Blusukan Tri Hari Suci 2018: Ikut Turne ke Stasi St. Theresia Sungkai dan Stasi St. Petrus Sitiung IIE (2)

Merayakan Kamis Putih di Stasi St. Theresia Sungkai yang masuk wilayah Provinsi Riau bersama umat Batak Katolik dan Romo Avien Pr. (Maria Sylvista)

HARI Kamis (29/3) pukul 06.00 pagi, saya terbangun karena teman saya Rina sedang bersiap-siap untuk mandi. Setelah Rina selesai mandi, saya pun segera mandi. Tak berapa lama, Romo Frans memanggil kami untuk segera sarapan di pastoran.


Pada Masa Paskah 2018 ini, saya ikut Romo Frans de Sales SCJ yang ingin membantu pelayanan sakramental di Paroki Santo Paulus Muara Bungo, Jambi bersama Romo Vinsensius Setiawan Triatmojo Pr yang akrab disapa Romo Avien.


Kami menempuh perjalanan yang cukup jauh, selama 12 jam lebih, dari Kota Palembang, Sumatera Selatan.


Ketika saya dan Rina sampai di ruang makan, para romo yakni Romo Joko Susanto, Romo Dwijoko, Romo Miki, Romo Avien, dan Romo Frans sedang mengobrol perihal stasi-stasi yang akan mereka layani.


Stasi St. Theresia Sungkai dan Stasi St. Petrus Sitiung IIE


Romo Frans minta saya  ikut Romo Avien ke Stasi Santa Theresia Sungkai dan Stasi Santo Petrus Sitiung II E. “Cepat makannya. Pukul 8 kalian berangkat,” kata Romo Frans.


Saya pun cepat-cepat menyelesaikan sarapan dan mempersiapkan pakaian, sebab kami akan menginap di Sitiung IIE.


Umat Batak Katolik di Stasi St. Theresia di Sungkai – Provinsi Riau. Mereka punya kapel sederhana, tanpa kursi. Mereka duduk beralaskan terpal.

Bersama sang sopir, Mas Yusuf, kami meninggalkan Paroki Santo Paulus Muara Bungo pukul 08.15 menuju Stasi Santa Theresia Sungkai. Mulanya, jadwal pelayanan Romo Avien untuk Kamis Putih adalah Stasi Santa Theresia Sungkai dan Stasi Rantau Jaya. Namun karena jembatan yang menuju ke Stasi Rantau Jaya putus, jadwal berubah. Romo Miki sebagai pastor rekan di Paroki Santo Paulus Muara Bungo langsung menukar jadwal.


Perjalanan dari paroki menuju Sungkai cukup melelahkan. Jalannya naik-turun dan tidak rata. Bahkan kami harus melewati daerah perbatasan Sumatera Barat, Riau dan Jambi untuk menuju Sungkai. Kami baru tiba di tempat tujuan pukul 11.00 WIB.



Blusukan Tri Hari Suci 2018 di Muara Bungo, Jambi: Saatnya Pastor Keluar dari Zona Nyaman (1)


Kapel ini sangat sederhana, bahkan tak tampak seperti bangunan kapel pada umumnya. Bangunannya terbuat dari kayu dan atapnya adalah seng.


Umat  duduk beralaskan terpal.


Namun antusiasme dan semangat umat menempuh perjalanan yang tidak rata memperkokoh kapel ini. Umat juga sangat antusias menyambut kedatangan Romo Avien.


Sebelum memulai Perayaan Ekaristi, umat berlatih beberapa lagu.


“Bantuinlah, Mo,” pinta salah satu ibu, ketika merasa kesulitan menyanyikan lagu Jika Ada Cinta Kasih. Sembari menyiapkan misa, Romo Avien melatih umat bernyanyi.


Romo Avien Pr merayakan Kamis Putih di Stasi St. Theresia Sungkai yang masuk dalam wilayah Provinsi Riau.

Karena hari itu adalah Kamis Putih, maka Romo Avien meminta umat untuk menyiapkan siapa saja yang akan menjadi rasul untuk dibasuh kakinya.


Jumlah umat tidak banyak, hanya ada sekitar 50 umat yang hadir.


Usai Perayaan Ekaristi, Romo Avien dijamu di rumah umat dekat kapel. Umat yang adalah warga Suku Batak beberapa kali bercakap-cakap dalam Bahasa Batak. Romo Avien yang pernah menempuh pendidikan di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pun tidak kesulitan memahami percakapan umat.


Acara pembasuhan kaki di Stasi St. Petrus Sitiung IIE, Provinsi Jambi.

Saya hanya diam dan mencoba menerka apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Ketika berbicara dalam bahasa Indonesia, mereka bercerita mengenai daerah tempat tinggal mereka dan usaha yang mereka lakoni.


Menyenangkan sekali mendengar cerita dan pengalaman umat dalam hidup mereka di daerah perkebunan sawit seperti ini. Saya seperti mendapat pandangan baru tentang apa yang mereka alami dan mereka imani, di tengah situasi yang jauh berbeda dengan situasi kota besar.


“Biar kami makan nasi dan ikan teri saja, yang penting anak-anak bisa sekolah,” kata salah seorang bapak.


Sayang, kami tak bisa berlama-lama di Sungkai yang berada di Provinsi Riau ini. Kami harus melanjutkan perjalanan menuju Sitiung. Perjalanan kami tempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Kami tiba di Stasi Santo Petrus Sitiung II E pukul 17.30 WIB. Setelah istirahat selama setengah jam, Romo Avien memulai Misa Kamis Putih pukul 18.00 WIB.


Merayakan Kamis Putih di Stasi St. Petrus Sitiung IIE yang berlokasi di Provinsi Jambi.

Stasi Santo Petrus Sitiung II E yang terletak di Provinsi Jambi ini sudah ada sejak tahun 1978. Kala itu stasi ini masih menjadi bagian dari Keuskupan Padang.

Pada tahun 1980 stasi ini diserahkan kepada Paroki Muara Bungo, yang merupakan bagian dari Keuskupan Agung Palembang.


Usai misa, umat melaksanakan tuguran di ruangan samping bangunan gereja. Waktu telah menunjuk hampir pukul 21.30, namun tak menyurutkan niat umat untuk menjamu Rm Avien di rumah salah satu umat.


Usai makan malam, Romo Avien kembali ke pastoran di Sitiung dan saya menginap di rumah salah seorang umat.


Keuskupan Agung Palembang (KAPal) melayani wilayah sangat luas karena mencakup tiga provinsi: Sumsel, Riau, dan Jambi.


Kredit foto: Maria Sylvista.


Maria Sylvista


Wartawan Tabloid “Komunio” dan Majalah “Fiat” di Palembang.


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply