Berpikir Yang Terbaik tentang Orang Lain daripada Yang Terburuk

22 Juni - RmA ISenin, 22 Juni 2015 Kej. 12:1-9; Mzm. 33:12-13,18-19,20,22; Mat. 7:1-5. Yesus Kristus bersabda, “Jangan menghakimi…” BETAPA mudah kita menghakimi orang lain. Kita juga dengan mudah menghakimi orang lain dalam cara pandang kita yang negatif. Sangat mudah kita berkesimpulan tentang orang lain berdasarkan yang kita lihat dan dengan mudah pula menghakimi orang lain berdasarkan yang kita dengar saja. Bagaimana kita dapat menghindari racun dosa dengan tidak mudah menghakimi orang lain secara tidak adil? Bagaimana kita tidak tekontaminasi oleh penilaian siapa baik siapa buruk, terutama menganggam buruk orang lain? “Jangan menghakimi…” Dengan mengatakan sabda ini, tampak jelas bahwa Yesus Kristus mengundang kita untuk berpikir yang terbaik tentang orang lain. Itu penting dan perlu jika kita ingin bertumbuh dalam kasih. Lebih mudah mencari-cari kesalahan orang lain dari pada diri sendiri. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita menyembah Yesus Kristus, kita belajar untuk mewiweka (berdiskresio) hingga kita tidak mudah menghakimi orang lain secara tidak adil. Kita juga berdoa agar kita dapat selalu memuji daripada mengkritik, bersimpati daripa memojokkan, membangun daripada menghancurkan hingga kita dapat berpikir tentang yang terbaik tentang yang lain daripada melihat kejelekannya. Kita juga mohon agar belas kasih, bukan kebencian, yang membimbing kita untuk mengampuni sesama. Tuhan Yesus Kristus, Engkau tahu kesalahan, kelemahan dan dosa-dosa kami bahkan ketidaksempurnaan dan dosa-dosa yang tersembunyi dalam hati kami yang bahkan tidak mampu kami kenali sendiri. Namun, dengan sabar Engkau menarik kami pada belas kasih penyembuhan-Mu. Singkirkanlah kanker dosa hati kami karena kami percaya akan belas kasih dan rahmat Allah. Semoga kami memiliki ruang penuh belas kasih dalam tindakan karitatif kepada sesama kami kini dan selamanya. Amin. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

22 Juni - RmA I

Senin, 22 Juni 2015
Kej. 12:1-9; Mzm. 33:12-13,18-19,20,22; Mat. 7:1-5.
Yesus Kristus bersabda, “Jangan menghakimi…”

BETAPA mudah kita menghakimi orang lain. Kita juga dengan mudah menghakimi orang lain dalam cara pandang kita yang negatif. Sangat mudah kita berkesimpulan tentang orang lain berdasarkan yang kita lihat dan dengan mudah pula menghakimi orang lain berdasarkan yang kita dengar saja.

Bagaimana kita dapat menghindari racun dosa dengan tidak mudah menghakimi orang lain secara tidak adil? Bagaimana kita tidak tekontaminasi oleh penilaian siapa baik siapa buruk, terutama menganggam buruk orang lain? “Jangan menghakimi…”

Dengan mengatakan sabda ini, tampak jelas bahwa Yesus Kristus mengundang kita untuk berpikir yang terbaik tentang orang lain. Itu penting dan perlu jika kita ingin bertumbuh dalam kasih. Lebih mudah mencari-cari kesalahan orang lain dari pada diri sendiri.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita menyembah Yesus Kristus, kita belajar untuk mewiweka (berdiskresio) hingga kita tidak mudah menghakimi orang lain secara tidak adil. Kita juga berdoa agar kita dapat selalu memuji daripada mengkritik, bersimpati daripa memojokkan, membangun daripada menghancurkan hingga kita dapat berpikir tentang yang terbaik tentang yang lain daripada melihat kejelekannya. Kita juga mohon agar belas kasih, bukan kebencian, yang membimbing kita untuk mengampuni sesama.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau tahu kesalahan, kelemahan dan dosa-dosa kami bahkan ketidaksempurnaan dan dosa-dosa yang tersembunyi dalam hati kami yang bahkan tidak mampu kami kenali sendiri. Namun, dengan sabar Engkau menarik kami pada belas kasih penyembuhan-Mu. Singkirkanlah kanker dosa hati kami karena kami percaya akan belas kasih dan rahmat Allah. Semoga kami memiliki ruang penuh belas kasih dalam tindakan karitatif kepada sesama kami kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply