Bersama Bunda Maria Kian Mengasihi Yesus Kristus

asuncion-indexMINGGU, 10 Agustus 2014 HR SP Maria Diangkat ke Surga Why 11:19a; 12:1.3-6a; Mzm 45:10-12.16; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56   “Lalu kata Maria: Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba- Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Lukas 1:46-48) Hari ini, Gereja Katolik […]

asuncion-index

MINGGU, 10 Agustus 2014
HR SP Maria Diangkat ke Surga
Why 11:19a; 12:1.3-6a; Mzm 45:10-12.16; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56
 
“Lalu kata Maria: Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba- Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Lukas 1:46-48)

Hari ini, Gereja Katolik (di) Indonesia mengajak umat untuk merayakan St. Perawan Maria Diangkat ke Surga yang menurut penanggalan liturgi universal jatuh pada tanggal 15 Agustus. Bukan tanpa maksud dan tujuan. Saya menduga, tujuannya adalah agar semakin banyak umat Katolik ikut ambil bagian dalam perayaan ini.

Dugaan saya itu berdasarkan data di paroki-paroki melalui realitas ini. Ada sejumlah hari raya yang oleh Gereja Katolik ditetapkan sebagai peristiwa iman, namun dirayakan pada hari biasa, bukan hari Minggu. Kenyataannya, perayaan liturgis sebagai Hari Raya yang tidak jatuh pada hari Minggu, tidak terlalu menjadi perhatian umat.

Lihatlah misalnya, Hari Raya Yesus Naik ke Surga atau Hari Raya Hati Kudus Yesus atau Hari Raya lain yang dilaksanakan pada hari-hari biasa. Hanya Hari Raya Natal saja yang sudah dan selalu menjadi perhatian umat. Itupun dengan catatan, umat yang sudah ikut Misa Suci pada Malam Natal, banyak yang tidak merasa perlu lagi ikut Misa pada Hari Raya Natal paginya. Bahkan, untuk Hari Raya Paskah yang selalu jatuh pada hari Minggu pun, jujur kita akui, di sejumlah paroki umat yang ikut dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Paskah di Hari Minggu Paskah juga tidak sebanyak dalam Perayaan Ekaristi Malam Paskah.

Hari Raya St. Perawan Maria, hemat saya, merupakan hari raya yang penting. Pada hari ini kita semua, umat Katolik merayakan masa depan kehidupan surgawi kita. St. Perawan Maria sebagai Bunda Yesus Kristus dan Bunda Gereja dan dengan demiki menjadi Bunda bagi seluruh umat beriman telah dimuliakan dalam sukacita surgawi. Bunda Maria yang telah melahirkan, mendidik dan dengan setia menyertai Yesus Kristus saat berkarya di dunia, dari lahir hingga kenaikan-Nya ke surga, mendapat karunia penebusan Sang Putra. Tak mungkin Bunda Maria tidak diangkat dalam kemuliaan surgawi setelah segala sesuatu yang beliau hayati, wujudkan dan laksanakan dengan taat setia di dunia ini.

Kidung pujian St. Perawan Maria (Magnificat) sebagai diserukannya sejak awal, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba- Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Lukas 1:46-48) digenapi melalui Hari Raya St. Perawan Maria diangkat ke surga.

Ibu Maria menjadi Ibu surgawi kita. Ketika seorang ibu berada dalam kemuliaan surgawi, tidak mungkin St. Perawan Maria melupakan dan mengabaikan anak-anak-Nya. Ini menjadi pengharapan penuh iman dalam diri Gereja Katolik. Iman akan Yesus Kristus ditandai dengan pengharapan yang nyata melalui fakta dan peristiwa St. Perawan Maria.

Bagaimana peristiwa ini dikaitkan dengan Adorasi Ekaristi Abadi? Jelas. Kehidupan surgawi dalam naungan St. Perawan Maria yang diangkat ke surga membawa kita sampai pada pengalaman adoratif surgawi. Kehidupan surgawi adalah kehidupan yang selalu ditandai oleh sikap sembah sujud tanpa henti kepada Allah yang telah mengasihi kita melalui Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. St. Perawan Maria pun senantiasa menyertai anak-anaknya yang di dunia ini tekun setia dalam gerakan Adorasi Ekaristi Abadi. Kita yang tekun setia dalam Adorasi Ekaristi Abadi tidaklah sendirian. St. Perawan Maria, Ratu Surgawi, senantiasa menyertai kita dalam sembah sujud kepada Yesus Kristus, Putranya.

Karenanya, dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita pun boleh berseru bersama St. Perawan Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba- Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Lukas 1:46-48).

Marilah berdoa: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuh-Mu, Yesus. Santa Perawan Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply