Boss Syndrome (1)

Ayat bacaan: Lukas 2:51
=======================
“Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”

Ada seorang pengusaha besar yang menjadi diaken di gereja saya. Sehari-hari ia mengepalai ribuan karyawan yang tersebar di berbagai perusahaan miliknya, mulai dari pabrik, lapangan golf sampai resor. Meski ia merupakan seorang pemimpin, ia ternyata tidak punya masalah untuk merendahkan diri melayani jemaat setiap minggunya. Iseng saya bertanya kepadanya, dan ia berkata bahwa setinggi apapun posisinya dalam karir, ia tetaplah seorang hamba Tuhan. Jadi setiap hari Minggu ia justru senang karena bisa melatih penundukan diri, menjadi pelayan Tuhan dengan hati hamba.

Jarang sekali ada orang seperti ini. Yang banyak justru orang yang belum apa-apa sudah terkena boss syndrome. Merasa diri absolut, gampang tersinggung dan sok kuasa. Begitu punya sedikit posisi saja boss syndrome seperti ini biasanya sudah berpotensi muncul. Orang terus bermasalah dengan penguasaan diri. Belum apa-apa mereka sudah menunjukkan keengganan untuk setia dan taat kepada instansi dimana mereka bekerja atau kepada pimpinan. Mereka melanggar peraturan seenaknya, dan malah tersinggung atau marah ketika mendapat teguran. Harga diri disetel terlalu tinggi tapi disisi lain mereka berbuat sesuka hati. Kita sering bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti ini. Masalah penundukan diri, sikap kerendahan hati itu menjadi isu yang penting untuk kita perhatikan sebagai orang percaya yang terus berproses untuk semakin seperti Yesus.

Kalau demikian, bagaimana dengan Yesus. Yesus jelas punya otoritas yang jauh lebih tinggi dari pimpinan negara, perusahaan dan lembaga apapun di dunia ini. Dia memegang kunci surga, dan hanya lewat Dia lah kita bisa masuk ke dalam kesukacitaan kekal yang besar. Jadi kalau bicara soal kuasa, tidak ada lagi siapapun yang besarnya seperti Yesus. Menariknya, Yesus menunjukkan sebuah penundukan diri terhadap orang tua duniawinya.

Pada suatu kali Yesus yang masih berusia 12 tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama kedua orang tuanya. Seusai perayaan, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa ternyata Yesus tidak berada bersama mereka. Dan itu mereka sadari saat mereka sudah berada ditengah jalan pulang. Mereka pun bergegas kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Bisa dibayangkan betapa cemasnya orang tua yang kehilangan anaknya di tempat ramai seperti itu. Perjalanan kembali untuk mencari itu pun makan waktu yang cukup lama. Alkitab mencatat bahwa tiga hari kemudian barulah mereka berhasil menemukan Yesus yang ternyata ada di dalam Bait Allah. “Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.” (Lukas 2:46).

Kecerdasan Yesus dalam menjawab para alim ulama itu sungguh mencengangkan semua yang ada disana, termasuk pula Maria dan Yusuf. Seperti orang tua pada umumnya, saat itu Maria dan Yusuf pasti diliputi perasaan campur aduk, antara lega dan marah. Mereka pun menegur Yesus karena menghilang diam-diam seperti itu. Perhatikan, meski dalam Alkitab tertulis bahwa Yesus sempat mengatakan bahwa memang disanalah Dia harus berada, yaitu di dalam rumah Bapa (ay 49), tetapi Yesus mengambil keputusan untuk taat dan tunduk kepada orang tuanya duniawinya. Ayat selanjutnya menggambarkan hal tersebut. “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” (ay 51). Yesus memutuskan untuk taat mengikuti permintaan keuda orang tuaNya. Ia pulang ke Nazaret mengikuti mereka dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Yesus tahu benar bahwa penundukan diri adalah hal yang pertama sekali harus dilakukan sebelum menerima sebuah otoritas.

Hidup dengan penundukan diri seringkali merupakan hal yang sangat sulit untuk kita lakukan. Kita harus mampu mengalahkan ego kita, kebanggaan diri dan sebagainya karena bagi sebagian orang sikap seperti itu dianggap bisa merendahkan harga diri mereka. Padahal kalau kita terus mempertahankan sikap buruk itu, bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau hubungan sosial dalam masyarakat, tetapi kita pun melanggar firman Tuhan yang ternyata banyak berbicara mengenai soal penundukan diri ini.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: