Blues

Ayat bacaan: Yesaya 53:5
====================
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya..”

blues

Dalam bahasa Inggris kata blue bukan semata-mata dipakai sebagai salah satu jenis warna tapi juga dipakai sebagai kata yang mengekspresikan kesedihan. Sangat menarik ketika hari ini saya dihadiahi seorang teman sebuah film seri dokumenter mengenai lahirnya sejarah musik Blues, sebuah genre musik besar yang merupakan akar dari segala jenis musik modern yang ada di dunia hari ini.  Musik blues ternyata berasal dari curahan kepedihan para warga berkulit hitam yang dahulu dijadikan budak. Hidup yang penuh penderitaan, kerap mendapat siksaan dan sebagainya. Mereka sempat digeser dari lingkungan pergaulan, tidak boleh bergaul dengan warga kulit putih, bahkan pemisahan itu dilegalkan oleh hukum pada masa itu. Bisa dibayangkan bagaimana tertindasnya mereka hanya karena warna kulit yang berbeda. Ini membuat mereka kemudian mencurahkan perasaan mereka ke dalam sebuah bentuk musik yang tadinya terkesan “asal”, dan inilah kemudian yang menjelma sebagai musik blues. Latar belakang musik Blues sangatlah menarik, termasuk perjalanannya tumbuh dari satu kota ke kota lain. Mississippi Blues yang sangat kental dan bersahaja dengan “chord-chord”nya yang unik lalu dikenal sebagai Delta Blues atau D-Blues, lalu ada New Orleans Blues yang masih mirip dengan Delta tapi sudah bercampur dengan African rhythm and melodical pattern, dan terus berkembang hingga Chicago Blues yang lebih “elektrik” dan semakin mendekati rock serta rock n roll, seperti Jimi Hendrix misanya. Musik sebagai sebuah medium ekspresi ternyata mampu menjadi tempat curahan hati dan perasaan kita. Kerap kali lewat lagu kita bisa bergembira, tertawa bahkan menangis mengeluarkan kesedihan yang ada dalam hati kita. “Dalam menanggapi kesedihan kita bisa mengeluh, menangis dan menyalahkan orang atau situasi, tapi kita bisa juga mengekspresikannya lewat nada-nada baik dengan vokal maupun instrumen musik”, ujar salah seorang narasumber dalam dokumentasi itu.

Sebuah hidup bukanlah hidup jika tidak ada kesedihan di dalamnya. Ada saat dimana kita memang mengalami kepedihan, kita berduka, murung juga berkabung. Kesepian, rasa perih dalam hati, rasa kehilangan, semua itu bisa membuat kita sulit untuk berbuat apa-apa. Rasa sakit itu bisa menyiksa kita sedemikian rupa sehingga sebagian orang bisa sulit untuk bangkit kembali. Tidak peduli siapapun kita, pada suatu ketika akan merasakan hal seperti ini, bahkan mungkin di kalangan teman-teman pun ada yang sedang merasakannya saat ini. Semua itu wajar kita alami pada suatu waktu, tapi kita tidak boleh sampai lupa bahwa kita tidak sendirian menjalaninya. Ada Tuhan yang begitu peduli akan kesedihan kita yang akan selalu siap menguatkan, memberi kelegaan, memulihkan luka-luka hati kita bahkan menghadirkan pertolongan. Akan halnya bangsa kulit hitam, lihatlah bagaimana mereka diberkati lewat talenta musik mereka. Blues, Marching band, Gospel music, Ragtime, Foxtrott, Dixieland hingga Jazz, semua itu lahir lewat talenta mereka.

Nubuatan yang sangat akurat tentang Yesus tercatat lengkap di dalam alkitab lewat Yesaya. Dikatakan “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9:5). Itu berbagai gelar yang disematkan kepada Yesus jauh sebelum kedatanganNya turun ke dunia. Dalam bahasa Inggirsnya dikatakan: “We call him “the Wonderful Councelor, Mighty god, Everlasting Father (of Eternity) and Prince of Peace.” Semua itu merupakan gelar luar biasa yang disematkan kepada Yesus, dan itu benar, pantas dan sangatlah layak. Tetapi kita juga harus ingat bahwa selain gelar-gelar tersebut Yesus juga disebut sebagai Hamba Tuhan yang menderita atau “A Man of sorrows and acquainted with grief.” Demikianlah judul perikop Yesaya 52:13-53:12. “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yesaya 53:3-5). Perhatikan baik bagian terakhir dari ayat tersebut. Yesus rela mengalami semuanya itu untuk menanggung penyakit-penyakit kita. Sakit penyakit, kelemahan, penderitaan dan kepedihan kita, kejahatan kita, semua Dia tanggung karena kasihNya yang begitu besar kepada kita. Oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh. Yesus tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian larut ke dalam kesedihan terus menerus. Dia ada, Dia peduli dan Dia siap, bahkan sudah menyembuhkan kita semua.

Tuhan Yesus sudah berjanji untuk memberi kelegaan terhadap kita semua yang berbeban berat. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Lalu lewat bilur-bilurNya kita menjadi sembuh. (Yesaya 53:5). Dan jangan lupa pula bahwa Pemazmur sudah mengatakan sejak dahulu kala mengenai kepedulian Tuhan untuk menyembuhkan kita yang sedang mengalami kepedihan dan patah hati. “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mazmur 147:3). Semua ini merupakan bukti nyata bahwa kita tidak sendirian dalam mengalami luka-luka hati. Tuhan ada bersama kita, dan Dia akan selalu mau untuk menyembuhkan dan membalut luka-luka kita dengan tanganNya sendiri.

Jika ada di antara anda yang sedang mengalami sesuatu yang menyiksa perasaan atau mengalami penderitaan saat ini, ingatlah kepada Yesus. Jangan pernah lupa bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan kita, untuk menolong kita dan juga untuk menyembuhkan kita. Jangan pernah merasa bahwa Tuhan menutup mata atas kepedihan dan penderitaan dalam hidup kita. Tidak, Dia tidak akan pernah berlaku demikian. Dia sungguh mengasihi kita. Dia senantiasa ada bersama kita, dan siap mengangkat kita keluar dari penderitaan itu untuk menikmati berkat-berkatNya. Pelangi yang indah muncul setelah hujan lebat dan cuaca buruk, dan seperti itu pula hidup kita di dalam tanganNya. Tuhan tetap menyediakan pelangi yang sangat indah dengan warna warninya melukis langit. Para warga kulit hitam yang tertindas ternyata menemukan genre-genre musik baru yang sangat berpengaruh bagi musik bahkan sampai hari ini di balik penderitaan mereka. dan seperti itu pula bagi kita. Ada sesuatu yang indah menanti pada sebuah titik kelak dimana Tuhan menggantikan segala penderitaan itu dengan sukacita yang besar. Kesedihan dan berbagai luka hati lainnya suatu waktu akan kita alami, tetapi jangan biarkan perasaan itu terus menguasai diri anda. Serahkanlah semua kepada Yesus yang akan segera memberi kelegaan, menyembuhkan luka-luka itu dan menggantikannya dengan sukacita kembali.

Yesus memberi kelegaan, menyembuhkan dan memulihkan luka-luka kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: