Berjumpa Perempuan Muda Penderita HIV/AIDS (1)

SEKALI waktu, kami terlibat dalam sebuah diskusi ringan. Namun, tiba-tiba arus perbincangan kami terhenti oleh langkah manusia yang kemudian mengetuk pintu kamar.

Pintu kamar itu memang kami biarkan setengah terbuka. Datang kepada kami seorang perempuan paruh  baya yang berdiri sembari menyangga sosok perempuan lain yang usianya jauh lebih muda.

Perempuan muda ini berdandan agak menor, memakai rok mini dengan sepatu boots selutut warna putih dari bahan kulit palsu. Rambut sebahu membingkai wajahnya yang  pucat dengan bekas make up semalam yang terlalu tebal.

Hitung-hitung, umur gadis muda itu baru sekitar 14 tahun.

Lalu sejenak kemudian, perempuan paruh baya itu mulai bicara, “Dok, segera tolong kami, gadis ini  hampir pingsan!”. 

Belajar tentang AIDS

Pertama kali saya mendengar tentang HIV/AIDS pada tahun 1991, saat masih duduk di bangku kuliah Fakultas Kedokteran Gigi. Ketertarikan akan dunia AIDS ini akhirnya membawa saya untuk kemudian menekuni studi bidang AIDS, khususnya ketika harus menulis skripsi tentang gejala AIDS di dalam mulut.

Dosen pembimbing dan rekan-rekan bertanya-tanya dari mana saya akan mendapat bahan literatur untuk studi kasus. Semua masih dari luar negeri. Apalagi, kasus AIDS pertama di Indonesia baru dilaporkan di Bali pada tahun 1987 ketika seorang turis asing homoseksual telah didiagnosis dua tahun sebelumnya.

Waktu itu, Indonesia langsung geger. Banyak  opini lalu bermunculan. Ah, turis asing itu datang ke Indonesia dengan membawa penyakit yang asalnya dari kera itu. Kala itu masih beredar omong-omong yang kurang lebih mau mengatakan: AIDS itu hanya menyerang pada orang-orang yang berperilaku menyimpang.

Kita, orang-orang Indonesia yang baik-baik, pasti tidak akan terkena. Jadi, ketika itu bergelora semangat untuk segera mengusir  semua turis dan pelaku homoseksual.

Pengalaman di Jayapura

Tiga tahun kemudian, saya sudah duduk di kursi praktik gigi di Ibukota Jayapura, Papua.

Sekali waktu, dokter Kepala Dinas Kesehatan setempat datang menjumpai saya di klinik Poli Gigi di Jayapura dengan membawa seorang pasien terkena HIV positif. “Dia HIV positif, tolong dirawat giginya,” ujarnya singkat.

Pasien itu adalah seorang waria. Postur tubuhnya tinggi besar. Tapi, kok bisa kena HIV?

Itu pikiran nakal saya.  Tapi sebenarnya saya pun juga bingung. Sebagai dokter gigi, saya memang menulis skripsi tentang seluk-beluk  AIDS; hanya saja saya tidak atau bahkan belum pernah mendapatkan latihan bagaimana bisa menangani seorang pasien HIV maupun AIDS.

big_aids_medicine by Goa News

Tindakan medik sebagai dokter gigi pun lantas saya lakukan.

Saya merawat giginya dengan dua lapis sarung tangan, dua lapis masker. Setelah pasien pulang, perawat gigi saya menolak untuk mencuci semua peralatan yang dipakai. Saya pun menawarkan untuk mencuci dan mensterilkannya. Perawat-perawat berkata tidak akan pernah memakai alat-alat tersebut lagi dan meminta izin untuk membuang semuanya.

Saya pun setuju karena kami sungguh takut tertular.

AIDS masa kini

Itu cerita tempo dulu. Sekarang mari kita lihat kondisi masa kini.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional didirikan berdasarkan Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2006. Tujuannya untuk meningkatkan upaya pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS dan menghindari dampak yang lebih besar di bidang kesehatan, sosial, politik, dan ekonomi.

HIV dan AIDS memang bukan hanya berurusan dengan sektor kesehatan. Menurut saya, ada  banyak faktor yang menjadi penunjang berjangkitanya HIV/AIDS seperti pendidikan, kemiskinan, ketidaktahuan, miskonsepsi, dll.

Karena itu, ketika saya melakoni kehidupan sebagai Country Director untuk sebuah program tentang pencegahan HIV, saya menyanggupi karena program tersebut sungguh menarik dan cocok dengan ilmu yang baru saya dapat, yaitu tentang Health Policy.

Program itu antara lain mengadvokasi pemangku-pemangku kepentingan untuk membuat peraturan-peraturan (Perda) dalam implementasi program pencegahan HIV dan AIDS. Saya melakukan pendekatan ke para pengambil keputusan, membuat legal review, dan sebagainya. Tetapi saya tetap pada tataran pengambil keputusan dan tidak pernah bersentuhan langsung dengan masyarakat umum maupun pengidap.

Waktu itu saya masih dihantui oleh rasa jijik dan takut.

Sekali waktu, saya terlibat dalam sebuah pertemuan membahas draft Perda. Persis pada hari itu pula, saya kedatangan ‘tamu tak diundang’: pasien muda berumur 14 tahun positif penderita HIV.

Setengah mati saya bekerja mengadvokasi para pemangku kebijakan dan pengambil keputusan, namun saya tidak paham untuk siapa semua itu.  (Bersambung)

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Tautan:  Gerakan Advokasi tentang HIV/AIDS (2)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: