YANG lain boleh menikmati libur pada May Day (Hari Buruh Internasional) tanggal 1 Mei 2014 lalu, namun di hari libur nasional ini justru para pastor dan suster biarawati se-Keuskupan Amboina di Ibukota Ambon, Maluku, justru harus ‘ngantor’. Bukan di tempat kerjanya masing-masing, melainkan di Aula Paroki Katedral Keuskupan Amboina.

Acaranya menarik, yakni memperbincangkan spiritualitas komunikasi bagi kaum hidup bakti bersama narasumber: Pastor Justinus “Ius” Ardianto Pr, Bpk. Errol Jonathans, dan RD Kamilus Pantus Pr dari Komsos KWI.

Acara ini digelar persis di May Day.

Seminar bersama tiga narasumber ini  diikuti setidaknya oleh 19 frater calon imam praja Keuskupan Amboina, 15 suster biarawati dari Kongregasi Suster-suster PBHK, 10 suster biarawati dari Kongregasi DSY, 5 suster biarawati dari Kongregari MM, 5 pastor dan frater dari Kongregasi MSC, 2 suster biarawati dari Kongregasi YMY, 1 imam dari SVD, 1 frater CMM dan 5 staf Komsis Keuskupan Amboina.

Komunikator iman
Seminar sehari memperbicangkan Spiritualitas Komunikasi untuk Para Anggota Kelompok Hidup Bakti ini mendapat sambutan hangat baik dari Mgr. Petrus Turang selaku Ketua Komsos KWI dan Mgr. PC Mandagi MSC, Uskup Diosis Amboina.

Maka dari itu, mewakili Bapak Uskup Diosis Amboina Mgr. PC Mandagi MSC, Sekretaris Keuskupan Amboina RD Konstantinus Fatlolon menyatakan gembira bahwa kegiatan seperti ini bisa terjadi di wilayah Keuskupan Amboina. Dalam sambutannya membuka seminar sehari ini, ia mengatakan bahwa semua peserta ini pada dasarnya adalah para komunikator iman.

Ambon spiritualias komunikasi 1

Suasana seminar tentang spiritualitas komunikasi bagi para anggota kelompok hidup bakti di Aula Katedral Keuskupan Amboina di Maluku, 1 Mei 2014 bersama nara sumber RD Kamilus Pantus Pr (Komsos KWI), RD Yustinus “Ius” Ardianto Pr (KAJ), Errol Jonathans. (Dok. Panitia)

Romo Konstan berpesan kepada peserta agar berproses dengan baik dan sungguh-sungguh. “Kita adalah komunikator yang meneruskan pesan Yesus sebagai Komunikator Utama sekaligus teladan kita kepada umat yang hidup pada zaman kini”.

Harapan dan aplikasi
Tampil sebagai salah satu nara sumber, RD Kamilus Pantus Pr dari Komsos KWI menguraikan pendasaran teologis dan pastoral keterlibatan misi Gereja memanfaatkan media komunikasi modern. Hakekat komunikasi dalam refleksi Gereja Katolik adalah realitas Gereja yang hidup dalam dunia profan yang senantiasa berkembang.

Ambon spiritualitas komunikasi 2

Tekun menyimak: Tiga suster biarawati dengan tekun menyimak paparan seminar tentang spiritiualitas komunikasi untuk para anggota kelompok hidup bakti se-Keuskupan Amboina di Ambon, Maluku. (Dok. Panitia)

Pertanyaannya, kata Romo Pantus, bagaimana sikap dan disposisi Gereja terhadap perkembangan media komunikasi dan terutama bagaimana disposisi biarawan-biarawati sebagai gembala yang berkarya di Keuskupan Amboina.

RD. Yustinus yang pernah belajar Teologi Komunikasi di Filipina, mengulas dengan sangat menarik Spiritualitas Komunikasi. Spiritualitas komunikasi ini mengambil sumber utama yakni spiritualitas Yesus sendiri.

Materi ini dikemas dengan judul: “MINISTRY 3.0. Spiritualitas Komunikasi Bagi Para Pewarta Iman”.

Romo Ius menegaskan bahwa dalam teologi, komunikasi bukanlah unsur tempelan, melainkan unsur intrinsik. Karena itu, Gereja, tidak akan berjalan dengan baik tanpa memperhatikan tren di dunia komunikasi saat ini (pastoral komunikasi).

Ambon seminar berempat

Bersama nara sumber dalam seminar tentang spiritualitas komunikasi. (Dok. Panitia)

Lebih lanjut, Pastor Gereja Paroki Kalvari di Lubang Buaya Pondo Gede Bekasdi (KAJ), ini menguraikan beberapa prinsip penting bagi komunikator iman, antara lain: memiliki keterampilan menyesuaikan konteks, berangkat dari pengalaman nyata namun menghindari pewartaan diri, memiliki kemampuan komunikasi baik dalam group maupun personal, serta memiliki sikap dasar audience-oriented.

Bpk. Errol Jonathans menjelaskan data-data pesatnya perkembangan media komunikasi modern. Manusia tentu bangga dengan hasil karya intelektualnya di bidang komunikasi serentak menjadi persoalan tatkala banyak diantara manusia belum mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada.

Kesan dan pesan
Menurut para peserta, mereka mendapat kesan positif atas terselenggaranya seminar sehari dengan topic spiritualitas komunikasi ini. Mereka mengaku telah diperkaya dalam hal pengetahuan sembari tetap selalu berharap agar acara-acara seperti ini bisa secara reguler diadakan untuk kaum awam.

Frater Diakon Misael Batmomolin dengan jujur mengakui “Kegiatan seminar ini memperkaya pengetahuan kami dan kami harus belajar banyak menggunakan sarana-sarana komunikasi secara baik dan sesuai etika komunikasi”.

Sementara Pastris Angwarmas Pr punya harapan agar kegiatan seperti ini dapat diadakan lagi untuk masa-masa mendatang. “Bukan hanya sehari, melainkan 3-4 hari sekaligus terbuka kesempatan untuk pelatihan praktis mengolah ketrampilan berkomunikasi,” tandasnya.

Kesan positif juga diungkapkan oleh Pastor Patris dan Diakon Misael. Mereka berharap agar acara seperti ini kembali diadakan untuk waktu yang akan datang.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.