Bergembira Dalam Kelelahan

Ayat bacaan: Amsal 15:13
====================
“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.”

hati yang gembira, lelah

Terkadang saya berpikir betapa manusia cenderung untuk sulit merasa puas. Selalu ada saja yang dikeluhkan, selalu ada yang kurang. Hal yang sama pun terjadi pada saya. Dulu, ketika saya belum memiliki pekerjaan, saya mengeluh dan terus berusaha dan meminta agar kiranya Tuhan memberkati saya dengan pekerjaan. Saat ini, ketika saya diberkati dengan pekerjaan yang begitu banyak sehingga saya tidak berhenti bekerja sejak pagi hingga lewat tengah malam selama beberapa hari terakhir ini, akhirnya malam ini tubuh saya terasa berontak. Saya merasa capai, uring-uringan dan akhirnya mengeluh. Jadi pengangguran mengeluh, punya pekerjaan banyak mengeluh. Tapi barusan saya mendapat teguran dalam hati saya, bahwa saya tidak boleh berlarut-larut membiarkan hal itu terjadi. Apa persisnya yang saya dengar? “manusia ini ya.. tidak punya kerja mengeluh, dikasih kerja mengeluh..” Itu perkataan yang saya dengar. Tuhan mengingatkan lagi pada saya, bahwa semua itu adalah berkat. Berkat yang bukan biasa-biasa, tapi luar biasa. Ada banyak orang yang mencari satu pekerjaan saja sulitnya bukan main, sedangkan saya tengah dipercayakan untuk melakukan banyak hal. Betapa keterlaluan jika saya malah mengeluh dan bukannya bersyukur bukan? Apalagi baru saja kemarin seorang murid saya berkata bahwa dia salut melihat saya, yang walaupun sedang sangat sibuk tapi tetap terlihat ceria seperti tanpa beban pikiran. Itu bentuk yang seharusnya ada dalam hidup anak-anak Tuhan. Tapi malam ini saya malah terpeleset dan kehilangan rasa gembira akibat terlalu lelah. Saya pun melakukan doa singkat, dan saat menulis renungan ini, saya sedang tersenyum. Saya kembali merasakan sukacita, merasakan kegembiraan ditengah kelelahan saya. Dan tubuh saya rasanya jauh lebih ringan.

Salomo menulis serangkaian hikmat mengenai hati yang gembira. Salah satunya adalah ayat bacaan hari ini: “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13). Hati yang dipenuhi sukacita akan selalu membuat kita kelihatan ceria, sedangkan keluhan-keluhan akan mematahkan semangat kita. Selanjutnya Salomo berkata: “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15) Bagaimana tidak buruk? Orang yang bersungut-sungut dan dipenuhi keluhan tidak akan bisa merasa senang dan bahagia. Tidak saja akan membuat perasaannya menjadi semakin tidak baik, tapi juga akan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Istri/suami, anak, orang tua, saudara, teman, tetangga, dan lain-lain, semua bisa kena getahnya. Padahal mereka tidak punya salah apa-apa. Dan ketika hati hanya dipenuhi amarah, kekesalan dan keluhan, semuanya pun terasa buruk. Lalu Salomo mengingatkan lagi: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 9 dari 10 penyakit disebabkan oleh pikiran. Dan benarlah apa yang dikatakan Salomo, hati yang gembira merupakan obat yang manjur, tapi semangat yang patah (bandingkan dengan Amsal 15:13 diatas) akan mendatangkan penyakit, atau membuat kita terlihat jauh lebih tua sebelum waktunya.

Saat ini saya berpikir betapa pentingnya kita mengucap syukur dalam segala hal. Anda merasa lelah? Ada Tuhan Yesus yang meringankan beban kita dan memberi kelegaan. (Matius 11:28). Ketika anda merasa beban pekerjaan menyita begitu banyak waktu anda dan membuat anda begitu letih, segera arahkan pikiran anda untuk melihat dari sudut pandang bahwa semua pekerjaan itu adalah berkat dari Tuhan, yang dipercayakan pada anda sesuai talenta yang telah Dia anugrahkan. Jangan fokus pada keletihan dan kesusahan anda dalam menyelesaikan pekerjaan. It’s a blessing from God, sesuatu yang seharusnya kita syukuri dan bukan malah membuat kita dipenuhi keluh kesah. Daud mengalami banyak permasalahan dalam hidupnya, tapi Dia tetap fokus kepada rasa syukur pada Tuhan ketimbang tenggelam dalam permasalahannya. “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4). Paulus juga mengingatkan kita untuk terus bersyukur dalam segala hal, baik maupun buruk. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:8). Sesulit-sulitnya hidup, kita punya Kristus yang telah menyelamatkan kita dan menjanjikan kehidupan kekal penuh damai dan sukacita. Itu adalah hal yang luar biasa besar yang seharusnya mampu membuat kita selalu gembira dalam kondisi apapun.

Senyum saya semakin lebar sekarang, saat renungan ini mencapai akhir. Karena apa yang saya tuliskan juga sedang mengingatkan diri saya sendiri. Saya tidak merasa lelah lagi, karena beban itu telah diangkat dan digantikan dengan sukacita berlimpah. Haleluya. Saya mau bekerja dengan baik dalam segala perkerjaan yang telah dianugrahkan Tuhan pada saya dengan hati yang gembira, dan melakukannya sepenuh hati dengan sungguh-sungguh seperti sedang melakukannya untuk Tuhan (Kolose 3:23). Saya rindu mengajak teman-teman sekalian yang mungkin sedang merasakan kelelahan dalam pekerjaan juga untuk bersama-sama dengan saya mengembalikan kegembiraan dalam hati anda. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).

Gembira itu menyehatkan dan membuat awet muda. Gembira datang dari rasa syukur. Bergembiralah senantiasa

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply