Berlayar Melawan Arus Dunia

Ayat bacaan: Markus 6:48
====================
“Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.”


berlayar melawan arus dunia

Pengaruh buruk dan penyesatan ada di mana-mana. Tidak saja menimpa orang dewasa, tapi anak-anak kecil pun bisa terkena pengaruh buruk ini. Tadi pagi saya mendengar sekelompok anak balita yang sedang berjalan tepat di depan rumah saya. Salah seorang dari anak ini tampaknya sedang menggoda temannya dengan berkata bahwa si teman itu kedapatan berada di kamar terkunci bersama teman perempuannya, yang juga berjalan bersama mereka. “Sedang ngapain berduaan di kamar seperti itu? Ya jelas sedang anu-anuan..” katanya sambil tertawa. Bayangkan anak kecil yang masih balita sudah bisa berkata demikian. Ini tentu bukan atas ajaran orang tuanya, tapi akibat apa yang mereka tonton atau dengar. Lagu-lagu pun di hari-hari sekarang ini banyak yang mengajarkan hal buruk. Kita mungkin tertawa mendengarnya, atau mencibir, namun sedikit banyak lagu-lagu dengan lirik negatif seperti ini bisa merusak moral banyak orang. Selingkuh menjadi sesuatu yang punya alasan dan karenanya menjadi sesuatu yang wajar, atau adalah wajar jika kita berpura-pura cinta untuk mendapatkan kepuasan. Inilah lagu-lagu negatif di jaman sekarang yang ironisnya menjadi sesuatu yang wajar. Berbagai sinetron di televisi pun banyak yang menggambarkan perselingkuhan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Melawan arus dunia seperti ini tidaklah mudah karena serangannya bisa dari segala arah. Salah-salah, kita bisa terbawa arus dalam berlayar mengarungi kehidupan, dan akibatnya mendarat pada tujuan akhir yang salah.

Tepat setelah Yesus melakukan mukjizat memberi makan 5000 orang dengan menggunakan hanya lima roti dan dua ikan, murid-murid Yesus segera diperintahkan untuk berlayar terlebih dahulu menuju Betsaida, sementara Yesus sendiri pergi ke atas bukit untuk berdoa. Seiring berjalannya waktu, mereka sudah sampai di tengah-tengah. Tapi malam itu ada angin sakal di danau. Angin sakal adalah angin yang berlawanan dengan arah perahu, bertiup datang dari depan. Karenanya merekapun kepayahan mendayung kapal untuk melawan arah angin. Di saat tengah malam mencapai masa-masa puncaknya, sekitar jam tiga, dan disaat mereka mungkin mulai kelelahan mendayung, datanglah Yesus dengan berjalan di atas air. Markus mencatat demikian: “Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.” (Markus 6:48). Mungkin karena sempat kelelahan mendayung, konsentrasi mereka menjadi lemah, dan sempat kaget mengira bahwa yang mendatangi mereka adalah hantu. Mereka pun panik. (ay 48). Tapi Yesus berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay 50). Begitu Yesus naik ke perahu, serta merta angin pun reda. (ay 51). Mereka pun bisa mendayung dengan tenang hingga sampai ke tujuan.

Kita saat ini pun tengah mengarungi lautan kehidupan. Mungkin saat ini kita sudah sampai di pertengahan perjalanan, dan angin sakal mulai bertiup sehingga kita mulai kelelahan mengemudikan kapal kita untuk terus maju ke depan hingga sampai ke tujuan akhir kita, menuju sebuah kehidupan kekal penuh sukacita tanpa ratap tangis bersama Bapa di Surga. Mungkin saat ini terpaan angin sakal membuat kita kesulitan untuk mengarungi perjalanan kita. Sulit melawan arus dunia yang penuh tipu muslihat, ketidakadilan dan kesesatan. Pergaulan yang buruk, lingkungan yang tidak sehat, hal-hal negatif yang kita lihat dan dengar di sekitar kita, segala kedagingan duniawi, dan sebagainya, seringkali membuat kita menjadi lemah ketika kita berusaha melawannya. Ayat hari ini mengajarkan kita untuk berhenti menggunakan tenaga sendiri. Di antara murid-murid Yesus ada beberapa nelayan handal, yang seharusnya sudah tahu bagaimana cara berlayar yang baik dan benar, tapi mereka tetap saja kepayahan dan menemui masalah dalam perjalanan ketika didera angin yang berlawanan. Di saat seperti itulah kita bisa mulai belajar untuk mengandalkan Tuhan. Berkali-kali Tuhan berkata “Jangan takut”. Jika ada penyertaan Tuhan dalam hidup kita, kita memang tidak perlu takut. Lihatlah ketika Yesus naik ke dalam kapal, angin sakal langsung berhenti saat itu juga. Dalam mengarungi lautan kehidupan ini kita akan terus berhadapan dengan angin sakal. Pada satu waktu kita akan mulai kesulitan, tidak peduli seberapa hebatnya kita sebagai manusia, kita akan mengalaminya cepat atau lambat. Karena itulah kita butuh Yesus menyertai dalam perjalanan kita agar kita bisa sampai ke tujuan yang benar seperti apa yang dikehendaki Tuhan bagi hidup kita. Ketika ada Tuhan dalam perahu hidup kita, kita pun tidak perlu takut, meski sedang berlayar melawan arus dan dalam kekelaman malam sekalipun. Mazmur Daud berkata demikian: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:1-4). Itu janji Tuhan kepada setiap orang yang berlayar dengan penyertaan Tuhan. “Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:24). Ini janji Tuhan pada kita, jika kita tetap menjaga hidup kita agar selalu berkenan di hadapanNya. (ay 23).

“Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang…Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 24:11,13). untuk dapat bertahan mengayuh bahtera kehidupan kita butuh penyertaan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Angin sakal akan terus kita hadapi, bahkan angin badai sekalipun akan ada dalam perjalanan kita. Tapi bersama Yesus kita akan mampu bertahan dan memperoleh kemenangan. Karenanya janganlah mengandalkan kekuatan sendiri, tapi milikilah sebuah perjalanan manis bersama Yesus hingga selamat sampai ke seberang. “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.” (1 Korintus 1:8).

Berlayarlah mengarungi kehidupan bersama penyertaan Kristuspenyataan Tuhan kita Yesus Kristus

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply