Benih Firman

Ayat bacaan: 1 Petrus 1:23
=====================
“Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.”

benih

“Ah buat apa membaca Alkitab? Membosankan. Sekali seminggu dengar dari pendeta itu sudah lebih dari cukup..” kata teman saya pada suatu kali sambil tertawa. Menurutnya waktunya sudah banyak tersita untuk pekerjaan, belum lagi untuk keluarga dan teman-teman, sehingga di malam hari ia biasanya merasa lelah. Lucunya waktu untuk menonton film seri kegemarannya dan membaca majalah/surat kabar dianggap tidak membuang waktu. Justru Alkitab yang ia katakan sebagai sesuatu yang membosankan dan buang-buang waktu. Apa yang ia katakan sebenarnya pernah saya lakukan pula ketika saya baru bertobat. Saya tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, tidak seharipun terlewatkan tanpa bersama Firman Tuhan. Dalam perjalanan ke luar kota pun saya sering menggunakan waktu untuk itu. Kerinduan untuk terus lebih dalam lagi membaca segala sesuatu yang diilhamkan Tuhan, menemukan janjiNya, menemukan peringatanNya, menemukan berbagai solusi yang sangat bermanfaat dalam menghadapi segala sesuatu. Semua itu membuat saya terus merasakan rasa haus untuk terus menggali Firman-Firman Tuhan yang tercatat di dalam Alkitab. Ayat yang sama bisa memberi jawaban, peringatan atau nasihat bahkan implikasi yang berbeda. Saya merasakan betapa Tuhan setiap hari ingin berbicara kepada kita, dan salah satunya tentu lewat Firman-FirmanNya yang tertera di dalam Alkitab.

Firman Tuhan dengan tegas menyatakan betapa pentingnya bagi kita untuk menanam benih Firman Tuhan di dalam diri kita. Firman itu bagaikan benih yang ditanam di dalam diri kita, yang pada suatu ketika akan menghasilkan buah yang berlipat ganda banyaknya, bahkan lebih dari yang sanggup kita pikirkan. Itu yang saya katakan kepada teman saya di atas, dan ia menanggapinya dengan, “Benih? Benih apaan?” Ya, benih. Itu sebuah kata yang sangat baik untuk dipakai dan Alkitab pun menyatakannya demikian juga. Tidak akan ada yang tumbuh tanpa adanya benih bukan? Nothing will grow without the seeds. Mari kita ambil sebuah analogi yang sederhana.

Istri saya sering mencoba menumbuhkan tanaman mulai dari biji atau benih. Saya suka menontonnya meletakkan benih-benih itu di dalam tanah, rajin menyiram dan memeriksanya. Betapa gembiranya ia ketika beberapa dari benih itu kemudian menumbuhkan tunas. Ia semakin gembira ketika tunas itu mulai semakin tinggi dan memunculkan daun. Sebuah bunga matahari yang indah tampil setelah sekian bulan lewat ketekunannya merawat sejak awal. Sulitkah bagi kita untuk mempercayai bahwa dari sebuah benih kecil ternyata bunga matahari bisa tumbuh? Atau dalam hal tanaman yang jauh lebih besar seperti pohon mangga misalnya, sulitkah bagi kita untuk percaya bahwa dari biji kecil nantinya sebuah pohon mangga yang jauh lebih besar dari biji itu sendiri akan tumbuh, dan bisa berbuah lebat? Saya rasa itu tidak sulit untuk kita percaya. Itu sangat logis dan bisa diterima akal secara sangat sederhana. Bermula dari benih, jika terus berada dalam lingkungan yang tepat, terus disiram, dipupuk dan dirawat, maka nantinya benih akan menjelma menjadi tanaman subur yang besar dengan hasil yang berlipat-lipat kali banyaknya. Seperti itu pula Firman Tuhan yang kita tabur dalam diri kita. Jika tidak kita tabur maka tidak akan ada yang tumbuh dan tidak akan ada yang kita tuai.

Seperti halnya benih tanaman, seperti itu pulalah firman Tuhan bekerja. Ada kuasa mukjizat di dalamnya. Ada banyak berkat dan janji Tuhan yang siap bertumbuh subur berlipat-lipat lewat benih Firman yang mulai kita tanam dari sekarang. Petrus bahkan berkata: “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” (1 Petrus 1:23). Ia dengan jelas mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali bukanlah dengan sembarang benih, tapi dari benih yang kekal, yaitu dari firman Tuhan. Selanjutnya dikatakan: “Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.” (ay 24-25). Apa yang ia sampaikan mengacu kepada kitab Yesaya 40:7-8. Firman yang kita tanam saat ini mungkin belum terlihat sebagai sesuatu yang nyata, tetapi benih itu akan terus bertumbuh dan berbuah jika kita menjaganya dengan baik dalam diri kita. Firman Allah itu hidup dan berkuasa, juga kekal sifatnya.

Yesus sendiri menggambarkan perihal ini dalam Perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13:1-23. Benih itu akan mampu hidup jika jatuh di tanah yang baik, bukan di pinggir jalan (ay 4), di tanah berbatu-batu (ay 5-6) atau semak duri (ay 7). “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 8). Perumpamaan ini mengarah pada kesimpulan seperti ini: “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 23). Firman itu jelas adalah benih, yang hidup, berkuasa dan kekal. Masalahnya adalah apakah kita mau mulai menanam benih itu, dan kemana benih itu akan mendarat. Jika tidak ada yang ditanam tentu tidak akan ada yang tumbuh. Dan jika benih itu kita taburkan di tempat yang baik, maka jelas benih itu akan mampu menghasilkan buah berlipat ganda. Semua tergantung bagaimana keputusan kita. Satu hal yang pasti, Tuhan Yesus mengatakan: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Bukan hanya bekerja keras, bersosialisasi dan sebagainya yang penting, tetapi lebih daripada semua itu kita harus sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa adanya firman yang keluar dari Allah sendiri.

Ketika kita membaca firman dan merenungkannya, kita bukan hanya sekedar membaca saja, melainkan kita seperti sedang menanam benih-benih. Benih perlindungan, benih keselamatan, benih kemakmuran, benih kesehatan, benih kemenangan dan sebagainya dalam kehidupan kita, semua itu siap untuk berbuah berlipat kali ganda jika kita mulai menaburnya di tanah yang baik. Semua benih itu siap untuk menjadi berkat dalam segala segi kehidupan kita. Berhentilah menganggap bahwa Alkitab sebagai sebuah buku biasa. Alkitab itu bukan buku. Itu adalah sebuah benih rohani yang mengandung kuasa luar biasa yang mampu menghasilkan panen seumur hidup. Karena itu marilah kita mulai membaca janji-janji Tuhan hari ini. Mulailah menanam, dan bersiaplah untuk memetik buahnya kelak secara berkelimpahan.

Tanpa benih tidak ada yang tumbuh, tanpa menanam tidak akan ada yang dituai

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply