Boys Don’t Cry

Ayat bacaan: Mazmur 147:3
===================
“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka”

maskulin, menangis

Di dalam dunia maskulin kita seringkali mendapat konsep yang salah tentang identitas kita. Kita selalu diajarkan untuk berusaha menekan diri kita agar tidak bereaksi terhadap kesedihan, dukacita dan sebagainya. Men are tough. Itu yang dipercaya dunia sebagai figur yang merepresentasikan ke-maskulin-an. Seorang pria seperti tidak layak untuk menjadi bagian dari pengungkapan perasaan, emosi dan kepedihan. Sementara kenyataannya seperti wanita, kita pun berhadapan dengan situasi-situasi yang sama. Kematian, kesakitan, perpisahan, kehilangan, dan berbagai hal-hal lain yang bisa membuat kita terluka parah, patah atau hancur hati dan sebagainya. Pria diciptakan memiliki air mata, yang pada saat-saat tertentu mau tidak mau harus tercurah keluar dalam tetesan atau limpahan. Maskulinitas yang diciptakan manusia tidak memperbolehkan hal itu. Pria harus tegar, harus kuat, harus ini dan itu, dan itu ada kalanya menyiksa jati diri seorang pria yang juga manusia biasa dengan kelemahan dan keterbatasannya. Boys don’t cry, kata dunia. Lalu bagaimana kita harus berekspresi dalam menghadapi badai kehidupan yang menguras ketahanan kita?

Kabar baiknya, Tuhan tidak menuntut kita secara berlebihan seperti itu. Paulus mengungkapkan sebuah jati diri Allah dalam menanggapi kepedihan yang dirasakan manusia. “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan.” (2 Korintus 1:3). Bapa yang penuh belas kasihan dan sumber segala penghiburan. Betapa indahnya ayat ini bagi kita yang tengah berduka. Setidaknya kita tahu kita tidak sendiri. Kita tahu Dia peduli, Dia mengasihani kita dan siap memberikan penghiburan. Kita tahu kita bisa setiap saat datang dan menangis di pangkuanNya. Tidak ada yang salah untuk itu, termasuk untuk kita para pria-pria tangguh sekalipun.

Pada jaman dulu orang-orang Israel memiliki tempat penampungan air yang disebut dengan kirbat. Kirbat ini adalah semacam botol kecil yang dipakai untuk menampung air mata dari orang yang berduka. Setelahnya botol ini biasanya diletakkan di atas kuburan dari kerabat yang meninggal. Budaya yang sejatinya berasal dari Mesir ini kemudian menyebar ke Israel dan dipakai mereka untuk menyatakan rasa dukacita mendalam atas kehilangan orang yang dikasihi. Dan lihatlah kata Daud berikut: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mazmur 56:9). Daud menggambarkan belas kasih Tuhan untuk yang bisa membuatnya menangis bersama kita dalam segala kesengsaraan yang kita alami. Air mata kita Dia simpan dalam kirbatNya. Dia peduli. Dia tidak menuntut kita untuk berpura-pura tegar padahal kita hancur di dalam. Dia tahu penderitaan itu perih, dan untuk itu Dia siap untuk berada bersama dengan kita dalam melewati masa-masa perih itu. Tuhan tidak menyalahkan kita dan memaksa kita untuk membuang semua rasa perih itu dalam waktu singkat, melarang kita untuk punya perasaan dan bersedih pada waktu-waktu tertentu. Dia tidak memarahi kita diwaktu kita menangis. Tuhan sendiri paham betul bagaimana rasanya kehilangan. Tuhan tahu rasanya terluka karena Dia pun mengalami sendiri perihnya luka ketika AnakNya yang tunggal Dia relakan untuk menebus kita semua lewat cara-cara yang keji.

Dan lihatlah bagaimana Tuhan memberi perawatan dan penghiburan kepada orang-orang yang terluka. “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.” (Mazmur 147:3). Tuhan siap menyembuhkan kita, merawat dan membalut luka kita, memeluk kita dengan penuh kasih sayang hingga kita sehat kembali. Ayat ini tidak pernah gagal untuk menguatkan saya ketika tengah mengalami kesedihan. Saya tahu bahwa ketika saya sedih, saya punya kesempatan untuk merasakan kasih sayang Tuhan yang begitu indah dalam merawat saya, membalut luka-luka dan memeluk dengan penuh kelembutan hingga saya pulih kembali.

Kembali kepada ayat 2 Korintus di atas, kita bisa membaca kelanjutannya yang berbunyi sebagai berikut: “yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” (2 Korintus 1:4). Lihatlah bahwa perawatan dan penghiburan Allah itu ternyata tidak hanya mampu memulihkan kita, tetapi juga lebih dari cukup untuk dipakai menghibur orang lain yang mengalami penderitaan juga. Ini tidak harus berarti bahwa kita akan selalu mampu menolong lewat banyak kata-kata atau pemberian, tetapi terkadang sebuah kehadiran kita untuk memberi mereka pundak tempat bersandar dan menangis bisa merupakan sesuatu yang sangat berarti dan membantu mereka untuk bisa kembali bangkit.

Allah sangat peduli terhadap penderitaan kita. Setiap tetes air mata yang kita keluarkan atas duka yang kita rasakan Dia tampung dalam kirbatNya. Dia selalu ingin memeluk dan menghibur kita, bahkan merawat dan membalut luka-luka kita, menunggu kita untuk kembali pulih seperti sedia kala. Kita mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa kita harus berduka dan menderita sewaktu-waktu, tetapi kita tahu bahwa Tuhan itu lembut dan penuh belas kasih. Kita tahu bahwa kita dapat menerima itu semua, dan kita dapat memegang janjiNya. Pada suatu hari nanti Allah menjanjikan kita sebuah tempat dimana tidak lagi ada air mata dan kesedihan seperti yang tertulis dalam Wahyu 21:4, dan hingga saat itu tiba, Tuhan akan selalu ada bersama kita dengan segala kelembutan, kepedulian dan kasihNya. Dan itu berlaku tidak hanya bagi wanita, tetapi juga kepada kita, para pria. Puji Tuhan untuk itu.

Dunia menuntut pria untuk tidak bersedih, namun Tuhan siap merawat dan membalut luka kita hingga pulih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply