Boss yang Manja

Ayat bacaan: Markus 10:45
====================
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Tetangga saya pernah  bercerita perihal bossnya yang perilakunya yang lucu. Usianya sekitar 50 menjelang 60, pria, tapi manjanya bukan main. Kalau ia haus, meski air putih yang ada di dispenser dalam ruangan kantornya, ia harus memanggil pegawai lewat intercom untuk mengambilkan segelas untuknya. Jika butuh file dari laci, ia pun lebih suka memanggil pegawainya ketimbang mengambil sendiri. Satpam akan selalu membawa berkasnya yang sebenarnya sangat ringan, baik ketika ia datang maupun pulang. Ia akan ‘ngambek’ kalau tidak disapa, tapi tidak pernah menyapa balik. Singkatnya, ia suka dilayani. “Namanya juga boss.. ya mungkin harus seperti itu gayanya.” kata teman saya sambil tertawa. Gambaran banyak boss atau pimpinan di sekitar kita? Mungkin. Tapi apakah benar pimpinan harus punya gaya seperti itu? Apakah seorang pemimpin memang selalu harus dilayani dan tabu untuk melayani?

Mari kita lanjutkan renungan kemarin. Apakah seorang pemimpin menjadi besar karena status dan pangkat? Apakah menjadi pemimpin besar berarti menjadi seseorang yang absolut dan harus selalu dilayani tapi merasa rendah ketika melayani? Apakah seorang pemimpin dihormati karena tingginya jabatan yang dipegangnya? Apa sebenarnya yang menjadikan seseorang bisa disebut sebagai pemimpin yang besar? Martin Luther King Jr mengatakan hal yang sangat menginspirasi dalam pidatonya di tahun 1968. Demikian ujarnya.
“Everybody can be great, because everybody can serve.
You don’t have to have a college degree to serve.
You don’t have to have to make your subject and your verb agree to serve.
You don’t have to know about Plato and Aristotle to serve.
You don’t have to know Einstein’s “Theory of Relativity” to serve.
You don’t have to know the Second Theory of Thermal Dynamics in Physics to serve.
You only need a heart full of grace,
a soul generated by love,
and you can be that servant.”

Ternyata orang menjadi besar karena mereka bisa melayani. Melayani tidak butuh gelar, tidak perlu menguasai pengetahuan dan kemampuan yang luar biasa terlebih dahulu. Martin Luther Jr mengatakan bahwa yang dibutuhkan hanyalah hati yang penuh sukacita, dan jiwa yang dipenuhi kasih.

Inilah prinsip hidupnya yang luar biasa. Prinsip yang benar-benar menggambarkan pribadi Yesus Kristus. Yesus mengajarkan murid-muridnya untuk menjadi pelayan dan hamba agar bisa menjadi besar (Markus 10:43-44). Mengapa harus demikian? “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 45). Yesus sendiri datang bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani dan menebus kita. Tuhan, yang seharusnya ada pada posisi tertinggi pun datang untuk melayani. Dia tidak butuh sebuah red carpet, limousine, hotel bintang 5, perlakuan istimewa dan sebagainya. Dia datang untuk melayani, memerdekakan kita dari belenggu dosa dan mengembalikan hubungan dengan Bapa. Ini sebuah keteladanan luar biasa yang tidak hanya Dia ajarkan tetapi juga dicontohkan langsung. Jelaslah bahwa untuk menjadi orang yang besar, kita harus mau melayani dengan sepenuh hati. Sulitkah? Seharusnya tidak, karena hati kita telah dipenuhi sukacita dan kasih oleh Roh Kudus dan sudah diperlengkapi dengan sangat baik oleh Tuhan.

Visi seorang pemimpin modern sudah seharusnya diubah. Kita menjadi besar bukanlah akibat gelar, pangkat atau jabatan kita, tapi harus dari sebesar apa keinginan kita untuk melayani. Seperti yang dikatakan oleh Martin Luther King Jr, untuk melayani Tidak dibutuhkan ijazah perguruan tinggi atau sertifikat-sertifikat lainnya. Tidak diperlukan keahlian-keahlian tertentu, pengetahuan tingkat tinggi atau tingkat umur tertentu, karena Tuhan telah menyediakan semuanya bagi kita semua, baik sukacita, kasih maupun talenta. Kalau Tuhan saja datang untuk melayani dan menebus kita, betapa ironisnya ketika kita malah hidup sombong dan hanya mau dilayani. Jika memang ingin bermegah, bermegahlah karena kita masih diberi waktu dan kesempatan untuk melayani dan bukan karena ingin diberi keistimewaan berlebihan oleh dunia.

Menjadi besar karena melayani bukan dilayani

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi melayani bukan untuk dilayani
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: