Berani Ambil Risiko Memperlambat Hidup?


Berani Ambil Risiko Memperlambat Hidup? Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality


Bayi perempuan dilahirkan. Tidak ada yang tampak istimewa secara kasat mata. Segalanya terlihat biasa, ayah dan ibu yang biasa, keluarga yang biasa, situasi yang biasa. Kelak di kemudian hari, ketika bayi itu telah menjadi seorang perempuan berusia belasan tahun, sebuah hal yang luar biasa terjadi. Tuhan mengutus malaikat Gabriel untuk mengatakan kepada perempuan muda itu bahwa seluruh dirinya, dan teristimewa rahimnya, telah sejak awal mula dikuduskan.


Sedikit pun ia tidak menduga bahwa selama tahun-tahun sebelum peristiwa itu, Tuhan telah terus bekerja dalam dirinya. Maria diajak untuk melihat bahwa Tuhan telah mengerjakan hal luar biasa secara tersembunyi di balik bungkus peristiwa dan pengalaman kehidupan yang terlihat biasa saja.

Pesta Kelahiran Maria

Pesta Kelahiran Maria yang belum lama ini dirayakan dalam Gereja adalah satu dari sekian ungkapan penghormatan pada Maria. Kembali kita secara khusus diajak untuk membuka mata lebar-lebar, dan kembali dikejutkan bahwa Tuhan senantiasa aktif bekerja, meskipun di mata manusia segalanya masih terlihat biasa-biasa saja.


Kita tidak bisa tahu secara pasti, bagaimana Maria bertumbuh sejak kelahirannya hingga hari penting itu—ketika rahimnya dinyatakan telah siap untuk menjadi rumah bagi Yang Ilahi. Di dalam rahim Maria itu, rahim seorang manusia perempuan biasa, Yang Ilahi sendiri disiapkan hingga tiba saatnya dilahirkan.


Tuhan Yang Mahakuasa, yang sebenarnya punya kuasa untuk mengerjakan hal luar biasa secara ajaib hanya dengan bersabda saja, justru memilih untuk menempuh jalur panjang, melalui rangkaian persiapan yang biasa. Terlihat jelas bahwa Tuhan bertindak dengan sabar. Tuhan tidak ingin tergesa-gesa. Tuhan berani ambil risiko mempercayakan rencana besar-Nya pada proses yang biasa.


Risiko untuk menempuh cara bertindak yang lambat—dalam kurun waktu yang panjang tanpa terburu-buru ingin secepatnya melihat hal yang luar biasa—adalah salah satu ciri bertindak Tuhan yang harus juga ditiru oleh kita manusia. Karena tidak sabar, banyak manusia menempuh jalan pintas. Terdorong oleh hasrat akan sebuah kepastian seketika, banyak manusia tidak berani bertahan dalam proses panjang. Dibelenggu oleh tekanan untuk serba cepat, banyak manusia memangkas tahap-tahap yang penting.


Tuhan memilih untuk bertindak lambat. Untuk waktu yang lama, manusia dibiarkan tidak melihat yang luar biasa yang masih tersembunyi. Risikonya, kita sudah menyerah di tengah jalan. Jika kita ingin melatih kembali kemampuan iman kita untuk bertahan, untuk membiarkan mata batin kita melihat apa yang sungguh berharga yang masih tersembunyi, mungkin kita perlu menumbuhkan kebiasaan baru. Kita perlu belajar bertanya: “Apa yang harus kulakukan agar aku tidak terjerat dalam perangkap ‘yang lebih cepat pasti lebih baik’?”

Memberi Ruang bagi Prinsip yang Lain

Bersama Tuhan, kita perlu merombak secara revolusioner sikap kita dalam hidup beriman, dalam perjalanan bersama Tuhan. Dalam melangkah bersama Tuhan, harus ada ruang bagi prinsip slower is better, lebih lambat lebih baik.


Namun demikian, sebuah peringatan harus kita perhatikan. Ini bukanlah sebuah pembenaran untuk bermalas-malasan, untuk tidak membuat rencana kerja, untuk menunda-nunda banyak hal. Ini adalah sebuah keputusan untuk bekerja keras bersama Tuhan, yang selalu punya cara untuk membentuk hati kita juga dalam proses panjang melalui banyak hal yang terlihat biasa.


Pesta Kelahiran Maria menggemakan undangan ini: beranikah kamu ambil risiko menempuh jalan lambat yang terlihat sangat biasa bersama Tuhan?


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply