Bertemu Temen Ateis (2)

SEBAGAI orang yang sempat mempelajari aliran-aliran besar ateisme di bangku filsafat, saya pun terpesona akan gagasan mengenai ateisme dari para bapa besar ateis: Ludwig Feuerbach, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud dan Karl Marx. Hingga sekarang saya menaruh hormat terhadap para bapa itu karena mereka orang-orang yang serius dengan kritik terhadap praktik dan ajaran agama beserta agamawan yang turut bertanggungjawab atas realitas (ketidakadilan dan penyakit) sosial.

Hingga saat ini pun, pada hemat saya, ateisme hanya akan menarik jika dikaitkan terhadap kritik itu. Pembicaraan mengenai ateisme tak relevan dan berguna jika tidak bicara juga mengenai peran agama dan atau iman dalam masyarakat dunia.

Ateis hanya soal gaya atau?

Kesan itu pula yang jelas tertangkap dari ungkapan teman-teman ateis yang saya jumpai. Mereka alergi dan emoh terhadap semua yang berbau agama, iman dan ritualnya, dan kadang menyertakan label pada agama dan agamawan sebagai: fanatik, munafik, sok suci, cenderung violent dan memaksakan kehendak pada yang berbeda keyakinan.

Akan tetapi amat sangat jarang teman yang saya jumpai mendasarkan ateisme mereka pada pengalaman kebencian luar biasa akan Tuhan dan penolakan habis-habisan akan keberadaan Allah pencipta dan penyelenggara kehidupan.

Untuk teman yang ateis alay, ateis hanya untuk keren-kerenan dan ungkapan pencarian jatidiri, mungkin saya tidak merasa perlu bereaksi dan menganggapnya serius. Anggap saja itu bagian dari pertumbuhan pribadi.

Namun untuk teman yang ateis sungguhan, menurut saya reaksi paling sehat dan win-win baik untuk dia dan saya adalah dengan menganjurkannya untuk tetap menabrakkan keyakinannya dengan realitas semesta yang dialami.

Baik orang ateis maupun orang beriman pasti tak akan kekurangan bahan untuk menabrakkan keyakinan pada realitas, entah realitas ketidakadilan, realitas kejahatan, realitas penderitaan di sekitar.

Bagi dia tabrakan itu perlu dan penting untuk tahu batas-batas kemanusiaan dan memberi ruang tak terbatas pada yang melampaui yang terbatas atau yang transenden. Buat saya sendiri, perjumpaan dengan para hardcore ateis ini juga akan menguji kualitas iman sebagai jawaban saya atas sapaan Allah yang terus menerus dalam kehidupan.

Jika sang ateis beneran dan saya yang mau beneran beriman terus bertekun dalam pencarian nilai hakiki manusia dan semesta mungkin dan jangan-jangan kita akan berjumpa di suatu titik tertentu.

Cerita Injil

Ketika menulis refleksi ini, saya teringat cerita injil ketika Yesus berada ditengah-tengah kerumunan orang banyak. Ada banyak orang bersentuhan dengan dia, namun hanya satu dari orang itu, dialah sang wanita yang mengalami sakit akut pendarahan, yang mengalami mukzizat penyembuhan. Rupanya sikap iman si wanitalah yang menjadi penentu yang membuat rahmat Allah mampu berdayaguna mengingat fakta bahwa banyak orang lain pun bersentuhan dengan rahmat Allah itu.

Dengan refleksi ini, saya hanya mau bilang bahwa saya mungkin akan memberi tanggapan lebih baik terhadap teman ateis pada kesempatan lain. Tanggapan yang pasti saya peruntukkan untuk teman ateis alay nan galau yang menjadi ateis untuk gaya-gayaan saja: Ih, lo malu-maluin ateis beneran aja! (Selesai)

Artikel terkait: Bertemu Kawan Ateis (1)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: