Buat Apa Jadi Lemah Lembut?

November 7, 2017Buat Apa Jadi Lemah Lembut? Ernest Basarah Catholic Spirituality 0

Suatu ketika, Yesus naik ke atas gunung dan mulai berkotbah. Kejadian ini dicatat di dalam Injil Matius, dan kotbah Yesus di bukit ini dikenal sebagai “Delapan Sabda Bahagia” atau “The Beatitudes“. Dalam salah satu ucapannya, Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi,” (Mat 5:5).


Masalahnya, hidup di zaman sekarang tuh susah. Kalau kita kebanyakan lemah lembut, bukannya orang lain bisa gampang menindas kita dengan semena-mena? Bagaimana orang yang lemah lembut bisa berbahagia, dan menang memiliki bumi?


Lemah lembut berarti lemah?


Kata lemah lembut, dalam bahasa Inggris, adalah “meek“. Banyak orang berpikir bahwa “meekness” adalah “weakness“, bahwa orang yang lemah lembut itu lemah dan gampang ditindas, sama sekali ga ada keren-kerennya. Namun, dalam kotbah di bukit, Tuhan Yesus sebenarnya mau mengajarkan hal yang berbeda. Kata lemah lembut (meek) dalam ayat tersebut berasal dari bahasa Yunani “Prautes” yang artinya not easily provoked atau tidak gampang terpancing. Kata “prautes” sendiri adalah turunan dari kata “praus” yang menggambarkan seekor kuda yang tenang dan sudah terlatih. Kuda yang terlatih akan sangat gampang ditunggangi atau menerima beban. Dia tidak lagi meronta-ronta atau kabur dengan liar. Jadi, “praus” itu menggambarkan seekor kuda sebagai binatang yang kuat, tapi sudah terlatih dan mudah diarahkan.

Karakter Kelemahlembutan

Orang yang lemah lembut digambarkan seperti seekor “praus”. Ketika ada beban, atau ada sesuatu yang “menungganginya”, orang yang lemah lembut tidak cepat marah dan emosi. Beban atau gangguan dari luar dan dalam dirinya nggak langsung membuat hatinya kacau balau. Sebaliknya, hatinya sangat mudah diarahkan oleh Roh Kudus. Seperti kuda terlatih yang kalem dan taat ketika diarahkan oleh penunggangnya, orang yang lemah lembut sangat mudah dituntun oleh Roh Kudus untuk membuat keputusan-keputusan yang baik, benar, dan bijaksana. Mereka adalah orang yang memiliki kekuatan diri yang terkontrol (harnessed strength) dan nggak mudah terbakar amarah.


Orang yang mudah terbakar oleh emosi dan amarah sering mengambil keputusan-keputusan yang kurang bijaksana dalam hidupnya, yang berujung pada kekalahan. Sebaliknya, orang lemah lembut dipuji oleh Yesus karena mau mengarahkan kekuatan, akal budi, dan hatinya kepada tuntunan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang mampu membantu manusia untuk mengambil keputusan baik, sehingga manusia bisa mencapai keberhasilan hidup, serta menghindari pertengkaran-pertengkaran tak perlu yang sering membuat situasi semakin buruk.

Belajar dari Yesus

Ada sebuah nasihat yang bagus dari St. Fransiskus dari Sales, “Jangan berikan kesempatan untuk amarah, karena sedikit saja ada kesempatan, dia akan menjadi tuan atas kamu.” Oleh sebab itu, mari kita belajar untuk menjadi orang yang lemah lembut. Caranya? Tirulah Yesus! Dia sendiri yang berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).


Dengan mengenal dan mengikuti ajaran Yesus, kita pasti dimampukan, dengan bantuan Roh Kudus, untuk semakin bertumbuh dalam kelemahlembutan dan pada akhirnya mampu menjalani hidup di bumi ini dengan damai. Ingatlah, bahwa kelemahlembutan bukanlah kelemahan, melainkan sumber kekuatan, kebahagiaan, dan kedamaian.



 “Nothing is so strong as gentleness. Nothing so gentle as real strength.” (St. Francis de Sales)


 


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply