Berdoa Bagi Bangsa

Ayat bacaan: Daniel 9:16
====================
“Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.”

doa bagi bangsa, doa daniel

Dalam satu percakapan dengan seorang kakek di tempat saya bekerja, ia bercerita bahwa ia menyaksikan begitu banyak perubahan terjadi sepanjang hidupnya. Tempat-tempat yang tadinya hanya hutan dan sawah kini berubah menjadi gedung-gedung tinggi. Tempat yang tadinya sepi sekarang padat penghuni. Satu hal yang juga menarik adalah manusia pun berubah, katanya. Sekian puluh tahun lalu orang-orang di kota ini ramah dan sopan, saling menyapa meski tak kenal, sekarang orang tidak lagi peduli dengan orang lain. Tingkat kesopanan pun jauh menurun. Banyak orang yang tidak menghargai orang yang lebih tua, banyak yang sombong, sok jago dan merasa mereka punya hak lebih dari yang lain. Dalam skala mini, ini potret bangsa yang tengah merayakan hari kemerdekaannya.

Masihkah negara ini nyaman untuk didiami? Masih ideal kah negara ini menjadi tempat tinggal? Apakah kita saat ini dapat hidup secara aman bebas tanpa gangguan dan mendapat jaminan atas hak-hak kita? Apakah kita telah mendapat jaminan kebebasan untuk beribadah sesuai kepercayaan kita? Bagi sebagian orang di luar sana, kita tinggal di “land of fear”, dimana teroris merajalela, korupsi mulai dari kelas RW sampai lembaga-lembaga tinggi pemerintahan, bentuk-bentuk pemaksaan dengan kekerasan, kondisi transportasi yang dianggap tidak layak standar dan lain-lain. Harga melambung tinggi tidak sebanding dengan penghasilan, biaya pendidikan yang sangat tidak masuk akal, biaya kesehatan yang tidak terjangkau oleh sebagian besar penduduk dan lain-lain. Teman saya pernah berkata, di negara ini orang miskin dilarang makan, dilarang sehat dan dilarang baca. Ini sebuah sarkasme dari kondisi negara kita, dan sebuah ironi ketika dibanyak tempat orang sedang pesta merayakan hari kemerdekaan.

Kita kembali beberapa ribu tahun sebelumnya dan melihat Daniel tengah berdoa bukan buat dirinya sendiri tapi bagi bangsanya. Menarik melihat Daniel menggunakan kata “kami”, dan bukan “mereka”. Daniel sangat mencintai bangsanya, dan ia tahu sebagai bagian dari komunitas bangsa, ia pun akan turut menderita jika bangsanya menderita. Sebaliknya jika bangsanya makmur dan bahagia, ia pun akan jadi bagian yang dapat menikmati itu semua. Daniel tahu bahwa meskipun ia tidak berbuat kesalahan, tapi ia adalah bagian dari bangsa yang saat itu tengah memberontak, berlaku fasik, menyimpang dari peraturan-peraturan Tuhan dan bergelimang dosa. Dan ia pun sadar, kalau bukan dia, siapa lagi yang harus berdoa agar malapetaka dijauhkan dari bangsanya.

Belajar dari Daniel, di saat kita merenungkan posisi kita di tengah bangsa ini, sebagai bagian dari anak bangsa, warga negara sah dari republik tercinta ini, sudah selayaknya kita peduli dan turut mendoakan bangsa dan negara kita. Memang begitu banyak kondisi yang memprihatinkan, mungkin bagi sebagian besar orang negara ini tidak lagi nyaman, tapi ingat bahwa doa orang benar yang dengan yakin dipanjatkan sangatlah besar kuasanya. (Yakobus 5:16). Jika bukan kita yang mencintai negeri ini, peduli terhadap negeri ini, dan karenanya berdoa agar negeri ini tidak mendapat murka dan amarah dari Allah, lalu siapa lagi? Begitu banyak pelanggaran, begitu banyak kejahatan, dimana kita tidak termasuk didalamnya. Tapi sebagai bagian dari komunitas bangsa, sudah pada tempatnya kita berdoa memohon ampun atas semua pelanggaran yang dilakukan setiap elemen bangsa kita. Biarlah Tuhan bertahta atas kota, bangsa dan negara kita, dan atas kasih sayangNya yang berlimpah kita semua diampuni.

Indonesia juga milik Tuhan. Mari doakan negara yang kita cintai ini agar dipulihkan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply