwa semua masalah tidak selalu bersumber dari diri kita. “Belajarlah bersikap asertif. Sangat mungkin sumber masalah sebetulnya ada dalam diri si penggoda alias laki-laki yang melihat kesendirian kita dan berniat memanfaatkan status kita sebagai SM.”   

Menanggapi pertanyaan, “Benarkah SM unwed tidak boleh menjadi lektor”,

Romo Madya justru menganjurkan agar kita tumbuh menjadi pribadi Katolik yang senantiasa kritis sekaligus ikut mendidik para petinggi Gereja dan umat.

“Tantang saja. Tanyakan Hukum Gereja atau Kanon mana dan nomor berapa yang menyatakan larangan itu. Jika benar memang ada larangan semacam itu, minta orang yang melarang Anda menjadi lektor untuk menunjukkan Hukum Gereja tersebut pada Anda.”

Jawaban ini tentu saja menguatkan hati para SM, hingga langsung disambut aplaus meriah dari para peserta diskusi.  

pedagang perempuan di jalanan

Lebih lanjut Romo Madya menjelaskan bahwa yang menjadi penghambat relasi kita dengan Tuhan tak lain adalah diri sendiri. Kita tak berbeda dengan orang-orang munafik dalam Kitab Suci yang kerap menggerutu melihat keakraban Yesus dengan kalangan pendosa, “Orang berdosa kan mestinya dihukum, ngapain dekat-dekat dengan Yesus?” Padahal, tukasnya, “Yesus adalah Allah yang Maha Kasih, bukan Tuhan yang gemar menghukum.”

Kalaupun Yesus kerap menggunakan perumpamaan, tak lain untuk membuka pikiran manusia.

Contohnya, perumpamaan tentang domba yang hilang. Kendati hanya 1 ekor yang hilang, sebagai gembala yang baik Yesus akan mencarinya sampai ketemu, meski itu berarti IA sementara waktu harus meninggakan 99 ekor domba lainnya. Lalu setelah 1 ekor domba yang hilang ditemukan, ada kegembiraan luar biasa yang digambarkan dengan pesta meriah.

Padahal bisa jadi sebetulnya pesta itu sendiri lebih mahal dari harga domba yang hilang. Intinya, menjadi tugas kita semua untuk menemukan Allah yang sebenarnya, bukan Allah yang menuntut macam-macam syarat dari kita.

Kita tentu saja tidak bisa menutup mata terhadap realita mengenai banyaknya keluarga bermasalah. Lalu haruskah semua perkawinan dipertahankan sampai maut memisahkan jika janji perkawinan itu sendiri tidak lagi dihayati atau sudah menguap entah ke mana?

Bukankah bila salah satu atau bahkan keduanya sudah tidak setia, saling menyakiti, berarti sakramen perkawinan yang dihidupi dengan cinta sudah mati?

Intinya, Gereja (dalam hal ini pastor dan umat) perlu dididik untuk menyatakan kasih Allah secara nyata pada sesama, termasuk di antaranya terhadap SM, bukan sekadar memenuhi aturan ini-itu.  (Selesai)

Photo credit: Perempuan pedagang di jalanan Ho Chi Minh City (Saigon), Vietnam (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: