Buah Yang Asam

Ayat bacaan: Yesaya 5:4
=======================
“Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?”

buah anggur asam

Harga buah bisa terlihat cukup mahal bagi kita yang punya pendapatan pas-pasan. Bayangkan apabila dengan harga yang terasa mahal itu kita bukannya mendapatkan buah yang baik tetapi malah yang asam, atau malah busuk di dalamnya. Misalnya ketika anda membeli sekilo jeruk. Dari luar jeruk-jeruk itu mungkin terlihat mulus tanpa adanya cacat. Tetapi ketika dibuka, anda hanya mendapatkan buah jeruk yang tidak termakan saking asamnya. Kalau satu atau dua mungkin masih wajar, tetapi bagaimana jika sebagian besar seperti itu, atau malah semuanya? Mungkin kita akan mengomel atau mendatangi kembali penjualnya untuk memarahi mereka. Bagi kita yang awam, kita bisa tertipu oleh penampilan luar buah. Dari luar mungkin terlihat bagus, tetapi ternyata setelah dibuka tidak bisa dinikmati sama sekali.

Hari ini saya memilih mengenai anggur yang asam sebagai ayat bacaan kita. Dalam kebanyakan ayat-ayat di Alkitab, pohon anggur biasanya berbicara mengenai segala sesuatu yang baik. Tetapi ayat diatas menggambarkan sesuatu yang sebaliknya. Kita bisa mulai dari perikop pertama dalam Yesaya pasal 5. Disana ada sebuah kisah mengenai kebun anggur yang ternyata menghasilkan buah-buahnya yang asam. Sang pemilik kebun dengan rajin mengurus kebun. “Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga ditengah – tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik..”(ay 2). Namun apa hasil yang didapat? “…tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.” Ayat ini menggambarkan Tuhan sebagai Sang Pemilik kebun, dan anak-anakNya digambarkan sebagai pohon-pohon anggur yang tertanam disana. Secara lebih spesifik, ayat-ayat ini berbicara tentang pertobatan yang menghasilkan buah. Ketika kita bertobat dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, seharusnya kita menjadi sebuah ciptaan baru yang terus tumbuh dan berbuah. Namun dalam perjalanannya, ada banyak dari kita yang ternyata kembali pada kebiasaan lama yang buruk. Ada yang dari luar tampak baik, namun ternyata hatinya jahat Setelah bertobat dan menerima Kristus bukannya berbuat kasih, namun malah menipu, jahat, berbuat keonaran dan menjadi batu sandungan dimana-mana. Inilah buah-buah anggur asam itu. Lihatlah betapa ironisnya, ketika “Sang Pemilik Kebun” begitu setia dan rajin memelihara “kebun”Nya dengan penuh kasih dan perhatian, tapi ternyata bukan buah yang baik yang dihasilkan pohon-pohon tersebut, melainkan buah yang asam. Maka bisa dimaklumi jika “Pemilik kebun” menjadi kecewa. “Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?” (ay 4). Apa yang kemudian terjadi bagi pohon-pohon dengan buah-buah asam ini berat konsekuensinya. Kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada ayat berikutnya. “Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.” (ay 5-6). Konsekuensi yang dihadapi oleh pohon-pohon berbuah anggur yang asam sangat tidak main-main. Dalam injil Matius, pokok-pokok yang tidak menghasilkan buah yang baik dikatakan akan “ditebang adan dibuang ke dalam api.” (Matius 3:10). Dalam Wahyu kita juga mendapati konsekuensi yang harus dihadapi oleh “anggur-anggur asam” ini. “…Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.” Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah.” (Wahyu 14:18b-19)

Konsekuensi menjadi pohon anggur dengan buah yang asam sungguhlah serius, kalau tidak bisa dibilang mengerikan. Maka ketika kita sudah bertobat, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa kita mampu menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. (Matius 3:8).Tuhan menginginkan hidup anak-anakNya untuk terus menghasilkan buah-buah yang manis, yang bisa dinikmati dan memberi berkat bagi orang lain. Semua orang tentu merindukan buah yang manis dan sedap rasanya. Kita harus terus berbuah, bukan berbuah asal-asalan, asam atau malah busuk, tetapi menghasilkan buah-buah ranum yang manis. Sesungguhnya keberhasilan menjadi anak-anak Allah yang mendapat hak waris di Kerajaan Surga bukanlah dilihat dari penampilan luar semata, namun yang ditentukan dari seberapa baik buah-buah baik yang anda hasilkan.

Jadilah anggur yang manis yang memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply