Berbohong

Ayat bacaan: Matius 5:37
===================
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

berbohong, dusta, pinokio

Kita tentu mengenal tokoh bernama Pinokio, sebuah boneka kayu yang kemudian menjadi hidup. Tokoh yang berasal dari cerita Italia yang sempat direka Walt Disney ke dalam film kartun yang klasik ini sangat terkenal dengan hidungnya yang akan memanjang apabila ia berbohong. Ada banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk tidak berbohong dengan memakai kisah Pinokio ini, termasuk saya waktu kecil. Ketika itu saya percaya bahwa apabila saya berbohong maka hidung saya akan bertambah panjang. Lewat Pinokiolah saya belajar untuk tidak berbohong, dan itu baik. Manusia memang selalu cenderung untuk berbohong ketika melakukan sebuah kesalahan atau ketika terdesak. Lihatlah anak-anak kecil pun sudah pintar berbohong, padahal orang tua mereka tidak pernah mengajarkan demikian. Hingga dewasa kita akan terus hidup dalam satu kebohongan kepada kebohongan yang lain. Dalih seperti berbohong demi kebaikan atau dalam bahasa Inggris biasanya disebut “white lies” sering dipakai sebagai alasan membenarkan sebuah kebohongan. Atau ada pula yang berkata bahwa mereka terpaksa berbohong demi menjaga keutuhan sebuah hubungan, tidak ingin menyinggung dan sebagainya. Benarkah ada kondisi-kondisi tertentu yang memperbolehkan kita untuk berbohong? Tidak. Kebohongan dalam bentuk dan alasan apapun tidak akan pernah benar di mata Tuhan.

Sepanjang Alkitab mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru kita akan menemukan begitu banyak ayat yang mengingatkan kita untuk tidak berkata bohong atau berdusta. Bahkan Yesus sendiri mengatakan hal itu secara langsung. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37). Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No, anything more than that comes from the evil one. Berasal dari iblis. Bagaimana bisa? Jelas, karena iblis memang disebut sebagai bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Artinya ketika kita berdusta, kita bukan sedang melakukan kehendak Bapa Surgawi melainkan sedang memuaskan keinginan-keinginan bapa segala dusta, yang di dalamnya tidak ada kebenaran seperti apa yang tertulis dalam ayat Yohanes 8:44 ini. Biasanya sebuah kebohongan akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan lain yang lebih besar. Terbiasa berbohong akan membuat kita merasa biasa-biasa saja ketika berkata tidak jujur, dan itu bisa fatal akibatnya. Setidaknya suami istri Ananias dan Safira sudah mengalami konsekuensi berat akibat berbohong. (Bacalah Kisah Para Rasul 5:1-11).

Pembohong termasuk dalam kategori pendosa-pendosa yang akan mendapat ganjaran keras yang tidak akan mendapat tempat daalm Kitab Kehidupan. Dalam Wahyu kita bisa membaca Firman Tuhan yang berbunyi: “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya (Yerusalem Baru) sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.” (Wahyu 21:27).  Lantas kemana para pembohong ini kelak? Pembohong berada dalam satu kumpulan bersama penjahat, pembunuh, tukang sihir, penyembah berhala, orang-orang tidak percaya yang akan dibuang ke dalam lautan api dan belerang. “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” (ay 8). Banyak orang yang beranggapan bahwa berbohong tidaklah sama seperti halnya berbuat kejahatan. Membunuh jelas salah, berbuat keji jelas salah, tapi berbohong kan wajar atau biasa saja? Di mata Tuhan semua itu ternyata sama saja. Dosa tetaplah dosa, apa yang bukan berasal daripadaNya berarti berasal dari si iblis, dan kepada orang yang melakukan keinginan-keinginan iblis tempatnya sudah jelas.

Sejak semula Tuhan sudah mengingatkan kita untuk tidak berdusta. Amsal Salomo pun telah menuliskan hal ini. “Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.” (Amsal 19:9). Orang yang bersaksi dusta dan pembohong sama-sama tidak akan luput dari hukuman dan akan binasa. Sesungguhnya Tuhan memandang kebohongan itu sebagai sebuah dosa yang sangat serius. Alangkah sayangnya apabila kita tidak membunuh, tidak menyembah berhala, tidak menyiksa orang, tidak terlibat okultisme tetapi memiliki kebiasaan berbohong karena menganggap bahwa itu biasa saja.

Oleh sebab itu selagi kita masih punya kesempatan, hendaknya kita memperhatikan secara serius mengenai kejujuran kita. Jika kita tadinya berpikir bahwa berbohong itu manusiawi dan wajar, ingatlah bahwa Tuhan tidak memandangnya demikian. Itu bukan berasal dariNya melainkan dari si jahat, iblis, the evil one. Paulus mengingatkan hal ini dengan sangat baik. “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (Kolose 3:9-10). Sebagai manusia baru kita sudah dianugerahkan Roh Kudus yang akan membantu kita untuk terus berproses agar semakin menyerupai gambaran Tuhan, dan bukan mengalami kemunduran. Kita akan terus menerus diperbaharui untuk lebih baik lagi dan bukan untuk bertambah buruk. Kebohongan atau dusta tidak memiliki tempat di sana.

Jika kepada semua orang saja kita tidak boleh berbohong apalagi kepada sesama anggota tubuh Kristus. Sifat kebiasaan membohong bukan saja dimiliki oleh orang-orang tidak percaya, tetapi di kalangan orang percaya pun hal ini terjadi, bahkan tidak tertutup kemungkinan di tengah pelayan-pelayan Tuhan sekalipun. Oleh karena itu Paulus pun sudah mengingatkan secara khusus akan hal ini. “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” (Efesus 4:25). A lie is a lie, no matter what. Tidak peduli apapun alasannya, sebuah kebohongan tetaplah sesuatu yang tidak berkenan di mata Tuhan dan akan sangat beresiko untuk melenyapkan kita dari Kitab Kehidupan. Mulailah hari ini juga untuk menjaga benar kejujuran kita dan tidak membuka celah apapun sebagai pintu kesempatan bagi iblis untuk masuk. Kita tidak mengalami hidung yang bertambah panjang ketika berbohong seperti Pinokio, tetapi kita tidak perlu mengalami demikian apabila kita mau mendengarkan baik Firman Tuhan hari ini. Belajarlah menghidupi kejujuran, belajarlah hidup dalam kebenaran mulai saat ini juga.

Kebohongan merupakan dosa yang serius di mata Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan untuk apa berbohong mp4
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: