Boleh Dan Tidak Boleh

17 Juli - RmT“Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, ‘Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.’”  (Mat 12, 2) SEORANG umat bertanya, “Romo, apakah benar bahwa para romo tidak boleh pergi pada hari Minggu?” Pertanyaan ini rupanya muncul, ketika sekelompok lansia mengajak romo paroki untuk berziarah. Romo paroki menyanggupi asal perjalanan tersebut dilakukan pada hari Jumat dan bukan pada hari Minggu. Boleh dan tidak boleh merupakan istilah atau pertanyaan yang banyak dikaitkan dengan sebuah aturan atau ketentuan terhadap suatu hal. Ketentuan untuk bepergian bagi para romo paroki merupakan salah satu dari sekian banyak aturan atau ketentuan yang ada di dalam kehidupan bersama. Di dalam kehidupan bersama ada sekian banyak aturan atau ketentuan yang berlaku dan harus ditaati, seperti ketentuan bayar listrik dan air, aturan berlalu lintas dan parkir, ketentuan menerima tamu, ketentuan menggunakan kendaraan dinas dan berbagai macam ketentuan dan aturan lain. Para murid pada jaman dulu juga dihadapkan pada ketentuan hari Sabat. Ada berbagai macam hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, termasuk memetik bulir gandum dan memakannya, makan roti sajian, dsb. Aturan dan ketentuan mestinya dilaksanakan. Banyak orang akan bertanya, ketika aturan dan ketentuan yang ada tidak ditaati atau dilaksanakan, seperti dilakukan oleh orang-orang Farisi. Mengapa Yesus membiarkan para murid memetik bulir gandum dan memakannya? Dalam hal ini Yesus tentu tidak bermaksud untuk meniadakan aturan Sabat, tetapi mengajak banyak orang untuk melaksanakannya dengan bijaksana. Pertanyaan tentang ‘boleh dan tidak boleh’ akan membuat seseorang jatuh pada sikap formalistis dan mudah menjatuhkan sangsi atau hukuman terhadap orang-orang yang dinilai melanggar aturan tanpa melihat konteksnya atau situasinya. Pelaksanaan aturan atau ketentuan jangan sampai membuat seseorang kehilangan kasih terhadap sesama yang berada dalam situasi khusus atau darurat. Dalam situasi tertentu, nilai-nilai yang berkaitan dengan martabat luhur manusia harus diutamakan dan dibela dari pada pelaksanaan aturan atau ketentuan secara kaku. Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

17 Juli - RmT

“Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, ‘Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.’”  (Mat 12, 2)

SEORANG umat bertanya, “Romo, apakah benar bahwa para romo tidak boleh pergi pada hari Minggu?” Pertanyaan ini rupanya muncul, ketika sekelompok lansia mengajak romo paroki untuk berziarah. Romo paroki menyanggupi asal perjalanan tersebut dilakukan pada hari Jumat dan bukan pada hari Minggu. Boleh dan tidak boleh merupakan istilah atau pertanyaan yang banyak dikaitkan dengan sebuah aturan atau ketentuan terhadap suatu hal. Ketentuan untuk bepergian bagi para romo paroki merupakan salah satu dari sekian banyak aturan atau ketentuan yang ada di dalam kehidupan bersama.

Di dalam kehidupan bersama ada sekian banyak aturan atau ketentuan yang berlaku dan harus ditaati, seperti ketentuan bayar listrik dan air, aturan berlalu lintas dan parkir, ketentuan menerima tamu, ketentuan menggunakan kendaraan dinas dan berbagai macam ketentuan dan aturan lain.

Para murid pada jaman dulu juga dihadapkan pada ketentuan hari Sabat. Ada berbagai macam hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, termasuk memetik bulir gandum dan memakannya, makan roti sajian, dsb. Aturan dan ketentuan mestinya dilaksanakan. Banyak orang akan bertanya, ketika aturan dan ketentuan yang ada tidak ditaati atau dilaksanakan, seperti dilakukan oleh orang-orang Farisi. Mengapa Yesus membiarkan para murid memetik bulir gandum dan memakannya? Dalam hal ini Yesus tentu tidak bermaksud untuk meniadakan aturan Sabat, tetapi mengajak banyak orang untuk melaksanakannya dengan bijaksana.

Pertanyaan tentang ‘boleh dan tidak boleh’ akan membuat seseorang jatuh pada sikap formalistis dan mudah menjatuhkan sangsi atau hukuman terhadap orang-orang yang dinilai melanggar aturan tanpa melihat konteksnya atau situasinya. Pelaksanaan aturan atau ketentuan jangan sampai membuat seseorang kehilangan kasih terhadap sesama yang berada dalam situasi khusus atau darurat. Dalam situasi tertentu, nilai-nilai yang berkaitan dengan martabat luhur manusia harus diutamakan dan dibela dari pada pelaksanaan aturan atau ketentuan secara kaku.

Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply