Monday, 22 December 2014

Berbakti kepada Orang Tua

Ayat bacaan: 1 Timotius 5:3
===================
“Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”

berbaktiSaya selalu merasa kagum melihat beberapa keluarga yang rutin beribadah di gereja saya dengan tekun membawa orang tua mereka yang sudah jompo. Salah satunya baru terkena stroke dan memiliki kesulitan untuk menelan air liurnya. Tetapi ia tetap bersemangat, dan keluarganya dengan telaten menyeka air liurnya yang kerap mengalir keluar. Pemandangan mengharukan ini kerap menjadi perhatian saya, karena ini bukanlah pemandangan yang biasa kita lihat sehari-hari. Semakin lama orang yang peduli terhadap orang tuanya semakin sedikit. Mereka merasa terlalu sibuk untuk merawat orang tuanya, risih membersihkan kotoran-kotoran, merasa malu dilihat orang “menenteng-nenteng” orang tuanya atau alasan-alasan lain. Tidak jarang pula pasangan mereka menentang karena tidak mau direpotkan oleh kehadiran orang tua yang sakit-sakitan di rumahnya. Betapa miris melihat nasib para orang tua yang tidak dikehendaki anaknya lagi. Tidak jarang saya mendengar para orang tua seperti ini berkata lebih ingin mati saja daripada menjadi masalah bagi hidup anak-anaknya, dan merasa kecewa melihat mereka tidak lagi disayangi. Panti jompo pun akhirnya menjadi tempat “terakhir” bagi mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya. Tidak ada lagi anak atau cucu yang menyambangi, tidak ada lagi yang peduli. Jika seorang anak saja sanggup untuk tidak mempedulikan sisa umur orang tuanya sendiri, bagaimana dengan menantu? Tidak jarang ada jurang membentang diantara mertua dan menantu, apalagi di zaman sekarang ketika orang yang berusia lebih muda sudah tidak lagi mementingkan untuk bersikap hormat kepada orang yang lebih tua.Karena itulah melihat keluarga-keluarga yang masih menyayangi orang tuanya yang sudah tinggal sendirian dan mau repot-repot membawa mereka untuk menyembah Tuhan bersama-sama. Tidak saja mengharukan untuk kita lihat, tetapi Tuhan pun sangat menghargai hal ini.

Alkitab mencatat dengan jelas hal tersebut. “Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.” (1 Timotius 5:3). Dengan jelas dikatakan bahwa anak cuculah yang seharusnya menjadi orang pertama yang wajib memperhatikan nasib mereka. Dikatakan belajar berbakti dan belajar membalas budi orang tua dan nenek atau kakek mereka. Disaat orang tua sudah tidak bisa lagi berbuat banyak karena usia mereka yang sudah lanjut, itulah saatnya bagi para anak dan cucu untuk berbakti dan membalas budi mereka yang dahulu mati-matian dalam membesarkan anak-anaknya dengan penuh cucuran keringat dan air mata. Alangkah ironisnya melihat orang-orang yang merasa malu atau risih untuk sekedar bertemu dengan orang tua mereka, apalagi mengurus dan merawatnya. Begitu teganya mereka lupa akan perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan orang tua disaat mereka masih kecil. Disaat dulu tidak bisa apa-apa, orang tua berjuang habis-habisan agar anak-anaknya mendapat yang terbaik, tetapi di saat kini orang tua yang tidak bisa apa-apa lagi, bukannya membalas budi tetapi anak-anak yang tidak berbakti ini justru meninggalkan orang tuanya.

Firman Tuhan dengan tegas berkata bahwa anak dan cucu yang mau berbakti dan ingat untuk membalas budi inilah yang berkenan bagiNya. Tuhan tidak suka orang-orang percaya yang tidak tahu membalas budi, bersikap habis manis sepah dibuang apalagi terhadap orang tua mereka sendiri. Tuhan sangat menganggap penting hal ini. Lihatlah satu dari 10 Perintah Allah yang turun lewat Musa berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Ulangan 5:16). Hormati, itu bukan hanya mengacu pada hubungan disaat keduanya masih segar bugar, tetapi justru akan sangat terlihat dari bagaimana sikap kita menghadapi orang tua yang sudah sakit-sakitan atau lemah karena usia lanjut.

Kita bisa melihat sebuah contoh indah akan hal ini dalam kisah Rut. Setelah suaminya meninggal, sebenarnya ia punya hak untuk meninggalkan Naomi mertuanya dan kembali kepada bangsanya sendiri. Bahkan Naomi pun sudah merelakannya. Tetapi lihatlah bagaimana keputusan Rut. “Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (Rut 1:16). Rut memilih ikut mertuanya masuk ke negeri dimana bangsanya tidaklah dipandang sama sekali. Hidup tidak mudah bagi Rut. Ia harus melakukan pekerjaan yang sangat rendah sebagai pemungut jelai, sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan membuntuti orang-orang yang menyabit gandum dan memunguti sisa-sisa serpihan dari hasil sabitan mereka. Rut dengan rela melakukannya bukan saja buat menyambung hidupnya sendiri, tetapi ia melakukan itu untuk menunjukkan baktinya kepada mertuanya juga. “Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu.” (2:17-18). Seefa itu sekitar 10 kg. Itu hasil jerih payahnya bekerja seharian, dan itu dibawanya kepada Naomi. Begitulah besarnya bakti yang ditunjukkan Rut, sehingga tidaklah heran apabila Tuhan berkenan kepadanya.

Ayah, ibu, nenek, kakek maupun mertua, mereka semua adalah orang tua kita yang harusnya kita kasihi dan peduli. Mereka berjuang dengan segala daya upaya untuk membesarkan dan menyekolahkan kita. Jika kita sudah bekerja mapan hari ini, semua itu tidaklah terlepas dari usaha orang tua kita juga. Sudahkah kita membalas budi mereka dan mengucapkan terimakasih kepada mereka? Jangan tunda lagi, nyatakanlah bahwa anda mengasihi mereka dan usahakanlah agar mereka bisa bahagia di hari-hari akhir mereka. Dulu kita masih belum bisa apa-apa dan orang tua kitalah yang berjuang untuk masa depan kita, sekarang saatnya bagi kita untuk membalas jasa mereka dan membuat mereka bersyukur, bangga dan berbahagia di hari tua mereka karena memiliki anak cucu dan keluarga yang mengasihi mereka.

Tuhan berkenan kepada anak-anak yang berbakti dan tahu membalas budi kepada orangtuanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Berbakti kepada Orang Tua"

Response on "Berbakti kepada Orang Tua"