Berjaga-jagalah Sebab Waktu Sudah Singkat

Ayat bacaan: Lukas 12:35
=====================
“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.”

berjaga-jaga

Musibah seakan tidak berhenti menimpa kita. Setelah gempa yang menimpa Jawa Barat di minggu pertama bulan September kemarin, musibah gempa kembali menimpa pulau Sumatera. Kembali ratusan orang kehilangan nyawa, ratusan orang kehilangan sanak keluarga dan menderita cedera. Di televisi terlihat banyaknya korban yang masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang rontok akibat gempa. Begitu banyak orang yang mendadak kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya. Kemarin gempa menimpa Sumatera Barat, tadi pagi gempa kembali menimpa Jambi, Bengkulu dan juga gempa berikutnya di tempat yang sama seperti kemarin. Bencana seperti ini tidak pernah kita inginkan dan berada di luar kekuasaan kita. Ada banyak orang yang mengaitkan serentetan bencana alam yang bukan saja terjadi di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia lainnya seperti kabut asap berwarna oranye di Australia beberapa hari yang lalu sebagai tanda-tanda akhir zaman. Setuju atau tidak, ini merupakan panggilan bagi kita semua untuk berjaga-jaga, karena tidak ada satupun dari kita yang tahu kapan dunia ini berakhir, atau yang lebih sederhana, kapan kita harus mempertanggungjawabkan diri kita di hadapan tahta Tuhan.

Ini saatnya kita mengimani baik-baik apa yang diperingatkan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:35-48. Bacalah seluruh bagian perikop yang berbicara tentang pentingnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Tuhan Yesus mengingatkan: “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” (Lukas 12:35). Ikat pinggang yang tetap berikat menggambarkan  kesetiaan dan ketaatan dalam setiap sisi kehidupan kita, laksana seorang perwira yang akan selalu patuh kepada komandannya. (Yehezkiel 23:15).  Ikat pinggang juga merupakan tempat dimana pedang melekat, seperti yang digambarkan dalam 2 Samuel 20:8. Dalam hal ini kita juga diingatkan untuk selalu siap berjaga-jaga mengenakan ikat pinggang untuk menopang pedang Roh, yaitu firman Allah. (Efesus 6:17). Dalam Yesaya ikat pinggang digambarkan sebagai sebuah atribut kekuasaan. (Yesaya 22:21). Bukankah kepada kita telah diberikan berbagai kuasa, seperti untuk mengalahkan keinginan daging, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya? Bahkan dikatakan bahwa “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”. (Yakobus 5:16). Sedangkan pelita yang harus tetap dijaga menyala berbicara tentang kesiapan kita untuk terus memastikan roh kita tetap menyala untuk melakukan semua seperti yang dikehendaki Tuhan hingga kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Amsal menyatakan “Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” (Amsal 20:27). Dan Paulus mengingatkan “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11). Pelita juga berbicara mengenai terang yang mampu menyinari kegelapan. Kita selalu diminta untuk mampu menjadi terang/anak-anak terang. Seperti ikat pinggang, kita pun harus selalu sedia dengan pelita yang bernyala, karena pelita yang tajam akan membawa kita dalam kebinasaan dalam murkanya. “Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!” (Ayub 21:17).

Menjelang zaman akhir yang semakin dekat, semua kita diingatkan untuk selalu bersiap, berjaga-jaga dengan atribut lengkap ikat pinggang dan pelita yang bernyala. “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” (Lukas 12:40). Kepada yang berjaga-jaga dikatakan demikian: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.” (ay 43). Apakah berbagai rangkaian bencana ini merupakan bagian dari tanda-tanda akhir zaman atau tidak, itu bukan masalah yang utama. Yang paling penting adalah bagaimana kesiapan kita menuju kesana, dan firman Tuhan telah mengingatkan kita untuk terus menerus berjaga kapan saja. Jangan melenceng ke kiri dan ke kanan, jangan bertoleransi dengan dosa, karena tidak ada yang tahu kapan sesungguhnya waktu itu akan datang. Jangan lupa pula untuk membaca kitab 1 Tesalonika 5:1-11 mengenai nasehat untuk berjaga-jaga. Disana kita diingatkan kembali mengenai hari Tuhan yang akan datang seperti pencuri di malam hari (ay 2). Jika kita terlena dan terus hidup dalam kegelapan, keteledoran itu akan membawa konsekuensi yang membinasakan. “Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman–maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin–mereka pasti tidak akan luput.” (ay 3). Apa yang terjadi bagi kita yang sudah hidup dalam terang? “Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” (ay 4-5). Oleh karena itulah kita diingatkan agar jangan terlena, tertidur dan bermalas-malasan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang, tetapi hendaklah kita selalu berjaga-jaga dan sadar. (ay 6). Semua ini penting agar kita semua tidak luput dari janji Tuhan. Berjaga-jagalah selalu sebab waktunya sudah sangat singkat. “Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat!” (1 Korintus 7:29a)

Disamping itu, ingatlah selalu bahwa kita tetap perlu mendoakan negeri kita. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana Daniel berdoa mewakili bangsanya yang penuh dosa. Daniel tidak terlibat dalam perilaku buruk bangsanya, namun ia menyampaikan doa memohon belas kasih dan pengampunan Tuhan atas bangsanya. (Daniel 9:1-19). Ia tidak memakai kata “mereka” dalam doanya, tapi memenuhi doanya dengan kata “kami”, yang artinya melibatkan dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bangsanya sendiri. Kebinasaan bangsanya jelas akan berpengaruh pula baginya, demikian pula sebaliknya kemakmuran bangsanya juga akan berpengaruh kepadanya. “Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah.” (ay 18). Lihatlah betapa indahnya doa penuh kerendahan hati seperti Daniel, yang tidak menimbang-nimbang siapa yang bersalah melainkan langsung memanjatkan doa memohon belas kasih Allah mengatasnamakan seluruh bangsanya. Doa orang benar itu besar kuasanya, dan itu diketahui benar oleh Daniel. Sudahkah kita menaikkan doa syafaat dengan sungguh-sungguh untuk negara kita? Paulus berkata: “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” (1 Timotius 2:1-2). Mengapa demikian? Sebab “itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (ay 3-4).

Berdoalah agar Tuhan mencurahkan belas kasihNya atas bangsa ini. Apakah ini merupakan bagian dari akhir zaman yang harus digenapi, atau merupakan bentuk murka Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukan dan sebagainya, kita tidak perlu terjebak ke dalam pro dan kontra mengenai itu, karena faktanya Tuhan selalu meminta kita untuk berjaga-jaga kapan saja. Waktu memang sudah singkat. Kita harus bisa berfungsi benar sebagai bagian dari tubuh Kristus yang selalu mendoakan dan memberkati kota dan negara kita. Ulurkan tangan dan bantuan kepada semua korban, karena mereka saat ini sangat menderita dan membutuhkan bantuan dan dukungan baik materi maupun moril. Ini saatnya untuk menjadi terang dan garam. Dan sekali lagi jangan lupa, teruslah berjaga-jaga dengan mengenakan ikat pinggang dan pelita yang tetap menyala, sehingga ketika hari Tuhan itu datang, kapanpun itu, kita akan kedapatan tengah melakukan tugas kita dengan penuh kesiapan dan memperoleh hasil yang baik karenanya.

Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (1 Tesalonika 5:6)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply