Wednesday, 26 November 2014

Berdoa yang Baik dan Benar (2)

 (sambungan)

Begitu pentingnya masalah doa ini hingga Yesus pun memberikan pengajaran secara khusus dan disertai contoh akan hal tersebut. Itu bisa kita lihat dalam Matius 6:5-15, dimana Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Dalam perikop ini Yesus mengajarkan:

1. Jangan tiru sikap  orang yang munafik ketika berdoa.
Orang munafik akan selalu berupaya agar mereka terlihat begitu suci dan hebat dalam berdoa, seperti yang dipertontonkan oleh para ahli Taurat dan Farisi pada masa itu. Mereka bukan mencari Tuhan, tetapi mencari popularitas agar terlihat hebat dihadapan orang banyak.
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (ay 5).
2. Ambil waktu khusus dan tempat yang tenang untuk berdoa.
Ketika orang mengira bahwa berdoa itu harus didengar orang lain, atau demonstratif, Yesus mengajarkan justru sebaliknya.
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (ay 6)
3. Jangan bertele-tele
Seperti yang sudah kita lihat kemarin, doa yang baik justru bukan doa yang berpanjang lebar tanpa juntrungan. Tidak dilarang memang untuk berdoa lama, tapi hanya jika itu memang berdasarkan kerinduan hati kita dan bukan melakukan perulangan-perulangan yang dimaksudkan agar Tuhan tidak lupa atau mengira bahwa durasi lama itu akan membuat doa kita didengar Tuhan. Ini bentuk-bentuk pemahaman yang keliru dan justru akan membuat doa kita tidak punya kekuatan sama sekali.
“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (ay 7-8).
4. Bereskan dahulu sekiranya ada sesuatu yang masih mengganjal antara kita dengan orang lain
Masih menyimpan dendam terhadap seseorang akan menjadi penghalang doa kita untuk sampai kepada Tuhan. Hal ini seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Mereka mengira bahwa mereka tetap akan didengar Tuhan meski masih mendendam atau benci kepada orang lain. Firman Tuhan berkata: “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25).
Untuk diperhatikan, Yesus pun kemudian memberikan sebuah contoh lewat doa yang dikenal sebagai Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13). Bacalah selengkapnya di dalam Alkitab untuk bisa melihat bagaimana sebenarnya berdoa yang baik itu langsung lewat Yesus sendiri.

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan dalam berdoa, pastikan tidak ada dendam terhadap siapapun, carilah tempat tenang dimana kita tidak terganggu dengan hiruk pikuk di sekitar kita, datanglah kepada Bapa dengan segala kerendahan hati dalam kondisi hati yang bersih, jujur dan tulus , berdoa dengan iman, berikan ucapan syukur sebagai persembahan terbaik bagi Dia, dan lakukan dalam nama Yesus. Just be simple, just be yourself. Tidak perlu berpikir terlalu rumit, tidak perlu bertele-tele, karena apa yang Tuhan pentingkan adalah hati kita. Pengkotbah juga mengingatkan kita: “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit” (Pengkotbah 5:1). Doa bukanlah kompetisi merangkai kata, menyusun kata puitis dan dramatis, dan bukan pula sebuah hafalan. Doa pun bukanlah sebuah formalitas atau sekedar ritual, seremonial, sementara hati seseorang sebenarnya tidak tertuju padaNya. yang Tuhan sungguh mengenal setiap ciptaanNya. Dia tahu apa yang kita alami dan rasakan, Dia tahu hati kita. Karena itu, berdoalah dengan cara seperti adanya diri kita sendiri, tidak perlu meniru gaya orang lain, apalagi pura-pura. Doa adalah sebuah anugrah yang luar biasa, anugrah berupa kesempatan dimana kita bisa menghampiri tahta kasih karunia, menghampiri Bapa dan berkomunikasi atau berhubungan secara timbal balik denganNya. Jadilah diri anda sendiri, berdoalah dengan sederhana dan jujur, dan sembahlah Dia dalam roh dan kebenaran. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh 4:24)

Just be simple and be yourself honestly in every prayers you make

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Berdoa yang Baik dan Benar (2)"

Response on "Berdoa yang Baik dan Benar (2)"