Biji Gandum yang Mati

biji gandum

Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24).

Peristiwa kematian Yesus yang tragis bukanlah suatu peristiwa yang kebetulan terjadi dalam suasana emosional penuh antipati terhadap Yesus. Kematian Yesus telah diberitakan oleh Sang Guru yang telah mondar-mandir dari Galilea ke Yerusalem memberitakan kehadiran Kerajaan Allah. Bahkan peristiwa itu sudah diramalkan jauh-jauh hari sebelumnya oleh Nabi Yesaya dalam pasal terkenal mengenai Hamba Allah yang Menderita.

Ketika Philipus dan Andreas datang menghadap Yesus untuk menyampaikan keinginan orang-orang Yunani untuk bertemu dengan Yesus, Sang Guru cinta kasih itu memberikan jawaban yang lain. Sebuah jawaban yang berkenaan dengan eksistensi dirinya di dunia ini. “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan,” katanya. Kemuliaan yang diperoleh Yesus berkat relasi istimewa dengan BapaNya.

Dalam relasi itu, Yesus menyerahkan diri kepada Bapa secara total dan BapaNya menerimanya secara utuh pula. Relasi itu pula memampukan Yesus mengejawantahkan penyerahan dirinya dalam pola yang sangat manusiawi. Ia mengalami kegelapan maut sama seperti manusia lainnya. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Yesus, sang biji gandum itu, merelakan dirinya membusuk di dalam tanah tempat berpijaknya manusia demi kehidupan bagi banyak orang. Dia gugur di tangan bangsanya sendiri yang ironisnya sedang menantikan kedatangan sang Mesias.

Perjalanan panjang yang dilalui Yesus sejak masa kanak-kanakNya yang bahagia di Nazareth seolah-olah sirna ditelan sebuah kesia-siaan. Yesus seolah-olah mengalami jalan buntu di puncak tengkorak nan ngeri. Ia terjerembab tak berdaya menghadapi serbuan tinju dan hempasan pecut dari para algojo.

Penyerahan diri Yesus sampai titik darah terakhir di kayu salib mengisyaratkan terpenuhinya sabdaNya di atas.  Penyerahan itu bukan pertama-tama berdasarkan atas pamrihnya terhadap Bapa, tetapi lebih-lebih sebagai wujud nyata kasih setiaNya kepada Allah dan manusia. “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?” kata Yesus kepada Petrus yang membabi buta memotong telinga salah seorang serdadu di taman Getsemani (Yoh. 18:11).

Suatu pernyataan yang mencerminkan keradikalan Yesus menanggapi kehendak Allah. Meminum cawan yang diberikan Bapa adalah komitmen Yesus yang tidak dapat dihalangi oleh manusia yang takut dan ingin mencari keselamatannya sendiri.

Nubuat biji gandum yang mati membawa konsekuensi bagi Yesus untuk menyerahkan diri dalam kesetiaan yang penuh melayani sesama manusia. Yesus masuk dalam solidaritas dengan penderitaan manusia yang tertatih-tatih di bumi fana ini – karena penindasan, pemerkosaan hak-hak hidup, korupsi, manipulasi dan intimidasi dari sesama manusia yang memiliki kuasa – menuju terang yang sejati.

Solidaritas yang bersumber dari Bapa itu memampukan Yesus memanggul salib melintasi jalanan berbatu tajam-tajam menuju puncak kemenangan yang gilang-gemilang.

Dia Tuhan yang mati di salib justru menghidupkan dan memberikan harapan kepada dunia akan suatu damai sejahtera yang langgeng dan yang tak lekang retas oleh karatnya jaman. Manusia boleh menikmati suatu damai dari Allah sendiri yang tetap bertahan hingga akhir jaman.

Dewasa ini: Masih Adakah Biji Gandum yang Mau Mati?

Tak dapat disangkal dalam dunia kita dewasa ini banyak orang berupaya mengejar kehidupan yang lebih baik. Berbagai macam usaha, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang halal hingga yang tidak halal, ditumbuhsuburkan. Orang menyadari betapa pentingnya makna dan nilai kehidupan bagi manusia, sehingga orang pun rela bersaing untuk suatu cita-cita yang mulia.

Kehidupan yang aman tentram lahir batin telah memacu manusia untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan. Manusia berlomba-lomba merebut posisi yang baik dalam masyarakat. Manusia ingin memperoleh kesejahteraan dan kehormatan yang dapat mempengaruhi sesamanya.

Namun tidak jarang pula kita temukan bahwa kemapanan dan kesejahteraan di dunia telah memacu orang untuk saling menjegal, bahkan di antara sesama saudara sendiri. Individualisme dan kapitalisme yang bertentangan dengan semangat Injil bertumbuh subur bagai cendawan di musim hujan sebagai pengejawantahan sikap ingin menciptakan kesejahteraan bagi diri sendiri. Mereka terlelap dalam arus cinta diri berlebihan. Orang kurang memedulikan sesamanya yang jatuh terjerembab dalam kemiskinan dan kenistaan karena kalah bersaing.

Pertanyaan selanjutnya kepada dunia kita dewasa ini adalah masih adakah biji gandum yang mau mati untuk menghasilkan banyak buah? Masih adakah manusia yang tanpa pamrih memperjuangkan hak-hak hidup sesama manusia yang hancur karena penindasan, represi dan tindakan sewenang-wenang?

Sikap mau melayani sesama manusia mesti diiringi dengan sikap pengorbanan diri bagi kepentingan sesama. Artinya, orang merelakan sebagian dari dirinya untuk hidup sesama. Orang mau berjuang sampai titik darah penghabisan bagi kembalinya martabat manusia yang diinjak-injak oleh semangat egoisme berlebihan.

Yesus, sang biji gandum sejati, telah menunjukkan pengorbanan diriNya yang total bagi kepentingan manusia. Biji gandum itu mati di tanah manusia yang penuh dengan penindasan untuk mengembalikan martabat manusia kepada Allah yang hilang akibat pembangkangan manusia. Sikap tidak setia manusia dibalas dengan kesetiaan Yesus kepada kehendak Bapa. Dengan kesetiaan Yesus itu manusia diselamatkan.

Manusia masuk dalam arus karya keselamatan yang dibawa oleh Yesus. “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar, kata St Paulus tentang kesetiaan Yesus (Rom 5:19).

Hal yang sangat mendesak bagi kita sekarang adalah mengembangkan penyerahan diri kepada Allah sebagai pernyataan kesetiaan kita kepada Allah. Tantangan dunia modern semakin gencar menghadang kita, yaitu agar kita meninggalkan iman akan Kristus, hendaknya membuka mata hati kita untuk tetap menatap Yesus yang tergantung di salib.

Di sana, di atas kayu salib itu kita dapat menimba buah dari biji gandung yang jatuh ke tanah dan mati itu. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Fil. 1:29). Pengorbanan diri kita sungguh-sungguh didasari oleh semangat penyerahan diri Yesus kepada Bapa dan manusia.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply