Sunday, 23 November 2014

Berhenti Bertengkar Sebelum Terlambat

Ayat bacaan: Amsal 17:14
====================
“Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.”

mencegah pertengkaranApa yang terjadi apabila bendungan retak? Air akan mulai menerobos dari celah-celah yang retak itu. Dorongan air yang kuat kemudian akan terus mendorong dinding bendungan yang sudah semakin lemah, dan pada akhirnya bencana bisa terjadi menimpa penduduk di sekitarnya. Sudah berulang kali kejadian seperti ini terjadi tidak saja di Indonesia tetapi juga di negara-negara lainnya. Pada mulanya memang kecil, tetapi jika tidak ditindaklanjuti dengan segera maka pada suatu ketika semuanya bisa menjadi terlambat. Air punya daya dorong yang kuat. Sekali anda membuka jalan air maka akan sulit bagi kita untuk menghentikannya. Sebuah perumpamaan menarik ini dikatakan ribuan tahun yang lalu oleh manusia paling berhikmat yang pernah ada, yaitu Salomo. Ia memberi perumpamaan ini ketika menyinggung satu hal yang seringkali kita biarkan terjadi, yaitu bertengkar.

Demikian bunyi ayatnya: “Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” (Amsal 17:14). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “The beginning of strife is as when water first trickles (from a crack in a dam).” Bagaikan ketika air mulai mengucur dari retakan bendungan. Lalu dilanjutkan “Therefore stop contention before it becomes worse and quarreling breaks out.” Coba pikirkan. Tidakkah pertengkaran biasanya dimulai dengan perselisihan kecil saja? Tapi ketika kita membiarkannya terus berlangsung, maka pada suatu saat kita tidak lagi mampu mengendalikan pertengkaran itu. Berbagai perang yang terjadi di dunia seringkali berawal dari emosi yang terus dibiarkan berlarut-larut, keinginan membalas tanpa mau mencari penyelesaian damai. Dan pada akhirnya kita melihat ribuan atau bahkan jutaan orang harus mati sia-sia, kehancuran sebuah bangsa yang porak poranda, yang bisa membutuhkan puluhan tahun untuk pulih kembali. Seperti air yang akan memancar deras, ganas dan liar menenggelamkan segala yang ada disekitarnya tanpa terkendali, seperti itu pula pertengkaran bisa menelan kita bahkan orang lain yang tidak tersangkut paut dengannya. Tuhan tidak sembarangan mengingatkan bahaya pertengkaran, karena ini merupakan satu dari masalah yang paling umum terdapat dalam kehidupan, bahkan sering menyerang orang-orang percaya. Kita tidak sadar dan membiarkan hal ini masuk kemana-mana. Di rumah, di tempat kerja, di kampus, sekolah, lingkungan rumah bahkan gereja sekalipun tidak luput dari bahaya pertengkaran ini.

Tentu saja tidak seorangpun berniat untuk melakukan pertengkaran. Rasanya tidak ada orang yang bangun di pagi hari dan langsung berkata, “saya mau bertengkar hari ini, yang besar sekalian..” Tidak. Yang terjadi biasanya adalah kita tidak waspada dan membiarkan kekesalan kecil hinggap pada diri kita, kemudian membiarkannya terus membesar hingga tidak terkendali, seperti tanggul jebol. Tanpa sadar, kita sudah masuk ke dalam sebuah pertengkaran yang sulit dikendalikan. Dalam skala terkecil, yaitu keluarga misalnya. Begitu banyak rumah tangga yang hancur akibat tingginya frekuensi pertengkaran di rumah. Rumah tidak lagi nyaman. Suasana panas, saling benci. Membiarkan ego menguasai kita, memasang harga diri yang terlalu tinggi, itu biasanya akan membuat kita membiarkan kekesalan kecil kemudian berubah menjadi raksasa yang akan menghancurkan kita semua,sesuatu yang pada suatu ketika akan kita sesali. Lalu bagaimana? Sebuah ayat memberikan sebuah solusi yang saya terapkan dalam rumah tangga saya, dan itu berhasil dengan sangat baik. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26).

Kita menganggap bahwa ketika kita bertengkar itu karena perilaku buruk orang lain. Dia jual, saya beli. Seperti itulah anggapan kita ketika bertengkar. Tetapi seringkali tanpa kita sadari kitalah yang membiarkan emosi atau amarah itu terus membesar dalam diri kita. Firman Tuhan pun lalu berkata: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Lalu dalam Ibrani kita mendapatkan seruan lainnya:Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Ini adalah penting untuk kita camkan. Tantangan dan godaan untuk membiarkan nafsu amarah berkecamuk di dalam diri kita akan hadir setiap hari dari banyak sisi. Apakah dari orang lain, situasi, bahkan cuaca yang tidak bersahabat bisa setiap saat menenggelamkan damai sukacita yang ada dalam diri kita dan menggantinya dengan luapan amarah. Itu seringkali tidak bisa kita hindari. Yang bisa kita lakukan adalah senantiasa dan sedapat-dapatnya berusaha untuk selalu hidup damai. Berusaha butuh kerja keras dan komitmen. Itulah yang harus selalu kita ingat sebelum kita membuka “jalan air” yang pada suatu ketika tidak lagi bisa kita redam.

Yakobus mengatakan bahwa pertengkaran berasal dari hawa nafsu yang ada dalam diri kita. “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi.” (Yakobus 1:4-5a). Dari tidak bisa mengekang hawa nafsu, maka kita akan terjebak pada banyak dosa yang bisa fatal akibatnya, hingga membunuh atau menghabisi nyawa orang lain. Menyimpan kekesalan atau sakit hati berlarut-larut pun berpotensi menimbulkan pertengkaran. “Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.” (Amsal 30:33). Selain itu, ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah dan lain-lain pun bisa menimbulkan pertengkaran. Karena itulah kita diminta untuk bisa memaafkan orang dengan segera dan bersikap rendah hati, mau belajar untuk lebih memahami dan menerima orang lain apa adanya. Kita harus sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita tidak bisa menuntut orang untuk selalu baik sesuai dengan keinginan kita. Pada saat-saat tertentu perselisihan bisa muncul, tetapi redamlah itu secepat mungkin sebelum berlarut-larut dan pada akhirnya tidak lagi bisa kita kendalikan. Alkitab juga mencatat fakta yang menarik dan memang benar: orang yang suka bertengkar biasanya juga suka pada pelanggaran atau dosa. “Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran.” (Amsal 17:19).

Apabila anda sulit untuk melakukannya, jangan lupa bahwa anda punya Roh Kudus untuk membantu anda dalam mengatasinya. Tetapi terlebih dahulu yakinkan diri anda bahwa lebih dari segalanya, anda menginginkan perdamaian. Lembutkan dahulu hati anda agar Roh Kudus bisa berkarya secara luar biasa untuk membantu anda dalam meredakan dan mengatasinya. Cepat lakukan itu sebelum kita mulai berbuat dosa. Selain itu ingatlah bahwa amarah manusia itu tidaklah pernah menyenangkan hati Tuhan. “Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (Yakobus 1:20). Ambillah sebuah komitmen bahwa dengan kuasa Tuhan, tidak akan ada hal yang bisa merampas sukacita dari diri kita, termasuk kekesalan yang bisa mengarah kepada pertengkaran. Tolaklah emosi sejak awal, dan katakan pada diri anda bahwa anda ingin berjalan dalam sejahtera dan damai sukacita Tuhan hari ini. Selain itu baik bagi kesehatan, anda pun akan merasa heran betapa hidup ini ternyata lebih indah jika dijalani tanpa emosi atau pertengkaran.

Don’t open the door that you can’t close, don’t start something you can’t stop

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Berhenti Bertengkar Sebelum Terlambat"

Response on "Berhenti Bertengkar Sebelum Terlambat"