Bersimpati Terhadap Kemalangan Orang Lain

Ayat bacaan: Roma 12:15
=====================
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

Anda tentu ingat gempa bumi berkekuatan besar yang menimpa sekitar bulan Maret tahun lalu. Pada saat itu ada seorang musisi dari Amerika yang tengah tour disana dan hampir saja turut menjadi korban. Ia sempat melihat bahwa paving block di pompa bensin menjadi bergelombang karena gempa itu. Ia pun bertahan di dalam van nya selama guncangan berlangsung. Ia sempat tertahan di Jepang untuk beberapa waktu lamanya, tapi ia akhirnya selamat. Setelah kejadian itu ia sempat bercerita kepada saya mengenai pengalaman mengerikan itu. Uniknya, dia tidak mau mengatakan bahwa ia senang bisa selamat dari kejadian itu. Mengapa? Karena ada banyak korban jiwa akibat bencana alam dahsyat tersebut, dan dia berbelasungkawa atas tragedi itu. “I’m thankful to be saved, but I don’t want to be happy for it..my heart goes to the victims..” katanya.

Dalam banyak kesempatan ketika kita merasa bersyukur terhindar dari kejadian buruk, kita seringkali lupa bahwa ada orang lain yang mungkin tidak seberuntung kita. Benar, kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan atas diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Maksud saya, jangan sampai kita mensyukuri keuntungan lalu lupa dengan orang yang menderita, atau malah bergembira di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain. Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, tetapi justru tertuju kepada sesama kita. Itu bisa lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah yang rajin bersyukur namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri. Apa yang diajarkan firman Tuhan berbunyi seperti ini: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Dalam sebuah perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dari Yesus dalam Lukas 18:9-14 kita bisa melihat contoh mengenai hal ini. Di sini Yesus mengambil contoh tentang seorang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Orang Farisi yang merasa paling suci karena menguasai benar hukum Taurat berdoa seperti ini: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;” (ay 11). Lebih jauh lagi, ia terus menyombongkan dirinya. “aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (ay 12). Tapi si pemungut cukai yang statusnya di masyarakat waktu itu sebagai orang berdosa yang dianggap tidak layak dikasihi ternyata bereaksi berbeda. “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (ay 13). Dan mana yang dibenarkan Allah? Yesus menutup perumpamaannya dengan: “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (ay 14). Bentuk syukur orang Farisi ini adalah bentuk syukur di atas kekurangan atau kelemahan dan penderitaan orang lain. Ia bersukacita diatas kemalangan orang-orang berdosa yang seharusnya ia sentuh untuk diselamatkan. Ini sama sekali tidak benar di mata Tuhan. Bagaimana mungkin kita bisa bersyukur melihat orang-orang yang tertimpa masalah, termasuk masih terbelenggu dosa, ketika Yesus sendiri datang justru untuk menyelamatkan semua orang yang berdosa, yang notabene termasuk kita juga di dalamnya?

Malaikat pun menunjukkan reaksi yang sama di Surga. Malaikat dikatakan bersukacita, bersorak sorai bukan ketika melihat mereka yang terjerumus dan tersesat dalam dosa kemudian binasa, namun justru ketika ada orang yang bertobat, bahkan satu orang sekalipun. Di Alkitab ada tertulis: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Lukas 15:10). Kita sebagai anak-anak Allah pun seharusnya berprinsip sama. Ketika ada orang yang mengalami masalah, tertimpa musibah atau kejadian buruk, seharusnya kita memberikan simpati, berempati menolong mereka semampu kita, meringankan beban mereka. Ketika ada yang terjerumus dalam dosa, seharusnya kita berusaha mengingatkan dan membimbing mereka. Jangan malah berpusat pada keuntungan diri sendiri dan bersyukur di atas penderitaan mereka. Turut sepenanggungan, menangis dengan orang yang menangis, dan selanjutnya mengulurkan tangan buat mereka.

Sikap ini bukan hanya berlaku untuk orang-orang yang baik atau dekat kepada kita, tapi juga termasuk untuk mereka yang jahat kepada kita. Kasih Allah yang ada dalam diri kita harusnya tidak berpesta pora ketika mereka ditimpa kejadian buruk. Kristus mengajarkan kita untuk tidak membenci musuh, apalagi mendendam, tapi sebaliknya kita harus mengasihi dan berdoa bagi mereka. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Bukannya merasa senang dan bersyukur atas kemalangan seteru kita, tapi justru kita diperintahkan untuk menolong ketika mereka tertimpa masalah. “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12:20).

Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita hidup sepenuhnya dalam kasih Kristus. Dan aspek-aspek kasih Kristus yang seharusnya memenuhi diri kita termasuk mengenai simpati, empati, turut sepenanggungan, kepedulian dan seterusnya. Kita harus mampu keluar dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri lalu turut merasakan kesusahan orang lain. Senang melihat orang susah, atau sebaliknya susah melihat orang senang, itu bukanlah sikap anak-anak Tuhan. Adalah baik untuk mengucap syukur atas hal-hal yang baik dalam diri kita, tapi jangan sampai karena terlalu sibuk mengucap syukur lalu kita lupa untuk menunjukkan rasa turut sepenanggungan kepada sesama kita yang tengah tertimpa masalah.

Jangan bergembira di atas kemalangan orang lain, termasuk kepada orang yang jahat kepada kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: