Blusukan Tri Hari Suci 2018: Wajah Gereja Katolik Stasi St. Yoseph HPH di Pedalaman Sumatera (3)

Akses jalan dengan kondisi penuh kobangan dan berlumpur. Perlu mencangkul dan mengisi kobangan itu dengan tanah terlebih dahulu agar mobil bisa melaju jalan. (Maria Sylvista)

SETELAH bermalam di Stasi St. Petrus Sitiung II E, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Stasi Santo Yosep HPH (HTI).


Kami berangkat pukul 08.00 WIB.


Satu jam pertama, jalanan terasa mulus-mulus saja. Hingga kami tiba di Dusun Tuo,  kami harus menyeberangi Sungai Batanghari ke Desa Balerajo, menaiki jembatan ponton untuk bisa sampai ke Stasi HPH.


Di sinilah perjalanan yang sebenarnya dimulai.


Jalan yang bisa dilewati hanya berupa tanah merah. Beberapa kali kami harus terguncang di dalam mobil, ketika melewati jalanan itu. Karena terjadi  hujan semalaman, jalanan menjadi lebih becek dan berlumpur.



Blusukan Tri Hari Suci 2018: Ikut Turne ke Stasi St. Theresia Sungkai dan Stasi St. Petrus Sitiung IIE (2)


Berbanding terbalik


Di tengah perjalanan,  beberapa anak menumpang di bagian belakang mobil. Mereka tampak senang, ketika mobil berguncang ke kiri dan kanan melewati tanah yang tidak rata, berbanding terbalik dengan saya yang justru tampak khawatir dan tak henti-hentinya merapalkan doa dalam hati.


Namun justru di saat seperti itulah saya melihat sungguh-sungguh perjuangan umat di daerah ini.


Gereja papan di Stasi Santo Yosep HPH milik umat setempat. (Maria Sylvista)

Mereka sudah berpakaian sangat rapi untuk pergi ke gereja, namun di tengah perjalanan masih harus berusaha melewati jalan yang becek dan tidak rata.


Beberapa kali saya melihat motor salah seorang warga tersangkut di tanah. Medan penuh tanah merah yang rasanya sangat sulit untuk ditempuh, tetapi nyatanya bisa dilewati dengan penuh perjuangan.


Saya melihat kuasa Tuhan benar-benar hadir di dalam diri umat di Stasi St. Yoseph HPH ini.


Gereja papan


Kami tiba pukul 10.15 WIB. Bangunan gereja terbuat dari kayu papan dan terletak agak menjorok ke bawah. Saya terharu begitu sampai di gereja.


Ternyata seperti ini perjuangan umat untuk mencapai gereja. Alih-alih mengeluh, mereka justru menjalaninya dengan sukacita.


Umat Stasi Santo Yosep HPH berjumlah 14 Kepala Keluarga. Stasi ini menjangkau umat hingga 15 Km dari gereja. Ketika kami tiba, baru beberapa umat yang datang.


Ibadat Jumat Agung.

Karena itu, sembari menunggu umat yang lain datang, Romo Vinsensius Setiawan Triatmojo Pr mengajak umat yang sudah datang untuk mengobrol dan mempersiapkan ibadat Jumat Agung.


Ibadat Jumat Agung baru bisa dimulai pukul 11.00 WIB.


Selain di Stasi HPH, imam yang biasa disapa dengan Romo Avien ini masih harus memberikan pelayanan Ibadat Jumat Agung di Stasi Santo Antonius Rimbo Bujang Unit 1.


Ibadat Jumat Agung di Stasi Antonius 3.

Mobil terjebak di kobangan lumpur padat


Pukul 13.30 WIB kami baru bisa meninggalkan Stasi HPH. Namun dugaan bahwa perjalanan kami akan lancar-lancara saja, harus pupus di tengah jalan.


Baru sekitar 20 menit perjalanan, mobil harus berhenti, karena ada 4 mobil strada dari arah berlawanan yang tersangkut di lumpur. Warga sekitar membantu mengeluarkan mobil tersebut.


Ya, gerimis siang itu cukup membuat jalanan menjadi becek.


Naas, mobil kami pun tersangkut beberapa saat setelah mobil melaju. Mas Yusuf langsung turun mengganti sandalnya dengan sepatu boot dan mengambil cangkul untuk mencangkul tanah. Tak ingin ketinggalan, Romo Avien melakukan hal yang sama.


“Untung tadi makan ya, jadi punya tenaga untuk mencangkul,” kata Romo Avien di sela-sela kegiatannya mencangkul tanah.


Mereka berdua mencangkul tanah merah dan menimbunnya di jalan yang berlubang dalam, agar jalan bisa kembali dilewati mobil.


Jalan berkobang dan berlumpur.

Kegiatan ini memakan waktu hampir setengah jam. Setelah sampai di Desa Balerajo pun kami masih harus menunggu ponton datang selama hampir 20 menit. Hal tersebut membuat kami terlambat tiba di Stasi St Antonius.


Umat Katolik St. Antonius S Rimbo Bujang Unit 1.

Ibadat yang harusnya dimulai pukul 16.00 WIB, terpaksa diundur dan baru bisa dimulai pukul 16.35 WIB. Meski begitu, umat tetap semangat dan ibadat juga berjalan dengan lancar.


Pembacaan narasi Passio.

Jumat Agung bukan hanya tentang merenungkan wafat Kristus, namun juga bagaimana kita mau ikut Yesus dan mau memanggul salib bersama-Nya. Dengan kita tidak mengeluh tentang hidup kita yang kadang sulit, seperti melewati jalan menuju Stasi HPH, kita sudah bisa menghayati perayaan Jumat Agung.


Dalam homili ya, Romo Avien mengatakan bahwa dalam Jumat Agung kita merenungkan korban penebusan dosa manusia oleh Yesus sendiri. Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia.


“Kematian Yesus adalah satu-satunya kematian yang menyelamatkan. Kematian yang berharga ini kemudian bangkit dan menunjukkan bahwa kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan masuk dalam kehidupan yang kekal,” kata Romo Avien.


Kredit foto: Maria Sylvista


Maria Sylvista


Wartawan Tabloid “Komunio” dan Majalah “Fiat” di Palembang.


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply