Bersyukur vs Mengeluh

Ayat bacaan: Lukas 9:16
===================
“Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak.”

bersyukur, mengeluh

Saya membaca di koran bahwa suhu kota yang mulai naik akibat matahari bersinar terik mempengaruhi tingkat emosi pemakai jalan. Mungkin ada benarnya, kalau kita melihat betapa kota-kota yang termasuk kategori panas penduduknya cenderung lebih emosional dibanding kota-kota dengan udara sejuk. Itu belum termasuk tinggi rendahnya tekanan hidup. Ada banyak orang yang sulit mengendalikan emosinya akibat terus menerus tertekan lewat berbagai persoalan. Satu pertanyaan hadir di hati saya malam ini: “Apa yang lebih dominan memenuhi mulut kita saat ini?” Apakah keluh kesah, umpatan, omelan, gerutu, atau puji-pujian penuh ucapan syukur? Tidak ada yang mudah dalam hidup ini, apalagi ketika dunia semakin tua semakin dipenuhi krisis. Jumlah penderita darah tinggi meningkat terus dari tahun ke tahun, jumlah orang stres dan depresi juga meningkat.

Saya teringat akan kisah mukjizat Yesus yang menggandakan lima roti dan dua ikan yang mampu memberi makan 5000 orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Itupun masih bersisa 12 bakul penuh. Mari kita lihat apa yang terjadi. Ketika itu ada ribuan orang yang mendengarkan pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah, dan mendapat kesembuhan dari Yesus. Ketika matahari mulai tenggelam, datanglah para murid kepada Yesus dan meminta Yesus agar memulangkan mereka semua, agar mereka bisa makan dan mencari penginapan. Apa jawab Yesus? “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” (Lukas 9:13a). Apa jawab para murid? “Mereka menjawab: “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” (ay 13b). Yesus kemudian meminta lima roti dan dua ikan itu. Perhatikan apa yang selanjutnya dilakukan Yesus. “Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak.” (Lukas 9:16). Yesus mengucap berkat, mengucap syukur, lalu mulai memecah-mecahkan roti. Dari apa yang dilakukan Yesus kita bisa menyaksikan betapa luar biasanya kuasa yang berasal dari ucapan syukur. Ucapan syukur mampu mendatangkan berkat dan mukjizat yang tidak terpikirkan sekalipun. Di sisi lain, lihatlah apa yang terjadi pada orang-orang Israel. Banyak diantara mereka gagal mencapai tanah terjanji, tanah Kanaan. Tuhan telah melepaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, menyediakan masa depan bagi mereka, berjalan langsung di depan memimpin mereka, menurunkan berbagai berkat dan pertolongan selama perjalanan, dan sebagainya. Namun apa yang dilakukan oleh bangsa Israel ketika itu? Bersyukurkah mereka? Mereka malah bersungut-sungut, protes, mulut mereka penuh dengan keluhan, hujatan dan kesinisan, dan itulah yang terjadi. Mayoritas dari mereka gagal mencapai apa yang telah dijanjikan Tuhan.

Amsal Salomo berkata: “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). Hidup yang menggambarkan semangat, gairah, motivasi, pengharapan, dan sebagainya, dikuasai lidah, dan sebaliknya, mati yang menggambarkan depresi, patah semangat, putus asa, dan sebagainya pun dikuasai lidah. Bersungut-sungut tidak akan membawa manfaat apa-apa selain kegagalan bahkan kebinasaan. Dalam Korintus tertulis: “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.” (1 Korintus 10:10). Sebaliknya, kita melihat dari kisah penggandaan lima roti dan dua ikan di atas apa yang bisa terjadi lewat ucapan syukur. Apa yang mengisi mulut kita secara dominan hari-hari ini? Apakah ucapan syukur, puji-pujian atau sebaliknya keluh kesah, umpatan atau makian? Hidup atau mati, itu dikuasai lidah. Lidah yang berasal dari hati yang senantiasa bersyukur akan penuh pula dengan ucapan syukur, begitu pula sebaliknya. Sebuah pesan penting pun muncul. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

Apakah akibat tekanan hidup, panasnya suhu bumi, atau apapun alasannya, hendaklah kita tidak terjebak pada emosi yang merusak jiwa dan hati kita. Selain bisa membawa kita kepada berbagai penyakit bahkan kematian, hal tersebut juga mengarah pada kegagalan bahkan kebinasaan. Hidup yang penuh ucapan syukur akan tetap bersukacita walau badai menerpa sekalipun. Hati yang penuh rasa syukur tidak akan terpengaruh oleh suhu dan tekanan, bahkan bisa mendatangkan berkat dan kuasa mukjizat. Apapun yang kita hadapi hari ini, manis atau pahit sekalipun, jangan pernah berhenti untuk mengucap syukur. Biarlah Tuhan bertahta di atas puji-pujian dan ucapan syukur kita dan alamilah segala kebaikan Tuhan tercurah dalam hidup kita.

Ada kuasa dibalik puji-pujian dan ucapan syukur

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply