Budaya-Budaya Kejawaan Secara Global (2)

0
20

berebut tumpeng gunungan by tempo

BUDAYA-budaya Kejawaan lain di samping pandangan dunia secara ruang dan waktu, sebetulnya masih dapat direfleksikan. Baca juga: Budaya Kejawen 1 Syuro

1. Budaya wadhag

Contohnya:   seni (lukis, sastra, tari, suara dan karawitan, seni pedalangan, seni drama, bangunan), ilmu pengobatan, ilmu tanem-tuwuh.

Dalam waktu singkat tidak dapat kita bahas semuanya di sini. Mungkin yang baik diamati ialah lahan kepercayaan “kebatinan, kerohanian, dan kejiwaan’ , karena itulah yang menjadi pegangan kehidupan Kejawaan. Kebatinan, salah satu segi dalam kepercayaan, begitu mencuat di dalam hubungan kehidupan membangsa dan menegara di Republik Indonesia ini.

Pada tahun 1972 terdapat 217 aliran tingkat pusat dan 427 tingkat cabang. Jadi secara keseluruhan berjumlah 644.

(Jawa Tengah 149; Jawa Timur 105; Jawa Barat 69; DIY: 39; Sumatera: 96, Sulawesi: 20 dst).

Jadi kelompok aliran kebatinan di Pulau Jawa ada 362. Inilah gerakan yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

2. Budaya alus

Bagaimana paham kebatinan yang meliputi paham ketuhaanan (theisme, deisme), bagaimana paham tentang manusia (ngelmu pasek: ngelmu ngare dan ngelmu gunung; kemudian ngelmu santrian meliputi ngelmu kun (kembali ke asal mula), nur (merasa diri biji Tuhan), gaib (merasa diri tidak ada), dul (jalan pintas ke rasa tunggal) dan birahi (dengan memraktekkan “ma lima”; masih ada ngelmu teguh, meliputi ngelmu memperoleh kuasa gaib -dengan tapabrata- misalnya kekuatan berganti rupa, prewangan, kadigdayan,guna-guna dan santhet), bagaimana paham kesusilaan (pribadi dan sosial), upacara ibadat asli (pernikahan, kehamilan, kelahiran, kedewasaan, kematian; lalu ibadat tanam padi, panen,mereti desa),

Sifat-Sifat kebatinan “kejawen”: merupakan gambaran temu pemenuhan atas kekurangan-kekurangan dari kehidupan masyarakat yang ada : banjirnya budaya asing yang tidak mengindahkan kesusilaan : intelektualisme dilawan perasaan, materialisme dilawan kerohanian. Legalisme dan formalisme dilawan dengan ke-nurani-an. Dalam gerakan kebatinan , orang merasakan kehausan akan hidup uang utuh dan harmoni atau selaras. Mengacu pada nilai gerakan ini, kebatinan mempunyai sifat: batin, rasa, keaslian, akhlak sosial, paguyuban warga, dan laku gayb. Tentu saja sifat-sifat ini adalah gambaran umum dari aliran-aliran yang ada. Setiap aliran mempunyai tekanannya ‘bawa’ sendiri.

Dalam peninjauan umum, dengan latar belakang universal, gerakan kebatinan termasuk gerakan “Gnostik”. Gnosis (bhs. Yunani) berati pengertian istimewa terutama tentang soal manusia: asal-usul, siklus hidup, hubungan raga dan jiwa. Cara pengungkapan dapat pinjam dari istilah keagamaan yang ada , tetapi arti adalah dari isi pengalaman diri. Munculnya gerakan gnosis, karena zaman gonjang-ganjing. Gnosis terdapat dalam agama Hindu sebagai Vidya, Jnana atau Sidhanta; dalam Islam sebagai marifat. Dalam Kristen pun ada. (Baca juga: Tempat Kebatinan dalam Pasamuan Katolik (1)

Inti dan pola pemikiran kebatinan

Definisi: Kebatinan adalah gerakan

  1. untuk meningkatkan integritas diri manusia
  2. yang membawa sertanya latihan-latihan agar diri manusia beralih dari kedudukan semula kepada tingkat yang lebih sempurna
  3. karenanya menyebabkan partisipasi manusia dalam daya luar biasa yang mengatasi kemampuan orang biasa.

Klasifikasi aliran-aliran kebatinan
Prof Dr. Joyodiguno (1961) menggolongkan kelompok-kelompok kebatinan sebagai berikut :

  1. Aliran Okultis, yang mengutamakan kekuatan gaib untuk melayani berbagai kebutuhan manusia. (ngelmu teguh: paranormal, paragnosi, clairvoyance, helderzienheiud, telepati, parergi: stigmatisasi, materialisasi dematerialisasi, pesikopkinese, poltergeist.
  2.  Aliran mistik: yang berusaha mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan semasa masih hidup di dunia: kebatinan bima suci –banyu perwitasari. Juga ada laku Trimarga: Karma Marga, Jnyana Marga, Bhakti Marga. –Kama loka, Rupa loka dan Arupa loka -Pelepasan dan nafsu tidak teratur, Penerangan, Panunggalan. —Gelar, Bawa, Sembah.
  3. Aliran teosofis : yang berniat menembus sangkan-paraning dumadi : mitos etiologi kosmis antropologis; dwidaya, hierogami, teogoni, antropogoni, teomakhi.
  4. Aliran Etis: yang berhasrat memperkembangkan budi-luhur serta berusha membangun masyarakat yang beretika luhur.

Ada Asta brata:

a. Landasan diplomasi

  • kaya tanpa harta (simpati)
  • Perang tanpa tentara (pengarus)
  • Menang tanpa mengalahkan (musuh menyingkir)
  • Memberi tanpa kehilangan.

b. Landasan pribadi

  •  Sabar (fikiran)
  • Tenang (cara bertindak)
  • Saleh (berkat tuntunan Tuhan yang maha Esa)

c. Landasan kepemimpinan

  • Sifat raja  adil, bijaksana, belas kasihan.
  • Sifat pendeta –
  • tajam otak, seakan-akan tahu sebelum diberi tahu

d. Landasan pengurus

  • .Jangan mudah heran (gumunan)
  • Jjangan mudah mudah terkejut (kagetan)
  • Jangan menthang-menthang (menang-menangan)

e. Landasan Ksatria sejati

  • Jangan menthang-menthang selagi kuat = seperti kancil yang percaya pada akalnya
  • Jangan menthang-menthang selagi kuasa = seperti gajah yang terlalu percaya pada tubuhnya yang besar dan kuat
  • Jangan menthang-menthang selagi kaya = seperti ulat yang terlalu percaya pada manjurnya racun

f. Landasan pergaulan

  • Tidak mencari teman, tidak mencari pembantu
  • Yang dicari kebaikan sejati, inilah yang paling utama
  • Teman dapat berpisah dan berkhianat dan pembantu mencari untung
  • Kebaikan sejati itu serba baik

g. Landasan menyembah

  • Ingatlah Tuhan yang menciptakan hidup
  • Percaya kepada Tuhan yang menjadikan segala-galanya
  • Taat kepada semua perintah Allah

h. Landasan pengabdian (tridharma)

  • Merasa terlibat pada kepentingan umum
  • Merasa bertanggungjawab untuk mempertahankannya
  •  Mawas diri dengan tabah hati

NB. Kita dapat melongok pada inti ajaran Budha yang tercantum pada Catur Arya Satyani (empat kenyataan mulia): Dukha satya ( kenyataan penderitaan), Samudya satya (kecenderungan nafsu penyebab penderitaan), Nirodha satya (penderitaan dapat dilepaskan), Marga satya (jalan untuk mencapai pelepasan penderitaan): asta arya marga (8 jalan utama) -keyakinan, nalar, perkataan, perbuatan, penghidupan, daya upaya, perhatian, samadi bila semuanya bersifat benar

Sedangkan yang dilihat oleh Soemarno WS (1972) , klasifikasi dalam bentuk penghayatan:

  1. Golongan kepercayaan perorangan (satu dua orang) yang menghayati kepercayaan untuk kepentingan diri pribadi tanpa usaha pengluasan di antara orang lain, misalnya dengan laku puasa, samadhi, bertapa. Inilah aliran hinayana.
  2. Golongan perguruan kepercayaan, yang memprogandakan ajarannya dan mengadakan semacam “sekolah” perguruan dengan menerima murid. Inilah aliran mahayana.
  3.  Golongan perdukunan di mana ilmu perdukunan dan pengobatan asli dilakukan untuk menolong masyarakat yang memerlukannya.

Akhir-akhir ini semua ajaran dicakup dalam sebutan “kepercayaan” yang dibagi ke dalam kebatinan, kerohanian dan kejiwaan.

1. Kebatinan: terutama berkisar pada ilham dari diri sendiri, berlainan dengan kewibawaan lahir; diutamakan daya jiwa dan konentrasi pada daya gaib.

Mr. Wongsonegoro mendefinisikan sebagai berikut: “Semua pikiran dan tindakan yang berdasarkan kekuatan gaib (supranatural) yang mencari dan mengetahui keyataan di belakang fenomen ala” Kongres kebatinan II – 1956 menghasilkan definisi “Kebatinan adalah sumber azas dan sila ketuhanan Yang Maha Esa untuk mencapai budi luhur guna kesempurnaan hiodup”.

2. Kerohanian: lebih menekankan aspek mistisisme, bagaimana mencapai kontak langsung antara roh manusia dengan Roh Nana Mutlak. Di dalamnya tampak pengaruh dari teogsofi timur dan tasawuf muslim

3. Kejiwaan: menunjukkan ilmu hidup benar, higyene jiwa, budi pekerti baik, pemeliharaan jiwa yang dicari secara ilmiah dan metodis. Tampaklah pada kejiwaan pengaruh dari psikologi barat ; Freudm Adler, Yung, Steiner campur dengan beberapa unsur Hindu,terutama dari Samkhya-darsana dan Ciwa-sidhanta.

Bagaimana pun juga pembagiannya, ketiga bentuk tersebut seringkali terdapat sebagai aspek-aspek dalam satu aliran, meskipun dalam tekanan berbeda-beda.

Kredit foto: Ilustrasi berebut tumpeng gunungan (Courtesy of Tempo)

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here