Berantas Cacing

0
1

Ilustrasi: courtesy of nanoreef

RABU, 28 Maret 2018 BPOM RI telah melakukan pengujian terhadap 541 sampel ikan makarel kaleng, dengan 27 merek positif mengandung parasit cacing anisakis.


Cacing anisakis memang hidup di dalam tubuh mamalia laut dan ikan makarel yang biasa berenang di lautan Eropa. Cacing ini dianggap berbahaya, jika dikonsumsi saat hidup, karena dapat menginfeksi perut dan alergi bagi penderita asma, meskipun cacing anisakis pada ikan makarel kaleng dipastikan mati saat diolah, dan tidak berbahaya jika dikonsumsi.


Apa yang sebaiknya diketahui? Cacing anisakis yang tidak berbahaya ini mengingatkan kita bahwa lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% populasi dunia, sebagian besar anak, telah terinfeksi dengan infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah di seluruh dunia. Infeksi tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, dengan jumlah terbesar terjadi di sub-Sahara Afrika, Amerika Latin, China dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.


Indonesia memiliki angka kecacingan yang tinggi sebesar 28% anak, karena dipengaruhi oleh kurangnya kebersihan, sanitasi, pasokan air, kepadatan penduduk, serta tanah yang lembab.


Ada beberapa jenis cacing berbahaya yang menginfeksi anak.

Pertama adalah cacing gelang (ascaris lumbricoides) yang masuk ke dalam tubuh anak saat berupa telur, yang terdapat pada sayuran dan buah yang tidak dibersihkan dengan baik.Kedua adalah cacing cambuk (trichuris trichiura) yang mampu bertelur hingga 5-10 ribu butir per hari. Cacing ini dapat membenamkan kepalanya pada dinding usus besar sehingga menyebabkan luka di usus. Pada infeksi yang berat akan terjadi diare yang mengandung lendir dan darah.Ketiga cacing tambang (necator americanus dan ancylostoma duodenale) yang mampu bertelur 15-20 ribu butir per hari. Larva cacing tambang mampu menembus kulit kaki dan selanjutnya terbawa oleh pembuluh darah ke dalam usus halus, paru dan jantung.Keempat adalah cacing kremi yang berbentuk kecil dan berwarna putih. Cacing ini bersarang di usus besar. Cacing kremi dewasa akan berpindah ke anus untuk bertelur. Telur inilah yang menimbulkan rasa gatal pada anus.

Cacing dapat mengganggu status gizi anak dengan berbagai cara. Cacing makan jaringan anak, termasuk darah, yang menyebabkan hilangnya zat besi dan protein dari darah anak. Cacing tambang di samping menyebabkan kehilangan darah kronis yang dapat menyebabkan anemia pada anak, juga meningkatkan gangguan penyerapan atau malabsorpsi nutrisi pada usus.


Selain itu, cacing gelang diduga juga dapat menyebabkan malabsorbsi vitamin A di usus, menyebabkan hilangnya nafsu makan dan oleh karena itu, pengurangan asupan nutrisi dan kebugaran fisik. Secara khusus, cacing  pita atau T. trichiura dapat menyebabkan diare disentri.


Pengobatan berkala kecacingan dilakukan tanpa diagnosis sebelumnya, terhadap semua orang berisiko yang tinggal di daerah endemik. Pengobatan harus diberikan setahun sekali bila prevalensi infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah pada masyarakat di atas 20%, dan dua kali setahun bila prevalensi di atas 50%.


WHO merekomendasikan obat albendazol (400 mg) dan mebendazol (500 mg), yang telah terbukti efektif, murah dan mudah dikelola oleh petugas non medis sekalipun, misalnya guru. Obat tersebut telah melalui pengujian keamanan yang ekstensif dan telah digunakan pada jutaan orang dengan sedikit efek samping.


Baik albendazol dan mebendazol diberikan di semua negara endemik, untuk semua anak usia sekolah.


Pemberian obat cacing dapat dimulai sejak anak usia 2 tahun. Hal ini, disebabkan karena pada anak usia 2 tahun sudah terjadi kontak dengan tanah, yang merupakan sumber penularan infeksi cacing. Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali.


Sedangkan, untuk daerah non endemis pemberian obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan anjuran dokter, berdasarkan hasil pemeriksaan tinja positif ditemukan telur cacing atau cacing.


Tahun 2015 lalu, sebanyak 18,1 juta anak Indonesia telah mendapatkan obat cacing Albendazole (400 mg) dosis tunggal oleh petugas puskesmas dan diminum langsung saat itu, untuk memastikan bahwa obat itu benar diminum oleh anak sekolah.


Pada tahun 2016, lebih dari 385 juta anak usia sekolah telah diobati dengan obat cacing di negara endemik, sesuai dengan target 68% dari semua anak yang berisiko. Target global tahun 2020 adalah memberantas cacing yang ditularkan melalui tanah pada anak.


Temuan parasit cacing anisakis oleh BPOM RI pada ikan makarel kaleng, mengingatkan kita akan program pemberantasan cacing.


Dengan pemberian obat cacing secara teratur, setidaknya pada 75% anak di daerah endemik, yaitu diperkirakan 836 juta anak pada tahun 2016, anak akan bebas cacing.


Sudahkah tahun ini anak kita diberikan obat cacing?


Dr dr FX Wikan Indrarto SpA

Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta dan RS Siloam, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta.

Sumber: Sesawi

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here