Bersabarlah

Ayat bacaan: Ibrani 6:15
===================
“Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.”

bersabar

Apakah anda termasuk orang yang bisa bersabar menunggu sesuatu atau seseorang? Bagi kebanyakan orang, menunggu seringkali menjadi masalah tersendiri. Saya telah bertemu dengan begitu banyak orang yang mengomel, jengkel bahkan marah ketika mereka harus menunggu. Agaknya masalah kesabaran di Indonesia ini masih menjadi sesuatu yang harus ditingkatkan. Lihat saja ada begitu banyak orang yang memotong antrian seenaknya tanpa merasa bersalah. Apakah itu di depan kasir, di toko/supermarket, di depan loket karcis bioskop, di depan toilet umum dan sebagainya. Sebaliknya orang yang dipotong  ketika sedang mengantri pun akan langsung marah baik secara terang-terangan atau setidaknya memasang wajah masam atau ngomel kecil. Ada banyak orang pula yang emosinya meningkat ketika ia harus menunggu lama dalam antrian dan segera mulai mengeluarkan kata-kata yang tidak baik. Di jalan raya? Sama saja. Seorang musisi dari luar negeri yang pernah saya wawancarai berkata bahwa ia kaget melihat semrawutnya jalan di ibu kota. Masih lumayan kalau cuma macet, tapi tentu saja seperti yang sering kita lihat masalah di jalan masih harus ditambah dengan orang-orang yang dengan berbuat sesuka hatinya tanpa mengindahkan rambu atau peraturan lainnya. Si musisi tadi berkata, meski dibayar sekalipun ia tidak akan pernah mau mengemudi di kota Jakarta. “It looks scary and dangerous..they looked so impatient.” katanya. Saya rasa masalah kesabaran ini merupakan sesuatu yang benar-benar masih harus dilatih dan diupayakan secara serius di negara kita.

Dalam menunggu datangnya jawaban dari Tuhan pun kita seringkali tidak sabar. Kita sering terbiasa untuk memaksakan Tuhan untuk menjawab sesuai kehendak kita. Kita menuntut frame waktunya Tuhan haruslah sesuai dengan frame waktu kita. Dan ironisnya, hal ini kita anggap sebagai hal yang lumrah. Tanpa merasa bersalah kita menuntut Tuhan untuk memenuhi segala keinginan kita. Jika itu belum atau tidak terjadi? Kita akan bersungut-sungut, atau yang lebih parah malah menghujat atau bahkan meragukan keberadaan Tuhan. Sesungguhnya ini adalah sebuah kesalahan fatal yang bisa berakibat hilangnya semua berkat Tuhan dari diri kita. Dan ini pun seringkali menjadi titik lemah manusia yang dijadikan celah bagi iblis untuk menjadi pintu masuknya.

Berbicara soal sabar, kita bisa belajar dari banyak tokoh alkitab, salah satunya Abraham. Ia mulai menerima janji Tuhan ketika ia berusia 75 tahun. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan menjadikannya keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. (Kejadian 12:2). Kapan janji Tuhan itu terealisasi? Kita tahu bahwa anak yang dijanjikan Tuhan itu baru hadir ketika Abraham berusia 100 tahun. Artinya ada rentang 25 tahun hingga janji Tuhan itu digenapi. Bersungut-sungutkah Abraham? Tidak. Kita tahu bagaimana taatnya Abraham lewat imannya. Ia memang sempat menuruti keraguan istrinya untuk mengambil Hagar, hingga Ismael pun hadir di usianya yang ke 86. Perhatikanlah akibatnya cukup fatal. Kita bisa melihat hingga hari ini bagaimana sulitnya hubungan antara keturunan Ismael dan Ishak. Semua itu berawal dari ketidaksabaran, dan akibatnya fatal. Tapi Abraham sendiri sebenarnya taat dan tekun dalam menanti. Ia tetap sabar tanpa peduli akan usianya. Secara manusia tentu sudah tidak mungkin, apalagi istrinya pun sudah lama menopause. Tapi itu merupakan janji Tuhan, dan jika itu janji Tuhan maka itu pasti terjadi. Abraham tahu itu. Ketika Tuhan menyatakan bahwa Ismael bukanlah ahli waris seperti yang dijanjikan Tuhan (15:5), Abraham taat dan percaya kepada Tuhan. Ketika Tuhan berkata: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (ay 5), kita melihat tidak ada sedikitpun bantahan atau pertanyaan lanjutan dari Abraham. Alkitab mencatat kejadian selanjutnya dengan manis. “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”  (ay 6). Tuhan memperhitungkan keyakinan Abraham sebagai sesuatu yang menyenangkan hatiNya. Ketika mencapai usia 100 tahun, Abraham pun memperoleh janji Tuhan. “TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.” (21:1-2). 25 tahun menanti tentu bukan masa yang singkat. Apalagi ketika usia itu hadir di usia senja. Namun iman Abraham besar, iman yang membuatnya bisa percaya dan sabar meski secara logika tidak ada dasar apapun untuk berharap akan hal
itu.

Kelak ribuan tahun setelah masa Abraham, Penulis Ibrani kembali menyajikan kesaksian Abraham untuk menguatkan orang-orang Ibrani. “Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.” (Ibrani 6:15). Kita bisa belajar dari ayat ini tentang bagaimana caranya untuk memperoleh janji Tuhan digenapi dalam kehidupan kita. Kuncinya adalah menanti dengan sabar. Dari sini kita bisa melihat bahwa kesabaran dalam menunggu sungguh merupakan sebuah faktor penting yang akan sangat menentukan apakah kita akan menerima janji Tuhan atau tidak. Petrus mengingatkan :“Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” (2 Petrus 3:8). Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa waktu Tuhan tidaklah sama dengan waktu kita. Tidak berhenti sampai disitu, Petrus pun melanjutkan dengan mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak akan pernah terlambat menepati janjiNya, meski mungkin menurut waktu kita itu terlalu lama. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (ay 9). Meski rasanya terlambat menurut perhitungan kita, tapi waktu Tuhan tidaklah sama. Itu sama sekali bukan berarti Tuhan lalai dalam menepati janji. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Dia menjanjikan untuk selalu membuat segalanya indah pada waktunya.“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkotbah 3:11).

Kesabaran adalah salah satu buah Roh. (lihat Galatia 5:22). Kesabaran akan membuahkan hasil, karena Tuhan kita bukanlah Tuhan yang suka ingkar janji. Iman akan membawa kita untuk teguh dalam pengharapan, dan terus bertekun dalam kesabaran yang penuh karena kita percaya janji Tuhan akan selalu digenapi. Abraham mendapat sebuah janji yang secara akal sehat manusia tidak memiliki dasar logika sama sekali. Tapi ia percaya sepenuhnya, dan kita melihat bagaimana janji itu digenapi. Dalam Roma hal ini kembali disinggung. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” (Roma 4:18-21). Dan kembali kita bertemu dengan firman Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan berkenan atas imannya, hal itu diperhitungkan sebagai kebenaran. (ay 22). Jika itu bisa terjadi kepada Abraham, hal yang sama bisa terjadi pada kita pula, sebab “Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja,tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.”  (ay 23-25). Itu janji Tuhan, dan kita tidak akan bisa memperolehnya tanpa sebentuk kesabaran dan kepercayaan penuh.

Paulus mengingatkan Timotius agar mampu menguasai diri dalam segala keadaan, dan sabar dalam penderitaan. (2 Timotius 4:5). Pesan ini pun masih berlaku bagi kita yang seringkali terburu-buru dalam mengatasi masalah, selalu mencari jalan pintas dan tetap memilih meski mungkin hal itu bertentangan dengan firman Tuhan sekalipun. Padahal kesabaran akan membawa kita menuai janji-janji Tuhan yang pasti akan selalu digenapi. Paulus memberikan kunci penting kehidupan dalam kasih dalam kitab Roma 12:9-21). Dan salah satu bagiannya berbunyi sebagai berikut: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (ay 12). Abraham mampu bersabar selama 25 tahun, mengatasi segala ketidakmungkinan dan kemustahilan jika memakai logika manusia. Ia tidak hilang harapan meski usianya terlihat sangat tidak memungkinkan untuk menunggu terlalu lama. Dan hasilnya? Abraham menuai janji Tuhan. Bukan waktu kita, tapi waktu Tuhanlah yang penting. Sebab Dia tahu apa yang terbaik buat kita dan Dia telah merancangkan segala sesuatu itu indah pada waktunya bagi kita. Jika demikian, bersabarlah. Nantikan janji Tuhan dinyatakan kepada anda pada waktu yang paling tepat sesuai waktunya Tuhan.

Latih diri untuk bersabar agar kita tidak kehilangan janji Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: