Beribadah tapi Memungkiri Kekuatannya

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.”

beribadah tapi ragu

Ah, percuma saja, mau bagaimana juga tidak akan ada yang bakal berubah. Sudah begini memang nasibku..” Itu dikatakan seorang teman saya menyikapi usahanya yang bukannya meningkat tetapi malah menurun. Teman saya ini adalah orang percaya. Ia pun rutin beribadah setiap hari Minggu di gereja. Bahkan ia lahir dalam keluarga Kristen juga. Sudahkah berdoa? Itu saya tanyakan. “Sudah, tapi kalau kondisinya memang seperti ini doa pun percuma.” katanya lagi. Rajin beribadah ternyata belum menjamin orang untuk memiliki iman yang cukup dalam mempercayai kekuatan dan kuasa Tuhan. Dan sikap teman saya ini sudah beberapa kali saya jumpai sebelumnya, dan mungkin bisa mewakili banyak orang percaya lainnya yang meski rajin menjalankan ibadah mereka tetapi mereka sendiri tidak percaya kepada kekuatan yang bisa hadir di dalamnya. Seorang teman lagi pernah bercerita bahwa mukjizat yang dialaminya ditertawakan oleh teman-teman segerejanya. Mereka menganggap dirinya mengada-ada dalam kesaksiannya. Ia pun sedih ketika bercerita mengenai hal itu. Di satu sisi orang berharap mukjizat terjadi dalam hidupnya, tetapi di sisi lain mereka sendiri ragu dan memungkiri itu. Itu menjadi gambaran sikap banyak orang hingga hari ini.

Hal ini sebetulnya bukanlah hal baru karena sudah pernah disinggung sejak lama di dalam Alkitab. Paulus menggambarkan sebuah salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang hari-hari akhir. “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai “masa yang sukar”. (ay 1). Benar, bencana alam terus terjadi di berbagai belahan dunia. Orang berkata bahwa bumi makin tua, sehingga semakin rentan terhadap bencana. Ancaman global warming akibat pengrusakan yang dilakukan manusia membuat  segalanya semakin buruk. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan mengacu kepada kerusakan lingkungan atau bahkan krisis ekonomi. Ia menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan masa sukar disini adalah semakin jatuhnya manusia dalam mementingkan dirinya sendiri dan menjadi hamba uang, arogansi atau kesombongan, fitnah, melawan orang tua, tidak tahu terima kasih, membenci hal-hal rohani, tidak mengasihi, sulit berdamai, suka menjelek-jelekkan orang lain, tidak dapat mengendalikan diri, pemarah, kejam, tidak suka berbuat baik, penghianat, berpikir pendek atau naif, sok tahu dan lebih mengikuti hawa nafsu daripada menuruti kehendak Allah. (ay 2-4). Sikap-sikap seperti ini justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas, dan ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja, bernyanyi, berdoa dan sebagainya, tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun di dalam melakukan itu semua. Akibatnya kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya. Kita berdoa, tetapi malah menolak atau meragukan inti dari beribadah itu sendiri.

Beribadah itu sangatlah penting. Paulus pun mengingatkan kita untuk terus melatih diri beribadah dengan tekun. “Latihlah dirimu beribadah”. (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena jika latihan jasmani dapat memberikan manfaat dalam hidup di dunia ini, latihan rohani itu bisa berguna lebih dari itu. “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (ay 8). Akan tetapi menjalankan ibadah pun harus disertai niat yang benar, agar semuanya tidak berhenti hanya menjalankan tradisi sesuai kebiasaan atau tata caranya saja, melainkan bisa membangun rohani kita bertumbuh semakin besar, berakar semakin dalam, sehingga kita tidak melakukan hal yang ironis dengan meragukan atau memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

Ibadah bukanlah hanya terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya, sesuatu yang tidak berasal dari hati kita yang terdalam. Ibadah bukanlah sesuatu yang terfokus hanya kepada gerak tubuh, posisi tangan atau tata cara, melainkan seharusnya fokus dalam membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan meminta lagi, memberikan Tuhan daftar permintaan setiap kali kita datang kepadaNya, tetapi lebih dari itu yang terpenting justru mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa ada hukuman Tuhan yang akan jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: “beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu” (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.

Tuhan tidak menginginkan kita hanya tampil hebat sebatas kulit saja. Tuhan tidak suka apabila kita mementingkan tata cara dan hal-hal lain di luar membangun kedekatan hubungan denganNya, Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Tuhan suka melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena haus akan hadiratNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari. Kita bukanlah hidup untuk menarik perhatian manusia saja, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan peribadatan kita. Percayalah bahwa Tuhan punya kuasa jauh melebihi segalanya dan mampu menjungkir-balikkan logika manusia, dan percaya pula bahwa itu bisa terjadi pada diri kita.

Jangan sia-siakan waktu beribadah kita dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: