Bruder Han CSD di Woloan, Manado: “Saya tak Punya Waktu Sakit”

Br. Han 1UMAT  katolik di kota Manado umumnya mengenal Br. Han Gerritse CSD. Bruder misionaris dari Belanda itu lama sekali tinggal di desa Woloan, di kompleks Gereja Paroki. Ia adalah satu-satunya anggota tarekat bruder CSD (Congregatio Septem Dolorum) atau Kongregasi Tujuh Dukacita Santa Maria di Keuskupan Manado. Bertahun-tahun lamanya ia bekerja dengan rajin dan tekun. Mula-mula sebagai […]

Br. Han 1

UMAT  katolik di kota Manado umumnya mengenal Br. Han Gerritse CSD. Bruder misionaris dari Belanda itu lama sekali tinggal di desa Woloan, di kompleks Gereja Paroki. Ia adalah satu-satunya anggota tarekat bruder CSD (Congregatio Septem Dolorum) atau Kongregasi Tujuh Dukacita Santa Maria di Keuskupan Manado.

Bertahun-tahun lamanya ia bekerja dengan rajin dan tekun. Mula-mula sebagai bruder yang berkeliling dengan mobilnya untuk menjual buku-buku bacaan dan benda-benda rohani. Sejak tahun 1982 (32 tahun lalu) saya sudah biasa melihat Br. Han membawa mobil penuh buku itu untuk dibawa ke Seminari Pineleng dan tempat-tempat lain.

Biasanya saya hanya melihat-lihat judul buku, membuka-buka dan mencuri membaca isinya, kemudian tidak jadi membeli karena tidak punya uang. Bruder Han tahu bahwa frater-frater hanya melihat-lihat saja judul buku tanpa membelinya. Namun mungkin beliau sudah merasa berbuat baik untuk memberitahu para frater bahwa ada buku-buku baru itu, biarpun belum mampu membelinya.

Karya-karya Br. Han CSD terus berkembang antara lain dengan Kapare (karya patung remaja) yang membuat patung-patung kandang natal sederhana yang dikerjakan oleh anak-anak remaja desa Woloan ketika mereka pulang sekolah.

Dengan Yayasan Manuel Runtu (Yamaru) Br. Han terus mengembangkan karya-karya untuk memberikan beasiswa anak-anak tidak mampu, menggelar pasar murah dan pakaian kiriman dari Belanda yang masih layak pakai, dan yang sekarang sangat di kenal juga oleh pihak pemerintah daerah Sulawesi Utara adalah Yayasan Sayap Kasih, untuk merawat anak-anak cacat berat dan juga mendirikan akademi fisioterapi.

Br. Han adalah seorang perawat, jadi hatinya memang penuh kasih kepada orang-orang sakit dan anak-anak cacat.

Tarekat CSD hampir punah setelah hidup dan berkarya selama 163 tahun terakhir. Para anggotanya sudah menua dan tidak ada calon baru. Termasuk Br Han harus menyaksikan kepunahan tarekatnya bersamaan dengan usianya sendiri yang sudah mencapai 75 tahun.

Namun Allah berbelas kasih dan bermurah hati kepadanya. Kemarin, tgl 20 September 2014, Br. Han menyaksikan kaul kekal pertama dari 3 bruder (Br. Yohanes asal Manado; Br. Markus dan Br. Martin dari Flores) tarekat baru tingkat keuskupan Manado yang didirikan 13 tahun lalu tepat pada hari ulang tahun congregasi CSD yang ke-150.

Tarekat baru itu bernama Bruder Tujuh Dukacita Santa Maria atau BTD. Tarekat itu bisa dikatakan lahir atau anak dari kongregasi SCD di bawah asuhan Br Han.

Akhirnya bibit itu pun bertumbuh

Dalam perayaan Ekaristi kaul kekal yang dipimpin oleh Mgr. Josef Suwatan, Uskup Manado itu, Br. Han berbicara dengan suara yang amat terharu dan terbata-bata menahan tangis bahagia. Ia mengucap syukur bahwa akhirnya Tarekat Bruder Tujuh Dukacita itu bisa bertumbuh dan berkembang di Keuskupan Manado, tepatnya di Woloan dan Tomohon.

Br Han mengatakan bahwa CSD sudah pernah mencoba untuk mencari panggilan di Kanada tahun 1954, tetapi kandas. Dicoba lagi tahun 1967 di Merauke, tetapi gagal. Dan kini tahun 2001 dimulai di kota Tomohon, dan menunjukkan hasil perkembangan yang menggembirakan.

Tidak kalah haru dan bahagia ialah Sr. Gabriela PRR dari Larantuka. Karena permulaan Tarekat BTD dimulai di Manado itu justru dari gagasan kecil Sr. Gabriela untuk membantu Br. Pangkrasius SCD di Merauke. Bruder yang biasa dipanggil Br. Pangky itu adalah seorang perawat yang bekerja keras siang dan malam di poliklinik.

Br. Han 2

Kharisma Br. Hans Gerritse CSD: Inilah kharisma khas seorang bruder gembala Tuhan, misionaris dari Belanda yakni Br. Hans CSD. (Dok. Romo Albertus Sujoko MSC)

Berkat promosi panggilan Sr. Gabriela untuk memperkenalkan kongregasi SCD itu, maka ada 9 anak muda dari Flores yang ingin melamar menjadi bruder CSD. Namun lamaran itu tidak bisa diterima karena CSD sudah hampir punah dan tidak ada tenaga untuk membina para postulan dan novis. Akhirnya Br. Han dan Sr. Gabriela dan juga atas dukungan dari Br. Amatus CSD, Pemimpin Umum di Belanda, memohon kepada Uskup Manado untuk memulai tarekat baru tingkat keuskupan dan dimulai di Tomohon tgl 20 Sept 2001.

Tarekat BTD baru mulai bertumbuh dan masih muda. Anggotanya baru 16 orang berkaul sementara dan dari jumlah itu, 3 orang kemarin sudah kaul kekal. Tahun ini diharapkan ada 2 atau 3 calon postulan yang akan bergabung.

Mereka memiliki 3 komunitas. Dua rumah biara di kota Tomohon dan satu di desa Woloan. Desa Woloan itu sejak tahun 1905 sudah terkenal dengan sekolah misi calon guru yang didirikan oleh P. Antonius van Velsen SJ, yang kemudian menjadi Vikaris Apostolik (Uskup) di Batavia (1924–1933).

Kalau di Muntilan ada Romo van Lith SJ, maka di Woloan ada Pastor van Velsen SJ.

Dari sekolah guru berbahasa Belanda (kweekschool) itu dihasilkan guru-guru yang berkwalitas dan militant sehingga mereka dikirim sebagai katekis ke Papua, Flores, Maluku,dan Palembang. Di desa Woloan pula seminari menengah pertama di wilayah Sulawesi Utara dimulai tgl 16 Januari 1928.

Seminari itu memakai gedung sekolah guru Kweekschool peninggalan P. van Velsen yang sudah pindah ke Batavia dan sekolah guru itu juga sudah dipindahkan ke kota Tomohon, yang lebih representatif. Dari Seminari di Woloan itu dihasilan imam-imam pribumi pertama Minahasa seperti: P. Simon Lengkong, Wens Lengkong dan Theo Lumanaw (yang kemudian menjadi uskup di Makassar).

Br Han Gerritse CSD pantas menikmati kebahagiaan dan kepuasan batin di usianya yang lanjut dan masih sehat, menyaksikan berkembangnya tarekat BTD, setelah dengan tekun dan setia ia melayani Tuhan dan sesama selama bertahun-tahun dengan kegiatannya yang tidak pernah berhenti.

Suatu hari saya bertanya kepada Br. Han, “Bruder… apa rahasianya sehingga Br Han tidak pernah sakit?

Dan Br Han menjawab, “Saya tidak ada waktu untuk sakit. Saya mohon kepada Tuhan supaya diberi kesehatan, karena saya tidak punya waktu untuk sakit”.

Albertus Sujoko MSC
Imam-Direktur Bruder BTD

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply