Berbeda Pandangan (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 15:39======================”Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.”Di Indonesia banyak orang yang mengira bahwa yang cantik itu a…

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 15:39
======================
“Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.”

Di Indonesia banyak orang yang mengira bahwa yang cantik itu adalah orang yang kulitnya putih. Coba lihat ada berapa banyak macam-macam iklan yang diarahkan untuk memutihkan kulit. Sabun, lotion, deodorant, jangan-jangan nanti bakal ada shampo atau pemutih pakaian yang sekaligus bisa dipakai memutihkan kulit. Tapi jika anda pergi ke negara-negara di Eropa, mereka justru sebaliknya. Mereka ingin berkulit gelap, tidak putih pucat seperti umumnya orang disana. Maka yang laku bukanlah sabun, lotion dan sejenisnya melainkan tanning machine. Suku dayak punya kuping panjang dan itu mereka anggap cantik. Kita merasa itu aneh, tapi kalau mereka melihat kuping kita, mereka pun pasti merasa aneh. Mungkin anda pernah mendengar, membaca atau melihat foto dari suku leher panjang di Thailand. Entah bagaimana caranya, mereka bisa memasang gelang-gelang di leher dengan berat lumayan sehingga lehernya bisa panjang. Dan itu mereka anggap cantik. Buat kita mungkin tidak, tapi buat mereka ya. Sebaliknya, mereka mungkin geli melihat kita yang lehernya pendek. Yang normal saja mereka anggap pendek, apalagi yang sebagian ketutupan lemak dagu.

Atau mari lihat contoh lain. Pernahkah anda mendengar Chinese foot binding? Ini adalah tradisi China kuno yang menghentikan pertumbuhan kaki perempuan pada masanya. Para wanita golongan kelas atas atau bangsawan pada masa itu wajib memiliki kaki kecil, dan itu dianggap anggun. Trend yang sangat menyiksa perempuan ini berlangsung cukup lama yaitu sejak 600 an Masehi hingga awal 1900 an. Nenek saya pernah bercerita tentang kaki kecil itu, yang ternyata masih sempat dilakukan orang-orang Tiongkok di Indonesia. Kaki kecil itu cantik menurut mereka pada masanya, dan untuk memiliki itu mereka rela menderita bertahun-tahun. Bagi kita aneh, tapi bagi mereka cantik. Sebaliknya mereka mungkin merasa aneh melihat kaki wanita dengan ukuran normal yang dibiarkan sampai dewasa. Beda tradisi, beda budaya, beda persepsi, beda pandangan.

Alkitab secara jujur mencatat adanya perselisihan yang sempat terjadi antara dua hamba Tuhan yaitu Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:35-41. Sebelumnya keduanya disebutkan sebagai dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Yesus (ay 26), jadi mereka bukanlah orang-orang yang imannya sembarangan. Apa yang membuat mereka berselisih paham adalah soal Markus. Pada saat itu Markus sempat meninggalkan keduanya saat di Pamfilia, sehingga Paulus menolak untuk membawa Markus kembali masuk dalam pelayanan mereka. Tapi Barnabas bersikeras ingin membawa Markus lagi karena ingin memberi kesempatan kedua. “Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka.” (ay 37-38). Gara-gara soal Markus, mereka jadi bertengkar keras hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah. “Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.” (ay 39).

Sebelumnya, mari kita lihat adanya perbedaan sifat atau sikap antara Paulus dan Barnabas. Paulus dikenal sebagai orang yang radikal mengalami perubahan, tadinya orang yang kejam, keras, bahkan sadis saat masih dipanggil Saulus, tapi kemudian seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 9 ia mengalami pertobatan. Sesudah ia menerima pertobatan, ternyata ia masih sulit diterima oleh orang-orang yang dulu sempat bermasalah dengannya. Dan Barnabas merupakan orang pertama yang membuka pintu untuk menerima Paulus. Tanpa Barnabas, Paulus mungkin tidak melayani dan kita pun kehilangan sebagian besar dari Perjanjian Baru karena Paulus menulis setidaknya 13 surat disana. Paulus tipe keras sedang Barnabas tipe orang yang selalu mau memberi kesempatan kedua.

Siapa yang salah? Tergantung dari sudut pandangnya. Paulus benar karena sifat Markus tentu bisa mengganggu pelayanan mereka yang sesungguhnya tidak gampang. Mereka harus berjalan dari satu kota ke kota yang lain dengan segala resikonya, sehingga akan sangat mengganggu apabila ada anggota di dalam yang suka bikin masalah. Sebaliknya Barnabas juga benar karena ia ingin memberi kesempatan kedua. Bukankah Tuhan pun selalu membuka kesempatan untuk pertobatan kita? Tak peduli seperti apapun dosa kita yang sudah lalu, Dia akan selalu menyambut kita dengan sukacita bila berbalik kepadaNya dengan pertobatan yang sungguh-sungguh. Jadi siapa yang salah? Saya menganggap tidak ada. Yang terjadi hanyalah perbedaan persepsi atau sudut pandang antara dua hamba Tuhan luar biasa yang timbul ketika mereka ada dalam situasi berat.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply