Berapa Lama Lagi, Tuhan?

Ayat bacaan: Mazmur 13:2
=====================
“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”

berapa lama lagi Tuhan, dimana Tuhan

“Dimanakah Tuhan disaat aku menderita? Berapa lama lagi aku harus merasakan penderitaan ini?” Kata seorang teman pada suatu kali ketika ia menghadapi penderitaan. Ia merasa seolah-olah Tuhan tidak mempedulikan dirinya dan membiarkannya sendirian menghadapi semua beban. Seperti dirinya, ada saat-saat dimana kita berhadapan dengan pertanyaan yang sama. Seringkali ketika kita berada dalam titik rendah kehidupan, kita mulai bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak mengulurkan tanganNya atau setidaknya menjawab doa kita. Mengapa Tuhan seolah-olah sengaja memalingkan mukaNya, membiarkan kita bergumul sendirian? Pada saat-saat demikian seringkali kita tidak lagi mampu mengeluarkan ucapan syukur.

Ada memang masa dimana kita mengalami kesulitan, dan itulah hidup. Tidak ada hidup yang selamanya senang. Pasti ada waktu kita harus merasakan kesedihan bahkan penderitaan dengan berbagai bentuk dan sebab. Sebagai manusia yang memiliki perasaan, tentu rasa itu menyakitkan kita, dan tidak ada satupun dari kita yang ingin berlama-lama berada dalam perasaan sakit itu. Kita ingin sesegera mungkin lepas. Namun mengapa Tuhan tidak kunjung menolong kita? Ini pertanyaan yang pasti pernah dialami oleh siapapun. Hal yang sama juga sempat dialami oleh beberapa tokoh Alkitab dalam berbagai kesempatan, seperti apa yang dialami Daud misalnya. Pada suatu ketika Daud mengalami pergumulan berat. Semua musuhnya bersorak-sorak mengejeknya, dan ia pun sempat merasa mengalami itu sendirian saja tanpa ada yang peduli, termasuk Tuhan. Ia berada dalam titik rendah, dalam tekanan atas segala yang ia alami, sampai-sampai ia pun bertanya pada Tuhan: “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mazmur 13:2). Daud terus melanjutkan keluhannya, “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (ay 3). Dalam kesesakan hidup, sama seperti Daud kita pun sering mempertanyakan hal yang sama. Itu adalah hal yang wajar. Tapi janganlah membiarkan hal itu berlarut-larut, membiarkan kita hanya terfokus kepada keluhan atas ketidaksabaran kita mengalami tekanan, lalu serta merta menyalahkan Tuhan karenanya. Daud tidak mau terjatuh pada perasaan seperti itu. Ia memang sempat mengeluh, dan itu sekali lagi wajar, tapi ia tidak mau berlama-lama membiarkan perasaan itu menguasainya. Daud tidak ingin tenggelam dan menyerah pada situasi tidak menyenangkan yang ia alami. Segera ia bangkit dan mengandalkan imannya, percaya bahwa Tuhan pasti mampu mengatasi segala perkara, termasuk perkara dirinya dan akan segera melepaskannya dari kesesakan. Lihat bagaimana Daud kembali tegar dan mengubah pola pandangnya. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” (ay 6). Luar biasa bukan? Masih dalam kesesakan, Daud bisa kembali bangkit bahkan memuji Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan telah berbuat baik kepadanya.

Apa yang membuat Daud bisa berkata demikian? Saya yakin Daud belajar dari pengalaman hidupnya. Disaat ia masih sangat muda, ia sudah mampu mengalahkan raksasa Goliat atas izin Tuhan. Kemudian mari kita lihat siapa Daud. Daud tadinya bukan siapa-siapa, ia bahkan tidak dipandang ayahnya sendiri ketika Samuel hendak mengambil salah satu dari anaknya untuk menjadi raja. (baca 1 Samuel 16:1-13). Daud hanyalah anak-anak yang kerjanya hanya menggembalakan kambing domba. Tapi lihatlah ternyata ia dipilih Tuhan untuk menjadi raja Israel. Dari padang rumput ke tampuk istana, dari bukan siapa-siapa menjadi raja yang mulia. Dalam berbagai kesempatan Daud secara langsung mengalami penyertaan Tuhan atas hidupnya. Begitu banyak bukti di masa lalunya. Jika dulu semua itu mampu dilakukan Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan sekarang tidak bisa menolongnya? Daud menyadari hal itu, sehingga ia pun bisa bangkit dan kembali mempercayakan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dalam iman yang kuat.

Mungkin bisa dimaklumi jika pada suatu saat kita merasa sendirian menghadapi masalah, merasa bahwa Tuhan sepertinya meninggalkan kita bergumul seorang diri. Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasai kita berlama-lama. Segeralah bangkit seperti Daud! Berbaliklah segera dan kembalilah menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Percayalah jika dahulu Tuhan sanggup, saat ini pun Dia sanggup, sebab Tuhan tidak tidak pernah berubah. Dalam Ibrani dikatakan “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Apa yang dijanjikan Tuhan sesungguhnya jelas: “..Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Yosua 1:5) dan kemudian ayat ini kembali diulang dalam Ibrani: “Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b). Karenanya, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Dan “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Ada masa dimana kita harus mengalami permasalahan yang mungkin menimbulkan penderitaan, tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Pada waktunya, sesuai waktuNya, Dia akan mengangkat kita keluar dari pergumulan. Jika diantara teman-teman ada yang masih berada dalam pergumulan, bersabarlah dan jangan putus harapan. Nantikan pertolongan Tuhan dengan sabar, tetaplah tekun dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Pada waktunya Tuhan pasti akan menyatakan mukjizatNya yang ajaib.

Bersabarlah dan tetaplah percaya dalam iman yang teguh, segala sesuatu pasti indah pada waktunya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply