Berbekal Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian”, Romo LA Sardi SJ Bimbing Retret Pengolahan Diri Sesawi (1)

Ahli Spiritualitas Ignatian lulusan Spanyol Romo Leo Agung Sardi SJ membuka Retret Bimbingan Pengolahan Pribadi untuk Sesawi di Rumah Doa St. Maria Guadalupe, 23-25 Maret 2018. (Mathias Hariyadi)

AWALNYA bermula dari dua kisah berbeda.


Pertengahan Juli 2017 telah terbit buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian (Yayasan Sesawi, 2017) karya Pater James Martin SJ. Buku ini menjadi best seller 2010 menurut koran beken The New York Times – tahun terbit edisi awal buku ini menurut edisi aslinya dalam bahasa Inggris.


Baru di tahun 2017, edisi bahasa  Indonesia dizinkan terbit oleh Pater James Martin SJ dan HarperCollins Publishers di New York setelah 10 tahun terbit edisi aslinya. Selama tiga tahun, sejumlah mantan Jesuit Indonesia  berjibaku menyiapkan produk edisi bahasa Indonesianya ini hingga akhirnya di pertengahan Juli 2017 edisi buku berbahasa Indonesia ini siap dirilis publik.


Itu baru kisah yang pertama.


Kisah kedua adalah frekuensi pertemuan yang sering terjadi antara Winoto Doeriat –doktor manajemen alumnus Harvard University di AS plus mantan Jesuit—dengan Romo Leo Agung Sardi SJ di Kolese St. Ignatius (Kolsani), Yogyakarta.  Dari seringnya bertemu muka dengan pastor Jesuit ahli Spiritualitas Ignatian (baca: Spiritualitas Yesuit) inilah, muncul gagasan tentang perlunya para mantan Jesuit Indonesia yang tergabung dalam tiga ‘lembaga’ berbeda (Yayasan Sesawi, Paguyuban Sesawi, dan Sesawi.Net) bisa mencecap kembali kekayaaan warisan tradisi Spiritualitas Yesuit.


Dari situlah lalu muncul program acara Retret Bimbingan Pengolahan Diri bersama Romo Leo Agung Sardi SJ untuk para mantan Jesuit Indonesia yang berkegiatan di tiga ‘organ’ besutan para mantan SJ Indonesia ini. Mereka ini sebenarnya orang-orang yang sama, namun dengan fokus perhatian berbeda-beda sesuai dengan kapasitas setiap penggiatnya dan bidang layanan yang mereka lakukan.


Singkat kata, sejak Juli 2017 telah dipersiapkan conditioning-nya baik oleh Romo LA Sardi SJ dan Winoto Doeriat (Ketua Pembina Yayasan Sesawi), maka akhirnya program Retret Bimbingan Pengolahan Diri bagi para anggota Sesawi ini berhasil dilaksanakan di Rumah Doa St. Maria Guadalupe di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, 23-25 Maret 2018.


Jangan sampai ketularan ‘jebling’


Di pengantarnya saat membuka Retret Pengembangan Diri Sesawi berbekal buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian (Yayasan Sesawi: James Martin, 2017), Romo Leo Sardi SJ memberi ilustrasi menarik. Doktor bidang Spiritualitas Yesuit ini bicara  tentang bagaimana ‘potret’ alam pikir Nostri (sebutan khas untuk para Jesuit oleh Jesuit) ketika memandang mereka yang sudah keluar meninggalkan Ordo Serikat Jesus (SJ) dan kemudian merintis ‘jalan hidup’ baru sebagai awam yang mantan Jesuit.


Mengutip ‘alam pikir’ para Jesuit tempo doeloe, demikian kata Romo LA Sardi, setiap orang yang sudah keluar meninggalkan SJ sebaiknya jangan lagi disapa, diajak bergaul akrab, dan kenal lagi. “”Nanti, kalian bisa kena ketularan ‘virus’ sama yakni keinginan jebling meninggalkan Serikat Jesus,” demikian kata Romo Sardi SJ mengutip omongan pastor SJ asal Jerman yang sudah meninggal dunia.


Retret Bimbingan Pengolahan Diri untuk Sesawi bersama Romo Leo Agung Sardi SJ. (Mathias Hariyadi)

Alam pikir kuno dan sekarang


Tentu saja tentang paparan ilustrasi di atas itu harus diberi catatan penting.


Komentar yang dikutip itu bukan melulu ‘pendapat pribadi’ pastor Jesuit yang telah meninggal dunia. Melainkan, cara pikir  itu seakan sudah menjadi semacam ‘pendapat umum’ di kalangan Nostri bahwa mereka yang sudah keluar dari SJ sudah bukan lagi menjadi bagian “Inter Nos” (Antar Kita). Karena itu, sudah tidak relevan lagi bergaul akrab dan berkenalan dengan para mantan SJ tersebut.


Namun, itu dulu. Sekarang ini, ‘alam pikir’ kuno itu sudah mulai ditinggalkan.


Dalam kunjungannya ke Indonesia dan sempat bertemu dengan Winoto Doeriat di Universitas Sanata Dharma awal Juli 2017 lalu, Superior General SJ Pater Arturo Sosa SJ dengan amat jelas dan tegas kembali menekankan pentingnya setiap Jesuit merangkul kaum awam untuk diajak berkolaborasi.



Tandatangan Pater Jenderal Jesuit di 10 Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian” Terbitan Perdana (3)


Pewarisan nilai Spiritualitas Ignatian


Gagasan tentang kolaborasi SJ dan kaum awam itu dikatakan oleh Pater Jenderal SJ di Yogyakarta.  Sebagai pakar manajemen, Winoto Doeriat langsung menyambar ‘ide besar’ itu untuk menggandeng SJ Provinsi Indonesia agar bersedia mengajak Sesawi (Sesama Sahabat Warga Sahabat Ignatian; bukan biji sesawi) untuk sebuah program ‘pewarisan nilai’.


Dan program pewarisan nilai itu sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh Yayasan Sesawi dengan terbitnya buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian karya Paters James Martin SJ.


Yang ingin diwariskan tentu saja adalah tradisi exercitia spiritualita atau program-program latihan-latihan rohani.


Buku James Martin SJ itu bicara tentang ‘jatidiri’ identitas Jesuit dari perspektif spiritualitasnya –semacam ‘roh’ utama yang menjiwai dan menggerakkan para Jesuit sehingga masing-masing bisa ‘menjadi seperti itu’ dan berbeda dengan para imam dari tarekat religius lain dan para imam diosesan (praja).


Program atau kegiatan yang sifatnya kognitif akan pengenalan ‘jatidiri’ akan alam pikir (baca: Spiritualitas Ignatian) itu sekarang ini sudah semakin menjamur di banyak kota.  Bersama pastor Jesuit di beberapa kota itu, ada begitu banyak awam Katolik yang merasa tertarik akan ‘jatidiri’ Jesuit dengan Spiritualitas Ignatian-nya dan kemudian menggelar beberapa kursus tentang identitas Jesuit ini.


Merintis kolaborasi


Program Retret Bimbingan Tiga Hari –karenanya disebut Triduum (artinya tiga hari)—bersama Romo Leo Agung Sardi SJ ini juga dirancang sebagai embrio untuk menggerakkan  Sesawi ikut berpartisipasi dalam program-program pembinaan kaum awam tentang ‘jatidiri’ Jesuit.


Tentu, Sesawi harus berterima kasih kepada Ordo Serikat Jesus Provinsi Indonesia c.q. Pater Provinsial Petrus Sunu Hardiyanto SJ yang secara khusus menugaskan Romo Leo Agung Sardi SJ ini menginisiasi program kolaborasi rintisan bersama SJ-Sesawi.


Romo Sardi SJ sudah mengawali langkah pertamanya  dengan sukacita.


Pastor asal Paroki Klepu DIY telah memberi pengantar yang sangat baik di buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian.  Itu dia lakukan guna mengeksekusi  tugas khusus yang diberikan kepadanya oleh Romo Provinsial SJ.


Retret Bimbinan Pengolahan Pribadi bersama Sesawi  yang dia besut di Rumah Doa St. Maria Guadalupe di Duren Sawit, 23-25 Maret 2018 adalah langkah keduanya.  Langkah kedua rintisan ini  dilakukan guna menggerakan program  kegiatan bernama ‘kolaborasi’ SJ dan Sesawi ini. (Bersambung)


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply