Berbuat Baik, Jangan Merasa Terpaksa

berbuat baik 2 by youinc“Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.” (Fil 1, 13-14) Masih tentang perbuatan yang baik. Seorang perawat oma dan opa di Panti Wredha membersihkan […]

berbuat baik 2 by youinc

“Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.” (Fil 1, 13-14)

Masih tentang perbuatan yang baik.

Seorang perawat oma dan opa di Panti Wredha membersihkan meja dan lantai dengan jengkel dan marah, karena banyak nasi dan sayur berceceran saat mereka makan. Ia bekerja di sana karena tidak ada pilihan pekerjaan lain. Pekerjaan baik dilakukan dengan terpaksa.

Sepasang pasutri mengajak anaknya jalan-jalan di mall dan membelikan banyak permainan, agar anaknya gembira. Mereka merasa bersalah karena seharian sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya waktu bagi anaknya. Banyak pasutri melakukan perbuatan baik bagi anaknya dengan terpaksa, yakni sebagai silih atau penebus dosa karena mereka telah mengabaikan anaknya demi sebuah pekerjaan.

Seorang ketua lingkungan mengunjungi warganya yang sakit dengan ngomel dan menggerutu. Sebetulnya dia tidak mau menjadi ketua lingkungan, tetapi dia tidak mampu menolak desakan warga.

Banyak orang telah melakukan perbuatan baik bagi anggota keluarga atau sesama. Namun demikian, banyak perbuatan baik dilakukan dengan terpaksa, sambil ngomel, menggerutu, menyalahkan dan dengan muka cemberut atau kesal. Perbuatan baik yang dilakukan dengan keterpaksaan tidak akan mendatangkan berkat.

St. Paulus tidak ingin bahwa para murid melakukan perbuatan baik dengan unsur keterpaksaan. Dia tidak mau bahwa jemaat mengunjungi dan melayaninya saat di penjara dengan terpaksa. St. Paulus ingin agar para murid melakukan perbuatan baik dengan suka cita dan kerelaan.

Orang bisa melakukan perbuatan baik dengan rela dan suka cita, karena perbuatan baik itu mengalir dari hati yang penuh cinta dan kasih. Cinta kasih membuat banyak hal menjadi indah, ringan, menarik, menggembirakan.

Cinta kasih membuat orang tidak sungkan untuk berbagi dan mengulurkan tangan bagi sesama. Perbuatan baik yang mengalir dari kasih dan kerelaan akan mendatangkan sukacita dan berkat.

Teman-teman, selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply