Berikan Yang Terbaik

Ayat bacaan: Maleakhi 1:8a
=======================
“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?”

berikan yang terbaik, memberi yang terbaik, persembahan

Saya ingat sebuah kebiasaan untuk saling berkirim parcel pada perayaan hari besar kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu, untuk menyampaikan ucapan terima kasih, ucapan selamat dan sebagainya, orang mengirimkan berbagai bentuk parcel kepada teman/keluarga/atasan/kolega/rekanan bisnis mereka dan sebagainya. Parcel itu disusun sedemikian rupa sehingga terlihat indah, berisikan berbagai macam produk atau benda di dalamnya, dan dibungkus dengan rapi dan indah. Paketnya pun bermacam-macam. Bisa parcel produk makanan/minuman, parcel peralatan, aksesoris, produk kecantikan atau buah-buahan. Saya pernah berbisnis parcel bersama beberapa teman saya ketika masih kuliah, dan saya tahu bahwa merangkai produk-produk itu agar terlihat indah tidaklah semudah yang diperkirakan. Yang pasti, pemberian itu tidak boleh terlihat asal-asalan, dan yang paling penting lagi, jangan sampai isi di dalamnya mengandung barang kadaluarsa, jika isinya adalah produk snack, minuman atau produk-produk yang dikonsumsi. Tidak ada satupun orang yang mau memberikan parcel berisi produk kadaluarsa, atau benda-benda yang sudah retak atau sompel. Maka ketika saya dan teman-teman membeli, merangkai hingga mengantar, kami harus benar-benar memastikan bahwa paket-paket parcel itu masih berada dalam kondisi baik dan layak untuk diterima orang yang dituju.

Jika kepada manusia kita berhati-hati dan selalu mau memberikan yang terbaik, bagaimana ketika kita memberi persembahan? Mari ambil salah satu contoh ketika kita memberi persembahan di Gereja. Setelah saya melayani sebagai diaken, saya sering melihat kondisi uang yang ada di dalam kantung persembahan ketika kami menghitungnya. Ada begitu banyak uang yang dalam kondisi “lecek”, terlipat-lipat, kusut, lusuh, bahkan ada yang sobek. Memang secara nominal uang itu masih utuh dan bisa dipergunakan, namun jelas itu bukanlah dalam kondisi yang baik secara fisik. Jika kita kembali pada analogi parcel di atas, bukankah makanan di dalam parcel itu masih bisa dimakan tanpa disusun rapi? Tapi kita menyusunnya dengan baik, dibungkus indah, karena kita menghormati orang yang diberi dan ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Seperti itu pula seharusnya ketika kita memberi persembahan,dan seharusnya kita lebih memperhatikan, karena kita memberi persembahan bagi Tuhan. Betul, kita memberikan kepada Gereja, dan tidak langsung kepada Tuhan. Tapi bukankah apa yang kita persembahkan itu akan dipergunakan oleh Gereja untuk pekerjaan Tuhan, pelebaran kerajaanNya dimana Allah sendiri yang dimuliakan? Bukankah ketika kita memberi persembahan itu sebenarnya kita sedang memberi persembahan kita kepada Tuhan?

Ayat hari ini diambil dari kitab Maleakhi, dimana Tuhan menunjukkan kekesalannya ketika Dia hanya diberikan kurban binatang dalam kondisi yang tidak selayaknya Dia terima. Apa yang dipersembahkan orang Israel waktu itu cukup keterlaluan. Bukannya memberikan persembahan terbaik, namun mereka malah memberikan binatang yang timpang dan sakit. Dan Tuhanpun menganggap itu jahat. “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?” (Maleakhi 1:8a). Selanjutnya Tuhan pun membandingkan dengan pemberian kepada bupati atau para pemimpin/atasan duniawi. “Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.” (ay 8b). Ya, bukankah ironis ketika kita memberi yang terbaik kepada orang-orang yang kita hormati di dunia, tapi di sisi lain kita memberikan asal-asalan kepada Tuhan semesta alam? Ingatlah betapa Tuhan mengasihi kita. Dia selalu memberikan rancangan yang terbaik bagi kita, menyediakan yang terbaik bagi kita, bahkan menganugrahkan Kristus, anakNya sendiri untuk menyelamatkan kita. Alangkah keterlaluan jika kita membalasnya dengan sekedar memberikan tanpa ada rasa hormat, misalnya dengan memberikan uang yang kondisinya paling jelek dalam dompet kita, atau melipat-lipat/meremas uang sebelum memasukkannya ke dalam kantong kolekte. Tuhan pantas dihormati jauh dari itu. Mari kita lihat ayat sebelumnya. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (ay 6). Singkatnya, Tuhan mempertanyakan kepada kita demikian: “Jika benar Aku BapaMu, dimana hormat dan takutmu kepadaKu?”

Ketika memberi, memberilah dengan hormat. Kita memberikan persembahan kepada Tuhan yang bukan saja telah menciptakan kita, tapi juga melindungi, menyertai dan mengasihi kita lebih dari segalanya. Tuhan sangat layak menerima pemberian yang terbaik dari anak-anakNya. Ketika kita memberikan dengan sungguh hati atas besarnya kasih kita kepadaNya, kita seharusnya juga memberikan apa yang terbaik dari kita. Di atas segalanya itu, Yesus mengingatkan kita bahwa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi manusia seperti diri sendiri jauh lebih baik daripada semua korban. “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Markus 12:33). Artinya, jika kita mau mempersembahkan yang terbaik, maka kita tidak boleh hanya berhenti dengan memberikan persepuluhan/ persembahan syukur dengan nominal-nominal tertentu saja, tidak boleh juga hanya berhenti pada memberi dengan hormat, tapi kita juga harus memberikan hidup kita sendiri kepada Tuhan, mempersembahkan seluruh hidup kita yang telah kita jaga untuk selalu kudus agar berkenan di hadapanNya. Hal ini juga dijelaskan Paulus kepada jemaat Roma. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Tidak terpengaruh dunia, terus memperbaharui budi untuk menjadi lebih baik, mampu membedakan kehendak Allah, dan tahu apa yang berkenan dan sempurna untuk diberikan kepada Allah, itulah tubuh kita yang layak dipersembahkan kepada Tuhan.

Dalam bersyukur kepada Tuhan, hendaklah kita memberi yang terbaik kepadaNya dengan penuh hormat dan takut, karena kita mengasihiNya. Dalam pemberian kolekte, berikanlah persembahan dengan rapi dan pilih uang dalam kondisi yang terbaik. Dan lebih dari itu, persembahkanlah hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, bukan hidup yang acak-acakan dan penuh dosa, tapi hidup yang sudah menjadi ciptaan baru, hidup yang bertumbuh dan berbuah dalam Roh, sebagai sebuah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Allah sudah memberikan segala yang terbaik untuk kita. Mari kita melakukan giliran kita untuk memberikan segala yang terbaik pula bagi Tuhan.

Berikan hanya yang terbaik bagi Allah kita yang luar biasa

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply