Blessing in Disguise

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:18
========================
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

blessing in disguise

Tidak biasanya jalanan di salah satu bagian yang selalu saya lewati macet total sampai larut malam. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam, tapi antrian mobil masih terlihat begitu rapat. Saya waktu itu tengah menunggu martabak pesanan saya selesai iseng-iseng ngobrol dengan si penjual. Saya mengomentari keanehan bahwa di waktu selarut itu jalan masih macet. Apa yang ia jawab diluar dugaan saya. “yah, lebih baik macet sih mas.. soalnya kalau tidak macet malah banyak kecelakaan disini.” Ia yang sehari-harinya berjualan martabak di tempat itu dari sore hingga malam tentu tahu bagaimana rawannya jalan yang terbentang di depan tempatnya berjualan. Menurut penjual martabak itu, ada banyak kecelakaan terutama terjadi pada pengendara motor ketika jalanan justru lengang. Mungkin mereka kurang sabar, katanya, sehingga ceroboh ketika mencuri jalur untuk melewati kendaraan di depannya. Dan kecelakaan pun terjadi. Maka ia pun bersyukur bahwa jalanan macet, sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan bisa dihindari, setidaknya untuk malam itu. Apa yang ia katakan selanjutnya terngiang di telinga saya. “Banyak orang yang lupa bersyukur mas.. tahunya mengeluh saja. Padahal ada yang bisa disyukuri ketika sedang (macet) begini..” Dia benar. Blessing in disguise, itu yang lantas terlintas di benak saya pada saat itu. Betapa ketika orang mengeluh akibat kemacetan yang menghambat mereka untuk sampai ke tujuan, di balik itu sebenarnya ada sesuatu yang ternyata positif.

Saya teringat pada kisah Yusuf yang dizalimi saudara-saudaranya sendiri. Ia hampir mati dibunuh, lalu dibuang ke dalam sumur, dan akhirnya dijual sebagai budak hingga sampai ke Mesir. Di Mesir hidupnya tidak menjadi mudah. Berbagai masalah terus ia temukan, termasuk ketika ia digoda oleh istri majikannya Potifar. Penolakannya berbuah dijerumuskannya Yusuf ke dalam penjara. Dan seterusnya, kita tahu bagaimana kisah selanjutnya. Singkat cerita, Yusuf kemudian diangkat menjadi penguasa atas seluruh tanah mesir. (Kejadian 41:41). Bagi manusia biasa mungkin apa yang dialami oleh Yusuf merupakan rangkaian kesengsaraan dan nasib buruk, tapi tidak bagi Yusuf sendiri. Ia tahu ada rencana Tuhan yang luar biasa terbentang di depan. Dan untuk mencapai itu, tidak masalah jika ia harus terbentuk melalui berbagai rintangan. Tidak ada hal yang menciutkan imannya sedikitpun. Dari sudut pandang manusia mungkin yang ia alami terlihat seperti kasus tragis kehidupan atau ketidak adilan, tapi apa yang dilihat Yusuf berbeda. Menghadapi saudara-saudaranya yang dahulu telah berlaku jahat dan kini bersujud di depannya, Yusuf dengan lugas berkata “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (50:20). Mungkin jika sepersepuluh saja dari kisah Yusuf terjadi pada kita, dengan mudah kita akan serta merta kecewa pada Tuhan. Kita memang tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan kita, tapi mampukah kita menyerahkan segalanya dalam iman untuk percaya kepada Tuhan?

Dalam banyak kesempatan kita lupa untuk bersyukur ketika kita terhambat akan sesuatu, atau ketika kita menghadapi kesulitan. Kita cenderung fokus kepada masalah, mengeluh, protes, bahkan terhadap hal kecil, seperti terjebak kemacetan tadi misalnya. Mungkin kita sering merasa kesal luar biasa ketika harus kembali pulang ke rumah ketika ada barang yang ketinggalan, mungkin kita merasa jengkel ketika menunggu istri atau anak terlalu lama bersiap-siap/berdandan, mungkin kita gampang frustrasi ketika kunci mobil terselip di suatu tempat, dan sebagainya. Hal-hal kecil seringkali gampang menjengkelkan kita. Belum lagi masalah atau kendala besar yang terkadang hadir merintangi langkah kita. Menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan di tempat kerja, menghadapi ketidak adilan dalam kehidupan, atau tekanan demi tekanan yang mungkin mendera kita. Apakah kita mampu terus berusaha mengucap syukur, atau kita segera bersungut-sungut dan memanjakan kekesalan kita? Bisakah kita sadar bahwa mungkin itu jalan Tuhan untuk mencegah kita agar tidak terjatuh kepada sebuah musibah? Tuhan mampu mendatangkan kebaikan lewat 1001 cara, yang mungkin belum atau bahkan tidak akan pernah terselami lewat kemampuan logika manusia. Tuhan menggambarkannya demikian: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8).

Lewat hal yang kelihatannya menjengkelkan sekalipun bisa terselip berkat tersembunyi, alias blessing in disguise. Apa yang dibuat Tuhan adalah segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Dia selalu mengawasi dan menjaga kita, dan apa yang Dia sediakan selalu sesuatu yang terbaik menurut jalanNya, dan bukan jalan kita. Termasuk lewat hal yang menjengkelkan atau bahkan menyakitkan sekalipun. Karenanya ketika menghadapi hambatan, janganlah terlalu cepat emosi atau frustrasi. Sebaliknya, tetaplah mengucap syukur. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Ketika Tuhan mengerjakan segala sesuatu yang baik untuk kita yang mengasihiNya, tidakkah kita pantas bersyukur untuk semua itu? Ingatlah bahwa Tuhan mampu memberkati kita lewat hal-hal kecil yang mungkin menjengkelkan, bahkan mungkin masalah besar yang saat ini belum terpecahkan, mengijinkan kita melewati itu demi kebaikan kita sendiri. Ketika tukang martabak itu bisa mengerti bahwa ada blessing in disguise dibalik hambatan dan persoalan, bisakah kita juga melihat hal itu? Tetaplah bersyukur, karena Tuhan bisa memakai sesuatu yang mengesalkan dan mengganggu untuk menjaga, melindungi dan memberkati kita.

Behind many inconvenient situations, there may be blessing in disguise

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply