Ayat bacaan: Efesus 6:4
=====================
“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Metode mendidik anak berbeda-beda bagi setiap orang tua. Ada yang tingkat kesabarannya panjang, ada yang sumbunya pendek. Ada yang memberi ruang gerak cukup bagi anaknya, ada yang berlaku otoriter, mengekang, menguasai, mengatur tanpa melihat minat dan bakat anak, apa yang menjadi keinginan mereka dan lain-lain. Ada pula orang tua yang tidak peduli karena terlalu sibuk dan hanya menyerahkan anak kepada baby sitter atau pembantunya. Selain otoriter, banyak pula orang tua yang tidak sinkron dalam mendidik. Maksud saya begini. Orang tua melarang anaknya untuk ini dan itu, tapi mereka sendiri melakukan itu di depan anaknya. Bagaimana anak mau mendengarkan nasihat orang tuanya jika orang tua tidak memberi contoh secara langsung? Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan serta keteladanan sangatlah penting dalam mendidik.

Kemarin saya sudah menyinggung bahwa dasar yang harus dipegang dalam mendidik adalah kasih. Kalaupun harus memberi hukuman, itu tetap harus dengan dasar karena kita mengasihi mereka dan demi kebaikan mereka, bukan karena kita hanya ingin menjadikan mereka sebagai pelampiasan amarah kita. Satu hal penting lainnya yang seringkali dilupakan oleh para orang tua adalah kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Ada begitu banyak orang tua yang hanya tahu memerintah tetapi hidup mereka sendiri tidaklah mencerminkan apa yang mereka ajarkan kepada si anak. Sebuah contoh kecil, jika seorang ayah mengajarkan anaknya agar jangan menyakiti teman-temannya, tetapi di sisi lain ia terus saja berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya, bagaimana mungkin si anak bisa memahami apa yang diajarkan? Kebingungan akan melanda mereka, dan mungkin juga rasa marah akan menumpuk hingga menjadi dendam. Dari apa yang saya lihat, orang-orang yang kerap berlaku kasar terhadap orang lain adalah orang-orang yang kehidupan masa kecilnya dalam rumah tangga penuh dengan kekerasan pula. Berbagai dalih dengan mudah dikeluarkan oleh orang tua hanya karena mereka lebih tua atau merasa punya hak penuh terhadap anak sedang si anak dianggap tidak tahu apa-apa bahkan seolah tidak punya perasaan. Jika orang tua berlaku salah, mereka tabu minta maaf, lantas malah mencari pembenaran perbuatan salah dan memaksakan anak untuk menerima semuanya mentah-mentah. “Saya orang tua, kamu anak. Saya berhak melakukan apapun, kamu tidak punya hak untuk protes. Saya boleh melarang sesuka saya, kamu harus nurut.” Banyak orang tua yang punya prinsip ‘mutlak’ seperti itu, tapi sesungguhnya sikap seperti ini bukanlah gambaran yang dikehendaki Allah untuk dilakukan oleh para orang tua.

Firman Tuhan berkata “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Jangan membangkitkan amarah dalam hati anak-anak, didik dalam kebenaran firman Tuhan. Ini adalah dasar penting bagi para orang tua. Amarah seringkali muncul di dalam hati anak-anak lewat perasaan kecewa berkepanjangan karena seringkali sadar atau tidak kita sebagai orang tua melupakan faktor kesesuaian antara perkataan dan perbuatan kita. Itupun tidak menunjukkan sikap kita sebagai orang tua sebagai pelaku firman seperti yang diwajibkan bagi setiap kita. Ini bisa mendatangkan kebingungan bagi anak-anak kita,  dan jika terus dibiarkan atau bahkan dibarengi dengan kekerasan yang seringkali keliru diartikan sebagai sikap tegas, kebencian, dendam, kepahitan, semua ini bisa tumbuh dalam diri mereka. Apa yang kita ajarkan haruslah sesuai dengan perilaku kita. Menjadi contoh nyata merupakan keharusan bagi setiap orang tua. Bukan hanya berhenti sampai mengajarkan moral, budi pekerti dan kerohanian, tetapi kita harus pula siap untuk menjadi teladan dari itu semua. Hanya dengan demikianlah anak akan mampu menyerap semuanya dan hidup dengan keteladanan orang tuanya yang tentu akan sangat bermanfaat pada saat mereka sudah dewasa kelak.

Sebenarnya bukan hanya dalam hal mendidik anak saja, tetapi dalam segala hal kita haruslah menyamakan perkataan dan perbuatan kita, termasuk dalam hal rohani. Kita bisa berkoar-koar memiliki iman, tetapi jika gaya atau cara hidup kita tidak mencerminkan apa yang kita katakan, bagaimana mungkin orang bisa percaya? Dilihat orang rajin berdoa panjang-panjang, tetapi kita hidup dalam kecemasan, kecurigaan atau kesinisan. Rajin beribadah namun isi perkataan kita hanyalah iri hati dan hujatan. Seharusnya tidak seperti itu, karena firman Tuhan berkata iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20) bahkan mati. (ay 26). Sebelum kita mulai mendidik anak-anak kita atau menjadi terang dan garam bagi sekeliling kita, kita harus terlebih dahulu mencermati apakah diri kita sudah menggambarkan apa yang ingin kita sampaikan mengenai kebenaran.

Alkitab berulang kali menyinggung soal pentingnya mempraktekkan atau melakukan kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang telah kita baca atau dengar dalam kehidupan sehari-hari. Membaca itu baik, mendengarkan itu baik, merenungkan itu lebih baik lagi, tetapi yang lebih penting adalah melanjutkan apa yang telah kita baca, dengar dan renungkan itu dengan aplikasi nyata dalam kehidupan kita, termasuk menunjukkan sikap sesuai firman di depan anak-anak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bukan pura-pura. Dalam surat Yakobus kita bisa membaca demikian: “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:25). Sebagai orang tua, marilah kita membenahi diri untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan dan menjadi teladan bagi anak-anak kita. Berhentilah mencari pembenaran-pembenaran di hadapan mereka ketika berbuat salah, dan mari didik mereka dengan kasih, seperti halnya Tuhan mendidik kita dengan kasihNya yang sempurna. Seperti apa mereka di masa depan akan sangat tergantung dari bagaimana sikap hidup kita hari ini dan bagaimana cara kita mengajarkan mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Jadilah orang tua teladan yang mencerminkan Kristus bagi mereka.

Jangan hanya memerintah, melarang dan menegur, tapi berikan keteladanan yang baik lewat sikap kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.