Berdoalah Senantiasa

Ayat bacaan: Mazmur 29:2
========================
“Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!”

berdoa

Kesibukan bisa begitu menyita waktu kita sehingga rasanya kita tidak lagi punya cukup waktu untuk melakukan hal-hal lain selain menyelesaikan pekerjaan. Timbunan tugas, deadline menumpuk dan lainnya terkadang bisa membuat kita kelabakan. Tidur saja sudah tidak sempat, apalagi hal-hal lain seperti rekreasi, mengurus kebutuhan anak atau menyempatkan waktu luang bersama keluarga. Saya mulai merasakan hal seperti ini beberapa bulan terakhir, apalagi rumah yang saya tempati saat ini cukup jauh dari pusat kota, sehingga hampir setiap hari saya pergi pagi pulang malam. Waktu-waktu yang selama ini saya pakai untuk bersantai dengan istri pun banyak terpakai, dan rasa bersalah pun timbul dalam hati saya. Dan saya pun berulang-ulang meminta maaf dan pengertian dari istri saya karena situasinya memang sedang tidak memungkinkan. Puji Tuhan dia mengerti. Tapi jika kepada istri atau keluarga saja sudah sedemikian penting, bagaimana dengan Tuhan yang seharusnya menempati posisi di urutan teratas? Saya tahu tumpukan kesibukan seperti ini bisa secara perlahan membuat saya berkompromi untuk mengurangi jam-jam saya bersama Tuhan. Saya bisa tergoda untuk lebih memfokuskan diri kepada penyelesaian pekerjaan ketimbang tetap memberikan waktu secara khusus buat Tuhan. Dan ada banyak orang yang memutuskan seperti itu. Di saat pekerjaan menumpuk saya biasanya selalu berusaha untuk ingat segala kebaikan Tuhan kepada saya dan keluarga. Bukankah semua itu juga merupakan berkat dariNya? Jika demikian, mengapa saya justru mengorbankan waktu untuk menyatakan rasa syukur dan kasih saya kepada Dia yang telah memberi semuanya?

Berhati-hatilah, kesibukan kita akan selalu siap dipakai iblis untuk melemahkan dan membujuk kita agar semakin jauh dari Tuhan. Iblis akan selalu berusaha untuk melemahkan kita lewat kekhawatiran kita terhadap kebutuhan-kebutuhan duniawi. Segala kekhawatiran dan ketakutan kita pun akan merupakan pintu yang bisa dimanfaatkan iblis jika kita tidak terbiasa menyerahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan lewat doa-doa kita. Tuhan Yesus sendiri mengalami itu ketika Dia berpuasa 40 hari dan 40 malam dalam pencobaan di padang gurun. Setelah berpuasa selama itu, Yesus pun mulai merasa lapar. Di saat seperti itu, iblis pun mulai melancarkan serangan untuk mencobai dengan menawarkan segala hal yang mungkin bisa memuaskan kebutuhan-kebutuhan dari sisi manusiawi. “Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Matius 4:8-9). Tapi Yesus tidak tergoda dengan itu semua dan dengan tegas berseru: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (ay 10). Dari sini kita bisa belajar untuk melihat jangan sampai segala kemewahan dan apa yang ditawarkan oleh dunia membuat kita buta secara rohani dan berhenti memikirkan perkara-perkara yang kekal, dimana tidak ada ngengat dan karat atau pencuri yang bisa merusaknya. (Matius 6:19-20). Jangan sampai kita menomorsatukan kebutuhan duniawi dan kemudian menomorduakan atau bahkan meniadakan kebutuhan rohani kita. Kita bisa melihat bahwa iblis akan selalu berusaha mempengaruhi kita, namun semua itu tidak akan berhasil jika kita tetap memfokuskan diri untuk terus menyembah Tuhan secara teratur. Memilih untuk menomorsatukan hal-hal lain selain Tuhan itu akan sama saja dengan menomorduakan Allah, dan itu bisa membawa kita ke dalam kebinasaan. “Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa” (Ulangan 8:19).

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!” (Mazmur 95:7). Ini seruan yang penting untuk selalu kita ingat. Mari kita selalu ingat untuk sujud menyembahNya, berlutut di hadapanNya dan memuliakanNya. Daud berkata “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!” (Mazmur 29:2). Bukan hanya sekedar sujud, tapi kita juga perlu menguduskan diri terlebih dahulu, agar kita layak untuk masuk ke dalam hadiratNya yang kudus. Petrus mengatakan “sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16) yang mengacu kepada apa yang tertulis dalam kitab Imamat “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” (Imamat 19:2)

Berdoa, bersaat teduh dan merenungkan firman Tuhan adalah saat-saat yang indah yang bisa kita pakai untuk membangun hubungan erat dengan Tuhan. Di saat kita berdoa, disanalah kita sedang meminta Tuhan untuk menyatakan kehendakNya bagi kita. Pada saat berdoa pula kita akan menemukan kekuatan dan sukacita yang sejati. Jangan sampai perilaku kita dalam menentukan prioritas membangkitkan cemburu Tuhan yang akan merugikan diri kita sendiri. Hari ini marilah kita tinggalkan sejenak beban pekerjaan yang menumpuk dan datang ke dalam hadirat Tuhan untuk mengucap syukur, dan memuliakanNya dengan segenap diri kita. Berjalanlah selalu bersama Tuhan dan teruslah membangun hubungan yang lebih dalam lagi lewat jam-jam doa kita.

Jangan korbankan hubungan dengan Tuhan karena kesibukan sehari-hari

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: