Blusukan Nekad ke Eropa: Membeku di Mt. Titlis, Swiss (5)

Mt Titlis

TEMAN, setelah hilang jetlag-nya (siang dan malam terbalik-balik) saya jadi ingin meneruskan sharing saya dimana sebenarnya ingin saya meng-compile kisah perjalanan saya dari awal sampai akhir supaya berguna buat teman-teman yang ingin mewujudkan mimpi menjelajah Eropa yang cantik.

Saya ingat pada waktu pertama kali tiba di puncak Mt. Titlis di Pegunungan Alps, Switzerland yang indah dan selalu ditutupi salju abadi, mata tak puas-puasnya memandangi hamparan salju yang baru kali ini saya lihat. Sejenak batin saya diliputi keraguan saat menginjak salju, kawatir kedua kaki saya terjeblos ke dalam salju dan tersedot arus salju (hadoh…..…efek sering nonton kartun).

Ternyata salju itu padat, bisa dijejaki, namun lembut, ringan dan putih bagai kapas. Teksturnya mirip butiran-butiran es serut di kampung saya, namun lebih lembut lagi. Mudah dibentuk dan mudah menggumpal, tanpa mencair. Tentu saja tidak meleleh karena temperature pada saat itu mencapai minus 15 derajat. Dingin sekali menusuk tulang belulang.

Meskipun pakaian saya komplit lima lapis dengan sarung tangan dan sepatu boots rasa dingin tetap menggigit terutama bagian mulut dan gigi yang mulai menggigil. Saya rasakan juga sarung tangan saya basah dan rasa dingin itu mulai merayapi tulang….bbbrrrrrrr…! Alamak!

Sepertinya saya bisa mati membeku di sini, pikir saya panik. Namun demi melihat keindahan salju yang biasanya hanya bisa saya nikmati dalam film-film, saya berjuang melawan rasa dingin itu dengan mulai bergerak kesana kemari, loncat-loncat, main perosotan, guling-gulingan, lempar-lemparan bola salju, pokoknya apa saja saya lakukan hingga tubuh saya terbiasa dengan suhu super dingin tersebut.

Ternyata ide saya untuk bergerak aktif memang secara alami dapat meningkatkan suhu tubuh sehingga tetap hangat meski saya guling-gulingan di atas salju. Syukurlah…….menyadari tubuh sudah dapat beradaptasi tambah excited lah saya.

Saya pun lalu teringat ingin membuat boneka salju. Maka saya segera membuat gumpalan-gumpalan salju dan membentuknya menjadi orang-orangan salju. Setelah jadi saya ingat saya membawa sebuah syal tipis yang segera saya lilitkan di leher boneka salju saya. Untuk membentuk mata saya ambil dua tutup lipgloss saya yang berwarna dan saya cucukkan di wajahnya. Terakhir saya tempelkan tutup stabilo saya berwarna kuning sebagai mulutnya. Waaaahhhh…….miriip saya ya? Hahaha…..

Rupanya boneka salju saya ini lalu jadi perhatian pengunjung lain. Sebuah keluarga dengan anak perempuannya minta difoto bersama si orang salju ini. Dan beberapa orang lain berhenti dan tertawa menikmati wajah boneka salju yang bermata tutup lipgloss dan bermulut tutup stabilo itu.

Senangnya …..saya lantas bisa merasakan mengapa anak-anak dan orang dewasa suka sekali main salju. (pantasan Anne selalu minta kakaknya, Elsa menggunakan magic-nya untuk bermain boneka salju “Olaf” dalam film Frozen).

Puas bermain salju saya lalu merenungkan, bahwa manusia sebenarnya diberi ketahanan jiwa dan ketangguhan fisik melawan dahsyatnya kekuatan alam. Manusia punya daya tahan luarbiasa dan dapat beradaptasi dengan berbagai macam situasi. Saya ingat kuliah psikologi beberapa tahun lalu yang mengajarkan bahwa daya tahan manusia dalam menghadapi kehidupan disebut resiliensi. Dengan resiliensi manusia mampu survive dari segala tekanan yang dihadapinya.

Permulaan hari baru dalam pekerjaan sudah dimulai. Dari paparan pimpinan dalam meeting pertama, tampak gunung-gunung pekerjaan yang harus didaki, hamparan luas tugas yang harus diselesaikan, kantong-kantong beban yang harus dipikul dan temperatur udara yang mulai terasa gerah, sesak, pengap.

Apakah saya akan terpanggang panasnya udara itu? Atau terjerembab jatuh karena beban berat? Atau pingsan kelelahan karena beban yang tak kunjung purna?

Saya, kok, merasa tidak yakin, temans. Yang saya yakin adalah saya punya daya tahan dan akan tetap bisa survive dalam kondisi apapun. Semua memang nampak sukar pada awalnya tetapi saya percaya semua itu akan mudah saat dijalani. Saya nanti akan terbiasa…seperti saat saya selamat dari kebekuan di puncak Mt. Titlis, Switzerland.

Untuk teman-teman tercintaku di kantor, selamat berjuang lagi ya.

Foto kredit: Naik kereta gantung menuju Mt. Titlis (Ilustrasi/Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: