Berjaga-jaga, Berdoa

Ayat bacaan: Matius 26:41==================”Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”Bayangkan apabila anda dalam posisi bertahan dan terancam mendapat serangan dari luar. Anda…

Ayat bacaan: Matius 26:41
==================
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Bayangkan apabila anda dalam posisi bertahan dan terancam mendapat serangan dari luar. Anda dan kelompok anda tentu akan berusaha menjaga zona teritori anda agar tidak kecolongan diserbu musuh. Mungkin anda akan menetapkan shift bergantian untuk menjaga. Setiap orang akan melakukannya dengan hati-hati. Sepasang mata, sepasang telinga yang awas, mewaspadai setiap sisi dan memastikannya agar tetap aman. Apakah berjaga-jaga saja cukup? Kalau hanya itu yang kita lakukan, biasanya kita sulit untuk menenangkan hati dan pikiran. Kekuatiran akan terus berkecamuk menghadapi segala kemungkinan yang ada. Doa biasanya mampu kembali menyejukkan hati, membuat kita kembali tenang. Tapi dalam posisi sebaliknya, berdoa saja tanpa disertai kewaspadaan bisa membuat kita lengah. Ada sebuah film yang pernah saya tonton menggambarkan hal ini secara jelas. Dalam keadaan terancam diserang, mereka berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan sambil terus berdoa memohon pertolongan Tuhan agar mereka bisa lebih tenang.

Sadarkah kita bahwa dalam hidup pun kita senantiasa beresiko mendapat serangan? Mungkin bukan dari orang melainkan dari si jahat yang bisa melancarkannya dalam berbagai bentuk. Kalau hal-hal yang jelas jahat bisa kita hindari, bagaimana dengan godaan-godaan yang datang dalam berbagai bentuk atau kemasan yang menipu? Pada kenyataannya iblis suka memerangkap kita dalam dosa, dan itu seringkali dilakukan lewat hal-hal yang secara sepintas tampak menyenangkan. Dia akan selalu mengaum mencoba untuk masuk dan memangsa kita. Kalau lewat cara terang-terangan tidak mempan, dia cukup pintar untuk mencoba mempengaruhi kita lewat hal-hal yang mungkin tidak terlalu kita pusingkan. Iblis akan selalu mencari celah lewat kelemahan kita, dan sebagai manusia kita selalu punya titik-titik lemah yang berpotensi menjadi pintu masuknya. Kita menghindari dosa-dosa yang jelas nyata tapi cenderung memberi toleransi untuk masuknya dosa-dosa yang kita anggap kecil dan menganggapnya sebagai sebuah kewajaran atau manusiawi sifatnya. Kalau itu terus kita biarkan, suatu saat ketika kita sadar, bisa jadi kita sudah sulit melepaskan diri dari jeratan dosa yang membinasakan.

Kedagingan kita selalu menginginkan segala sesuatu yang enak, nikmat, nyaman dan menyenangkan. Sebaliknya keinginan Roh kerap dianggap sebagai sesuatu yang membatasi atau merusak kesenangan kita. Kita berpikir, sedikit melanggar untuk bersenang-senang seharusnya tidak apa-apa. Toh cuma sekali-kali saja.  Pikiran seperti itu sering hadir dalam benak setiap orang. Kita rasa itu wajar, padahal disanalah iblis sedang mengintip dan bersiap untuk menerkam kita hidup-hidup. Sedikit saja celah yang kita buka bisa beresiko fatal bagi keselamatan kita.

Alkitab mengatakan bahwa seringkali dosa bukan datang secara tiba-tiba melainkan melalui sebuah proses yang berawal dari ketidakmampuan kita mengatasi keinginan-keinginan daging kita. Lihat ayat berikut: “..tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:14-15). Ayat ini secara jelas menggambarkan proses mulai dari masuknya dosa yang pada akhirnya melahirkan maut. Dari cobaan lewat keinginan-keinginan sendiri, lantas terseret dan terpikat, dibiarkan terus hingga berbuah dan melahirkan dosa, dan saat dosa sudah lahir, maka maut pun menanti disana. Itu artinya kita harus benar-benar berhati-hati terhadap penyimpangan-penyimpangan kecil yang kita anggap sepele. Jangan sampai hal-hal kecil yang tidak kita perhatikan itu kemudian berbuah menjadi dosa yang melahirkan maut.

Seruan bagi kita sangatlah jelas. Kita harus berusaha untuk sepenuhnya hidup dalam Roh dan bukan menuruti keinginan daging seperti yang dinyatakan dengan jelas dalam Roma 8:1-17. Mengapa? “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6). Sepintas keinginan-keinginan daging memang terlihat menggiurkan, tetapi berhati-hatilah karena semua itu bisa melahirkan dosa berujung maut. “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (ay 13). Kita bisa melihat pula bagaimana hidup menurut daging dan Roh dalam Galatia 5:16-26.

Lantas bagaimana seharusnya? Yesus sudah mengingatkan dengan tegas agar kita mewaspadai benar-benar keinginan-keinginan yang berasal dari daging ini. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41). Kita harus berhati-hati, harus waspada, karena daging sebenarnya sangat lemah atau rentan terhadap godaan.  Terlebih karena keinginan daging justru bisa memikat kita lebih daripada roh. Ketika roh kita kalah dibandingkan daging, maka berbagai hal jahat pun berpotensi menghancurkan kita. Bagaimana caranya agar kita mampu mengatasi godaan-godaan dari kedagingan ini? Dari ayat ini kita bisa membaca bahwa metode yang diberikan Yesus adalah: “berjaga-jagalah dan berdoalah.” Jangan hanya serius pada satu hal tapi mengabaikan yang lain, jangan cuma rajin berdoa tapi lengah berjaga-jaga, jangan pula tekun berjaga-jaga tapi jarang berdoa. Bukan salah satu tetapi dilakukan bersama-sama. Berjaga-jaga, berdoa. Berdoa, berjaga-jaga. Itulah kunci utama agar kita tidak menyerah kepada jebakan si jahat yang seringkali masuk melalui berbagai keinginan daging kita yang lemah.

Marilah kita mulai sejak awal membentengi diri kita dengan baik agar tahun 2015 bisa kita lewati dengan gemilang, penuh kemenangan bersama Tuhan. Jangan lewatkan saat-saat teduh dimana kita bisa membangun hubungan yang terus lebih dalam dengan Tuhan. Jangan berhenti untuk terus membekali diri kita dengan firman Tuhan yang hidup. Jangan menghindar tapi tetaplah biasakan diri untuk bersekutu bersama saudara-saudari seiman yang bisa saling menguatkan satu sama lain. Dan tetap libatkan Tuhan dalam apapun yang anda lakukan. Mumpung masih di bulan pertama tahun yang baru, mari kita mulai membangun komitmen yang kuat untuk hidup dalam Roh.

Jangan abaikan potensi kerusakan akibat dosa meski sekecil apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply