Berontak vs Taat (2)

(sambungan)Lihatlah ketika janji berkat diberikan Tuhan dalam kitab Ulangan 28:1-14, Tuhan memulai firmanNya dengan: “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada…

(sambungan)

Lihatlah ketika janji berkat diberikan Tuhan dalam kitab Ulangan 28:1-14, Tuhan memulai firmanNya dengan: “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 28:1-2). Segala berkat akan hadir apabila kita mendengar suara Tuhan dengan seksama, lalu melakukan DENGAN SETIA segala perintahNya. Itu jelas berbicara mengenai ketaatan, dan ketaatan, bukan pemberontakan, itulah yang akan mendatangkan berkat.

Contoh orang-orang bertipe atau berkarakter pemberontak mudah dijumpai di Alkitab. Salah satunya adalah Saul, raja Israel. Saul memulai segalanya dengan indah. Ia dikatakan sebagai orang yang penuh urapan, penuh Roh Allah seperti halnya nabi (1 Samuel 10:10). Tapi Saul ternyata imannya lemah. Alkitab mencatat ia hidup dalam ketidaktaatan, ia sering menyerah kedalam kecemasan, dan akhirnya roh pemberontakan pun tumbuh dalam dirinya. Saul memulai langkah sebenarnya dengan gemilang, tetapi berakhir tragis. Dan itu semua karena sikapnya sendiri.

Teguran dijatuhkan Tuhan kepada Saul lewat Samuel. “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.” (1 Samuel 13:13-14). Pemberontakan yang ia lakukan dianggap Tuhan sebagai sebuah kebodohan, dan itu membuat hidupnya berakhir dengan sangat mengenaskan.

Kepada Tuhan kita tidak boleh memberontak, dalam kehidupan kita di dunia pun kita tidak seharusnya melakukan hal itu. Prinsip ketaatan menjadi salah satu dasar Kekristenan, dan ini sudah seharusnya bisa ditampilkan oleh anak-anak Tuhan dalam kehidupannya. Kepada pemimpin kita diminta untuk taat, meski mungkin apa yang diputuskan pemimpin tidak sesuai dengan kehendak atau keinginan kita. Penulis Ibrani berpesan: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17). Kalau seorang pemimpin harus terus mengurus orang-orang yang melawan, memberontak dan membuat rusuh, kapan mereka punya waktu untuk bekerja membangun bangsa? Pada akhirnya kita sendiri yang rugi.

Selalu saja ada jalan dari Tuhan untuk memberkati kita dan melepaskan kita dari situasi yang menekan kita tanpa harus memberontak dan melawan. Seberat atau sesulit apapun anda mengalami ketidakadilan atau tekanan saat ini, jangan memberontak, apalagi kalau dilakukan terhadap Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala hal bahkan yang tidak terselami oleh pikiran kita sekalipun pada waktunya. Oleh karena itu, dengan iman, tetaplah taat, tetaplah lakukan apa yang menjadi bagian kita dan lihat sendiri nanti bagaimana luar biasanya ketika Tuhan melakukan bagianNya.

Bukan memberontak tapi taat, itulah karakter dan prinsip kekristenan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply