Bermasalah dengan Mood Jelek (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 10:5b
========================
“..Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”

Apakah anda termasuk orang yang moodnya swing alias naik turun? Jika ya, tahukah anda bahwa mood seperti itu tidak saja merusak bagi anda sendiri tapi juga bisa berpengaruh kepada mood orang lain? Seorang teman saya tengah diambang perceraian bukan karena masalah-masalah besar seperti selingkuh, kondisi ekonomi yang tidak baik dan sejenisnya, tapi hanya karena sudah tidak tahan lagi menjalani bahtera rumah tangga yang terus panas. Saya menanyakan apakah ia sudah mencoba memeriksa dirinya sendiri, karena seringkali masalah justru hadir lewat perilaku kita sendiri yang mengganggu pasangan hidup kita tanpa kita sadari. Tapi menurutnya ia sudah berusaha memberi yang terbaik. Menurut pengakuannya ia telah menekan egonya sampai ke titik terendah, terus mengalah dan berusaha keras membuat suasana di rumah kembali harmonis dalam keseimbangan yang baik. “Setiap saya mengalah, ia akan terus menginjak lebih jauh lagi. Kalau saya melawan, ia malah makin keras. Ia tidak mau meminta maaf meski jelas-jelas salah, sayalah yang terus-terusan harus membujuknya walaupun saya yang tersinggung.” kata teman saya. Mood istrinya yang swing membuat suasana rumah ia rasakan seperti ditimpa bara api. “Ada banyak hal yang sebenarnya seharusnya saya peroleh lewat istri. Ada kalanya saya butuh comfort jika sedang susah pikiran, tapi bukan comfort yang saya dapat melainkan sikap ego lewat emosinya yang liar. Yang lebih disayangkan lagi, ini terjadi bukan setelah pernikahan puluhan tahun, tetapi baru menginjak tahun ke 5. Saat ini saya masih berusaha agar ia mengurungkan niatnya karena perceraian biar bagaimanapun tidak akan mendapat pembenaran di hadapan Tuhan, tetapi hari ini mari kita belajar untuk menguasai mood agar tidak naik turun tanpa terkendali sehingga pada akhirnya hanya akan merugikan diri anda dan orang-orang yang anda sayangi.

Mood alias suasana hati adalah bentuk olahan pikiran yang berhubungan dengan perasaan. Mengapa saya katakan demikian? Karena seringkali mood seseorang akan sangat tergantung dari pola pikirnya. Jika ia terus memikirkan hal negatif atau buruk, maka mood akan down dan emosi bisa cepat terbakar bagai rumah yang dilalap api. Apakah itu karena memikirkan masa depan yang tampak suram, terus merasa kekurangan, depresi atas pekerjaan, cemas atas berbagai persoalan hidup atau karena stres menghadapi sibuknya aktivitas sehari-hari, suasana hati akan terbentuk dengan mengikuti pola pikiran yang sedang hinggap dan berdiam di benak seseorang. Lewat pengamatan saya dan pengalaman-pengalaman baik diri sendiri maupun menghadapi orang-orang yang bermasalah dengan mood, soal  mood yang jelek adalah sesuatu yang tumbuh membesar seiring waktu. Maksud saya, apabila mood yang tidak stabil terus dibiarkan merajalela dalam diri kita, kondisinya bisa terus membesar dan semakin parah, hingga pada suatu ketika tidak lagi bisa dikendalikan. Kita mungkin merasa wajar jika sekali waktu suasana hati kita sedang buruk, tetapi coba pupuk maka kita akan begitu mudah mengalami mood jelek meski lewat situasi yang tidak parah-parah amat atau malah ketika segalanya sebenarnya cenderung tanpa masalah. Ada orang yang sedang bernyanyi disebelah kita, kita bisa merasa terganggu, ada yang bicaranya agak keras kita terganggu, ada mobil yang menyalip atau berjalan lamban di depan bisa membuat kita marah. Pendeknya sedikit-sedikit marah, kesal dengan mood yang langsung berantakan. Dalam kehidupan rumah tangga ini bisa menjadi momok yang meretakkan dan menghancurkan. Anda bisa bayangkan sosok suami yang otoriter, pulang dengan suasana hati buruk, membawa kekesalan kerja ke rumah, hanya memerintah dan menuntut, bersikap kasar baik lewat kata-kata maupun ringan tangan. Sebaliknya suami yang berhadapan dengan istri yang mau menang sendiri, gampang tersinggung, menolak dinasihati, sulit untuk berbaikan, tidak peduli perasaan suami tapi selalu menuntut dimengerti, mudah menyalahkan suami jika tidak sesuai dengan pendapatnya, gemar memerintah dan suka melarang apapun yang ingin dilakukan suaminya tanpa alasan jelas, kesal melihat suaminya santai dan sebagainya. Ini akan membuat rumah menjadi panas bagai medan perang terbuka. Tidak ada lagi yang sadar bahwa disana sebenarnya iblis akan berpesta pora membuat semuanya menjadi hancur habis-habisan. Ini adalah habitat yang sangat disenangi si jahat, yang seharusnya tidak boleh kita biarkan berkembang dalam kehidupan kita. Pada akhirnya semua berakhir, bahkan penyesalan tidak lagi bisa mengembalikan situasi sama seperti sebelum semua itu terjadi.

Jika demikian, bisakah mood dikendalikan? Tentu saja bisa, malah seperti itulah seharusnya. Kita tidak boleh membiarkan mood merusak performance kehidupan kita sehingga kita tidak bisa tampil baik, baik dalam hal bekerja maupun dalam hubungan sosial antar manusia, pertemanan terlebih keluarga. Agar bisa melakukan ini, Alkitab mengajarkan kita lewat Paulus dan rekan-rekan sekerjanya yang terus berusaha untuk menghancurkan berbagai pola pemikiran yang dibangun lewat keangkuhan/kesombongan yang sebenarnya menentang pengenalan akan Allah yang penuh kasih. “..Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5b). Menaklukkan, menangkap hingga menyerah total, menundukkan, to make it fully surrendered into the obedience of Christ. Itu yang dianggap Paulus merintangi pengenalan akan kebenaran firman Tuhan terlebih pengaplikasiannya dalam kehidupan manusia. Jadi untuk bisa mengendalikan mood yang naik turun tak karuan, kita harus menawan segala pikiran kita dan menaklukkannya kepada Kristus. Make them all fully surrendered, take away all the power and force of our thoughts into Christ. 

Lewat Yesaya firman Tuhan berkata: “dimana ada kebenaran disitu akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenteraman.” (Yesaya 32:17) Perhatikan baik bahwa damai sejahtera tumbuh sebagai efek atau dampak dari kebenaran, dan itu bukan hanya untuk sementara tapi dikatakan selamanya. Jadi jelas bahwa damai sejahtera akan tumbuh apabila manusia hidup dengan kebenaran Allah,  mematuhi dan melaksanakan ketetapan-ketetapan Tuhan dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh dan tidak pilih-pilih. Selanjutnya dalam bagian lain di kitab Yesaya kita bisa melihat ayat lainnya yang jugabberhubungan, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”(26:3). Orang yang teguh hati, yang pikiran dan perbuatannya selalu melekat pada Tuhan, berserah dan bergantung kepada Tuhan dan terus berharap kepada Tuhan, itulah yang akan dijaga Tuhan dengan damai sejahteraNya. Sebuah damai sejahtera yang sejati berasal dari Allah dan tidak bisa digantikan dengan yang lain, itulah yang akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: